Bramastyo Wiyogo
Bramastyo Wiyogo Freelancer

Jember, 10 Februari 1991 | Freelancer | Penikmat karya seni | Pencari kebenaran |Salah satu generasi cinta damai

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sepenggal Menguak "Teatrikal Kehidupan"

15 September 2018   06:22 Diperbarui: 15 September 2018   08:29 150 0 0

"Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah"

Itulah sepenggal lirik dari lagu Panggung Sandiwara yang pernah dinyanyikan oleh Ahmad Albar serta Nicky Astria. Jika kita mendalami secara gamblang keseluruhan dari lirik lagu tersebut, mungkin akan tersirat di benak kita bahwa dalam kehidupan ini memang nyata dipenuhi oleh peranan masing-masing manusia.

Berbicara tentang kehidupan memang tak akan ada ujungnya, semua bisa terjadi dalam kehidupan ini. Kehidupan telah memberi pelajaran yang sangat berharga pada kita, termasuk aku. Pelajaran yang mengajari aku untuk berpikir secara terbuka akan makna kehidupan yang sebenarnya. Kadang kalian berpikir bahwa hidup itu sudah ada alurnya sendiri, sudah ada yang mengatur. Padahal itu tidak bisa dibenarkan secara sepihak, karena menurutku, hidup itu kita lah yang membuat alur, kita lah yang mengatur.

Banyak orang yang bahkan tidak mengerti bagaimana seharusnya dia berperan dalam kehidupan ini. Merekalah orang yang berperan datar, flat, jika diibaratkan sebuah lagu, maka merekalah lagu yang tidak memiliki dinamika. Hidup tanpa jati diri, ya, seringkali aku jumpai orang yang memiliki kehidupan seperti itu. Termasuk beberapa dari teman dekatku.

Itulah guna mencari jati diri dalam kehidupan. Biasanya masa itu terjadi saat seorang remaja mulai mengalami masa transisi menuju dewasa. Dewasa bukan sekedar dalam artian usia, namun lebih mengarah ke cara berpikir, berperilaku, bertindak, dan bersikap.

Pernahkah kalian berpikir bahwa teman kita adalah juga musuh kita? Wajar dan sah saja jika kalian pernah berpikir seperti itu. Karena hidup ini bagaikan sebuah drama, teater, dan sandiwara. Dengan kata lain, selalu identik dengan kebohongan.

Orang dengan hati baik kadang harus membohongi dirinya sendiri, menghianati hatinya sendiri agar menjadi seorang yang tidak baik. Pelacur misalnya, mana ada seorang wanita yang memiliki cita-cita sebagai pelacur? Jika bukan karena tuntutan dan keadaan yang mendesak, mereka tidak akan mau melakukan pekerjaan yang hina di mata masyarakat. Mereka terpaksa membohongi dirinya sendiri dengan menjadi jati diri yang lain. Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit orang yang berhati jelek berpura-pura menjadi seorang yang baik di mata orang lain. Tak usah aku berikan contoh pun kalian sudah pasti mengerti dengan sendirinya.

Bagaimana seharusnya kita berperan dalam kehidupan kita? Jawabannya ada dalam hati dan diri kita masing-masing. Tak ada seorang pun yang berhak menjadi sutradara bahkan penulis skenario dalam kehidupan kita. Kita sendiri yang menjadi sutradara, penulis skenario, dan kita pula yang memainkan peran.