Bramastyo Wiyogo
Bramastyo Wiyogo Freelancer

Jember, 10 Februari 1991 | Freelancer | Penikmat karya seni | Pencari kebenaran |Salah satu generasi cinta damai

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Diorama Cinta di Ujung Senja (I)

15 September 2018   08:02 Diperbarui: 15 September 2018   09:23 289 2 0

Nampaknya hari ini susana kantin kampus tak seramai biasanya. Jajaran kursi yang biasanya penuh kini hanya terisi oleh tak lebih dari sepuluh mahasiswa saja. Udara terasa panas, juga dingin. Segelas es jeruk dan semangkuk bakso yang ada di hadapanku tak lagi menjadi fokus utama. Seseorang tiba-tiba membuat dunia serasa terhenti. Dia, perhatianku sejenak teralihkan oleh keberadaannya. Tidak, keberadaannya memang sengaja aku tunggu. Seperti hari-hari sebelumnya.

Segelas es itu kini tak lagi dingin, semangkuk bakso itu kini juga tak lagi panas. Hanya kuamati gerak-geriknya. Kunikmati tiap senyum yang terlontar darinya, meski senyum itu tak tertuju padaku. Kukagumi kecantikannya. Tak henti-henti aku mencuri kesempatan hanya untuk mengaguminya.

Rambutnya hitam, tergerai lurus indah, diterpa sepoi angin semakin menambah keindahannya. Dari wajahnya tersirat rona cerah, cantik melebihi siapapun juga. Putih kulitnya memancar di keseluruhan. Tubuhnya tinggi, seksi, dengan siluet yang begitu menggiurkan bagi pria mana saja yang melihat. Kemeja yang dia gunakan sangat simple, dibalut jaket tipis sebagai penghiasnya. Dia mengenakan celana jeans agak ketat. Terlihat sangat remaja sekali, seperti mahasiswi kebanyakan. Ditambah perangainya yang anggun lembut mempesona. Sungguh kesempurnaan yang tiada tara. Ciptaan Tuhan kali ini sungguh membuatku terperangah.

Bersama kedua temannya, dia masih duduk bersenda gurau. Wajahnya mulai sedikit serius ketika dia mengeluarkan buku tebal dari tas kulit berwarna hitam miliknya. Tampak tulisan tebal di cover buku itu yang bisa aku baca dengan jarak pandangku, Numeric Methods. Itu bukan buku sastra, novel, ataupun roman, bukan juga kumpulan cerpen melainkan sebuah buku tebal yang sudah pasti berisi kumpulan angka-angka dan rumus-rumus matematika. Dia memang mahasiswa jurusan pendidikan Matematika. Dibukanya buku itu menuju tengah halaman. Caranya memperlakukan buku sangat lembut, seakan buku itu bagian dari tubuhnya sendiri.

Di saat serius pun, dia masih terlihat sangat cantik. Baru kali ini dia menampakkan raut wajah seperti itu. Hingga dia beranjak pergi tergesa dari tempatnya. Pasti ujian kali ini sedikit menyulitkan, hingga membuatnya tergesa. Dengan waktu yang singkat itu, aku merasa sudah cukup puas. Sepuluh menit yang mendebarkan. Sepuluh menit yang bisa membuatku semakin mengaguminya.

Aku juga bergegas berlari menuju ruang kelas, aku baru sadar jika lima menit lagi ada jadwal ujian. Pasti ruang kelas telah penuh sesak oleh mahasiswa yang kemungkinan sudah siap duduk mempersiapkan segala strategi meghadapi ujian sejak setengah jam yang lalu, bahkan lebih dari setengah jam yang lalu. Dan tebakanku tak meleset sama sekali, tak ada bangku kosong yang tersisa, memaksaku mencari bangku di kelas sebelah. Jangan sekali-kali datang terlambat saat ujian jika kamu tidak ingin kehabisan tempat ataupun duduk di jajaran bangku terdepan. Aku menggumam dalam hati. Mengutuk kebiasaan primitif mahasiswa yang bisa-bisanya masih diterapkan di zaman modern seperti ini.

Ujung-ujungnya aku duduk di deretan depan juga. Seperempat jam ujian berlangsung, aku masih terdiam. Memperhatikan lembar jawaban yang tak tahu harus terisi apa. Posisi duduk saat ujian ternyata juga menentukan prestasi. Kulihat sekeliling, bukan hanya aku saja yang nampak kebingungan. Polosnya raut kebingungan tampak dari wajah mahasiswa lain terlihat saat aku menoleh sekeliling.

Dari sekian banyak pertemuan mata kuliah, kebanyakan nilainya sangat ditentukan oleh ujian seperti ini. Seperti saat sekolah berseragam dulu, kelulusannya hanya ditentukan oleh ujian akhir. Buat apa bertahun-tahun sekolah kalau tolak ukur kelulusannya hanya ditentukan oleh sebuah ujian yang hanya berlangsung beberapa hari dan dapat dicurangi? Begitulah kebanyakan orang berpikir, tapi itu hanyalah pikiran orang-orang yang tidak yakin pada kemampuan yang mereka miliki. Mereka tidak sadar bahwa saat sekolah, mereka mendapatkan banyak ilmu yang sangat berharga. Kalaupun mereka bersekolah dengan sungguh-sungguh, bagaimanapun juga bentuk tolak ukur kelulusannya pasti tidak akan membuat mereka kesulitan. Karena mereka pasti sudah siap menghadapi ujian kelulusan dengan model apa saja berbekal ilmu yang telah mereka dapatkan setelah bersekolah bertahun-tahun.

