Lastboy Tahara S
Lastboy Tahara S Profesional

Suka dunia radio dan public relations. Sesekali menulis tentang kuliner dan wisata di www.lastboytahara.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama

Mengenal Mesin Sensor Internet Indonesia

7 Desember 2017   12:05 Diperbarui: 7 Desember 2017   19:33 1004 3 2
Mengenal Mesin Sensor Internet Indonesia
Ilustrasi: Pixabay/Geralt

Tahun depan mesin sensor internet Indonesia akan mulai beroperasi, tepatnya pada Januari 2018. Mesin ini berfungsi untuk menyaringdan memberantas konten negatif di internet. Adapun jenis konten negatif yang akan disaring merujuk pada Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 perubahan atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), khususnya dasar hukumnya di Pasal 2 dan Pasal 40 ayat (2). Cara kerja mesin sensor internet memberantas konten negatif menggunakan sistem crawling, yaitu dengan menganalisis secara otomatis konten yang sesuai dengan kriteria konten negatif yang ditetapkan. 

Saat dilakukan uji coba pada November 2017 lalu, mesin ini diklaim dapat melakukan crawling 10 kali lebih cepat dalam mendeteksi konten negatif. Tahun depan, fokus utama kerja mesin sensor internet Indonesia adalah memberantas pornografi, hal ini karena pornografi merupakan konten negatif yang paling banyak dilaporkan masyarakat ke Kementarian Informasi dan Informatika (Kominfo). Dengan mesin sensor, Kominfo memasang target 30 juta konten pornografi bisa langsung dihapus dari internet Indonesia.

Penggunaan sistem crawling pada mesin sensor juga tampaknya dapat bekerja lebih cepat dan dapat memberantas konten negatif lebih banyak di internet. Terlebih lagi dengan tambahan kecerdasan buatan atau Artifical Intelligence, cara kerja mesin sensor internet akan serba otomatis. Hal ini sangat berbeda dengan pendeteksian konten negatif terdahulu yang diproses secara manual dengan sistem ticketing melalui situs Trust Positif.

Cara kerja mesin sensor internet Indonesia (Grafis: CNN Indonesia)
Cara kerja mesin sensor internet Indonesia (Grafis: CNN Indonesia)

Meski memiliki tujuan positif untuk memberantas konten negatif dan meningkatkan keefektifan kerja Kominfo, pengadaan mesin sensor internet ini tidak pernah lepas dari kritik masyarakat. Misalnya masalah privasi pengguna internet terhadap data yang dikumpulkan oleh mesin sensor internet yang masih belum menemukan titik terang. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) menilai penggunaan mesin crawling belum transparan. Masyarakat masih belum mengetahui sampai batas mana data yang bisa dikumpulkan dan dirahasiakan oleh siapa dan bagaimana cara pengumpulannya.

Kemudian dari segi biaya, nominal pengadaan mesin sensor internet sebesar Rp 194 Miliar menurut sebagian masyakarakat masih terlalu mahal dan akan sia-sia. Sebab pemberantasan konten negatif tidak akan pernah habis dan masyarakat masih bisa menggunakan koneksi Virtual Private Network (VPN) untuk mengakses situs yang diblokir. Di dunia maya dapat ditemukan berbagai jenis layanan VPN, mulai dari yang dapat diakses secara gratis dan berbayar. VPN berbayar pada umumnya memiliki fitur yang lebih beragam, misalnya dari segi kecepatan akses internet, daftar akses Negara yang beragam, keamanan privasi, dan yang lainnya.

Tapi lagi-lagi, penggunaan VPN bukanlah satu-satunya cara paling aman untuk mengakses situs yang diblokir pemerintah. Justru, bisa saja akses VPN lah yang kelak juga akan ikut diblokir. Contoh negara yang akan menerapkan pemblokiran akses VPN adalah China, yaitu pada 1 Februari 2018. Hal ini karena masyarakat yang bermukim di China kerap menggunakan VPN untuk mengakses internet tanpa sensor. Untuk lebih memperketat penggunaan akses internet yang dianggap ilegal, pemerintah China akan meminta operator seluler mengeblok akses individual atas virtual private networks (VPN). Ada 3 operator seluler yang disasar untuk menutup akses VPN, yaitu China Mobile, China Unicom, dan China Telecom.

Berbeda dengan Indonesia yang fokus utamanya memblokir konten negatif, mesin sensor internet di China lebih ditujukan untuk kepentingan politik pemerintah. Seperti dikutip dari situs Deutsche Welle, sensor internet China memblokir konten yang dari awal telah berkecimpung dengan tema-tema yang tidak disukai pemerintah dengan menutup total. Di antaranya situs-situs dari organisasi-organisasi hak asasi manusia, pemerintahan Tibet atau juga situs porno.

Kemudian mereka juga menggunakan filter berdasarkan kata-kata kunci. Cara ini mirip dengan cara kerja mesin sensor internet Indonesia yang menggunakan sistem crawling. Membaca dan mencari konten yang mengandung teks yang dianggap terlarang. Hasil akhirnya situs yang mengandung konten negatif akan diblokir atau hanya mendapat peringatan untuk menghapus konten negatif yang dimaksud.

Bila dibandingkan dengan Indonesia, penggunaan sensor internet di China masih lebih ketat, bahkan mesin pencari populer Google juga turut diblokir. Meski berbeda dalam penggunaan mesin sensor internet, namun kedua negara memiliki persamaan, yaitu tidak ada 100% warga negaranya yang benar-benar terkena sensor internet. Selalu akan ada aksi dari masyarakat untuk menghindari sensor internet. Semakin ketat sensor internet, semakin cerdik pula masyarakat mengakali sistem tersebut.