Begitu pula aku yang juga termasuk dalam orang-orang yang tidak setuju dengan tolak ukur kelulusan yang berbentuk ujian akhir seperti itu. Orang-orang seperti aku yang memiliki tipe cara belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) pasti tidak suka dengan tolak ukur kelulusan yang dinilai melalui ujian akhir. Apalagi mereka yang rajin belajar setiap hari, pastinya sangat menentang keras sistem ini. Satu-satunya komunitas yang menikmati sistem seperti ini adalah komunitas orang-orang yang tidak pernah belajar dan selalu bergantung pada teman yang pandai untuk mendapatkan contekan. Biasanya komunitas seperti ini memiliki banyak jurus-jurus ampuh dalam menghadapi ujian, dan hasilnya juga sangat memuaskan. Tak jarang mereka mendapatkan nilai bagus melebihi nilai orang-orang yang setiap harinya rajin belajar. Aku menjuluki komunitas itu sebagai komunitas 'orang yang beruntung'.

Satu jam sudah ujian ini berjalan, lembar jawabanku tak lagi putih bersih. Goresan-goresan tinta memenuhi hampir satu halaman penuh kertas folio bergaris itu. Kukumpulkan jawaban bersama soal yang kuselipkan didalamnya pada petugas penjaga ujian. Sekeluarnya dari ruang kelas, serasa tahanan yang baru bebas dari penjara aku menghela udara segar dalam-dalam. Kulirik teman-teman di dalam masih berkutat dengan pekerjaannya. Mereka tak akan keluar kelas sebelum yakin telah mengisi semua jawaban dengan benar. Kecuali mereka yang tak terlalu menganggap serius perkuliahan, seperti aku, dan juga beberapa orang yang menyusulku keluar kelas. Mereka adalah sahabat-sahabatku. Kumpulan komunitas 'manusia apa adanya'. Aku yakin pasti lembar jawaban mereka diisi dengan apa adanya dan sekenanya. Tak jauh beda dengan lembar jawabanku.

"Mad...Mad...kamu tu dateng telat tapi keluar duluan," kata salah satu sahabatku seraya menepuk pundakku.

Namaku Arga Kurniawan, bukan Somad, Ahmad, Jimad, atau siapa saja yang ada unsur "Mad" di dalam namanya. Di komunitasku, dikampusku, lebih tepatnya di kotaku, tidak, bahkan mungkin di kota selain kotaku juga sudah menjamur panggilan "Mad". Panggilan itu ditujukan bukan hanya untuk kaum lelaki, wanita pun kerap kali mendapat panggilan "Mad". Ya, semacam panggilan akrab untuk kawan lah.

"Hahaha, ngapain emangnya lama-lama di kelas. Toh hasilnya juga bakal sama aja," ucapku pada sahabatku.

"Ke kantin yuk." Dan tanpa banyak argumen, opini, serta jajak pendapat kami semua berjalan menuju kantin. Aku berjalan paling belakang. Melihat sekeliling mencari-cari pemandangan yang mungkin bisa membuat duniaku terhenti sejenak. Siapa lagi yang aku cari jika bukan melainkan dia. Dia yang masih tak dapat kuketahui namanya. Bukan maksud hati untuk tak ingin mengenalnya, tapi aku memang sengaja ingin mengagumi secara membuta. Mengagumi tanpa tahu identitas orang yang aku kagumi. Hal seperti itu kadang lebih meremajakan cara pandangku.

Jika kuingat sebulan yang lalu, aku baru memperhatikannya saat pertama kali dia menarik perhatianku. Saat pertama kali mendatangi kantin kampus yang sebelumnya tak pernah aku datangi. Jika bukan karena kelaparan pada saat itu, aku tak akan pernah datang ke kampus setiap hari seperti yang aku lakukan selama sebulan terakhir ini. Kehadirannya menggugah naluriku untuk mengagumi seseorang. Dia duduk di kursi kantin, sama seperti pemandangan yang aku lihat saat ini. Ini bukan flashback lagi. Dia memang sedang duduk di kursi itu.

Kali ini rambutnya tak lagi tergerai bebas, tapi terikat rapi, memperlihatkan keindahan leher yang dia miliki. Cantik. Membuatku tak bisa berkata lagi. Sepertinya ujiannya memang begitu menyulitkannya, atau suasana kelas yang gerah hingga membuatnya mengikat rambut yang biasanya dibiarkan tergerai panjang.

(*)

Hampir tengah malam, pikiranku meracau teringat sosok yang selalu menghantui, sosok yang membuat duniaku berhenti sejenak. Kacau. Juga senang. Lama sekali aku tak pernah merasakan perasaan liar seperti ini. Rasa mengagumi secara membuta. Sungguh meremajakan pikiranku.

Kuambil selembar kertas HVS putih 80 gram yang tergeletak di meja. Tak lupa juga pena hitam yang terletak di sebelahnya. Kutuang semua resah pikiran yang ada. Goresan demi goresan ku ukir diatas selembar kertas itu.

    Untuk dia yang membuat duniaku berhenti sejenak
    Untuk dia yang menggetarkan tiap denyut nadiku tersentak
    Untuk dia yang mendiamkanku tak kunjung beranjak
    Untuk dia yang memaksa hatiku berpijak

    Sekuntum mawar pun malu jika bersanding denganmu
    Tertunduk atas kecantikanmu yang melebihinya
    Sang dewa cinta pun akan bertekuk lutut di hadapmu
    Berharap kau menemani kesepiannya di nirwana

    Membuta aku mengagumi tiap detil kesempurnaanmu
    Meracau aku terhantui bayang dirimu
    Biar kusimpan gelisah ini hingga bertemu
    Memujamu tak akan membebani langkahku

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2