Bintang Ach
Bintang Ach Mahasiswa

20th, Mahasiswa | Blogger Buku Indonesia | English Education @ Universitas Negeri Surabaya | www.ach-bookforum.blogspot.co.id

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Tik Tok Diblokir, Begini Tanggapan Seorang Mantan Penggunanya

6 Juli 2018   09:04 Diperbarui: 8 Juli 2018   15:36 735 2 1
Tik Tok Diblokir, Begini Tanggapan Seorang Mantan Penggunanya
Logo Tik Tok

Beberapa waktu lalu masyarakat kita sempat dihebohkan dengan kehadiran aplikasi yang cukup mengundang kontroversi. TikTok, sebuah aplikasi video musik yang menawarkan keasyikan dalam me-lypsinc-kan lirik lagu dengan diikuti gerakan atau goyangan ini seketika melejit di kalangan masyarakat. Dalam waktu yang cukup singkat, TikTok  seolah menjadi idola baru bagi para pengguna sosial media, terutamanya remaja. Muser---sebutan bagi para pengguna aplikasi ini---tidak hanya datang dari kalangan remaja saja. Namun mulai anak-anak bahkan sampai orang dewasa pun turut ketagihan memainkan aplikasi ini.

TikTok merupakan sebuah aplikasi buatan Tiongkok yang masuk ke Indonesia sekitar akhir tahun 2017 lalu. Tujuan awal diciptakannya aplikasi ini selain sebagai sarana hiburan, juga sebagai sarana berkreativitas bagi para pengguna sosial media dalam menciptakan video-video musik pendek yang menarik dan menghibur.

Namun, di balik tujuan itu, tidak sedikit dari para pengguna TikTok yang bisa dibilang, kelewat kreatif, sampai-sampai mereka tidak hanya memperlihatkan kebolehannya dalam me-lypsinc-kan sebuah lagu dan mengikuti gerakannya, tapi bahkan juga sampai mempertontonkan konten atau lebih tepatnya bagian dari tubuh mereka yang terbilang sensitif untuk dikonsumsi oleh banyak orang. Tak jarang pula video-video tersebut diikuti dengan beberapa goyangan yang dinilai tidak sesuai, kurang pantas, bahkan tidak senonoh.

Di samping itu, contoh lain dari bentuk 'kelewat kreatif' para Muser ini adalah menggunakan TikTok di waktu, tempat, dan dengan objek yang tidak seharusnya. Katakanlah, beberapa waktu lalu sempat viral video TikTok yang mengundang kontroversi seperti sekelompok ibu-ibu dengan menggunakan seragam PNS yang bergoyang asyik di saat jam kerja, atau saat sekelompok bidan menjadikan bayi baru lahir sebagai objek mereka dalam bermain TikTok. Meski niatnya tetap ingin menghibur dan tidak ada sedikit pun maksud buruk lainnya, tapi tetap saja, tindakan mereka tidak bisa dibenarkan karena dianggap merugikan banyak pihak/instansi tertentu, tanpa mereka sadari.

Kontroversi-kontroversi itulah yang akhirnya menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat. Hingga akhirnya mendorong munculnya banyak petisi yang menyatakan dan menginginkan aplikasi TikTok untuk dinonaktifkan atau diblokir. Hal tersebut sontak semakin menambah ketidakselasaran pendapat antara mereka yang pro dan kontra terhadap aplikasi TikTok.

Menanggapi berita terkait pemblokiran aplikasi sejuta umat oleh Kominfo ini, beberapa waktu lalu saya sempat melakukan sedikit tanya jawab dengan dua narasumber berbeda. Narasumber pertama yang saya hadirkan adalah Andreas, seorang Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa & Sastra Inggris, Unesa.

Mengapa mahasiswa?

Karena di sini saya berpikir, mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Mereka berhak menjadi sarana penyampaian aspirasi bagi masyarakat. Di samping itu, mahasiswa memiliki pemikiran yang cukup kritis dalam memandang satu masalah. Dengan itulah, saya harapkan mahasiswa, mewakili masyarakat, bisa menyampaikan pendapatnya secara netral, tanpa memihak dari sisi mana pun, dan memiliki visi/pandangan yang sama dengan masyarakat umum.

Narasumber kedua, Dela Rosita. Adalah seorang mantan pengguna aplikasi TikTok. Kenapa saya memilih dari kalangan pengguna TikTok? Karena tentu kita juga ingin tahu, bagaimana pendapat mereka mendengar berita tentang diblokirnya TikTok dan dampak bagi mereka seperti apa? Karena kita sebagai masyarakat umum mungkin tidak bisa menyimpulkan bagaimana mereka menyikapi kasus ini, maka dari itulah saya hadirkan langsung salah seorang pengguna TikTok untuk mengetahui semuanya.

Saat ditemui dalam satu kesempatan, Andreas menyatakan bahwa dirinya cukup senang karena aplikasi TikTok diblokir. "Ya, saya merasa senang TikTok diblokir. Karena memang kurang edukatif. Tapi kembali lagi ke tujuan awalnya, TikTok hanya untuk menghibur. Namun sayangnya, itu justru malah disalahgunakan."

Saat disinggung mengenai batasan-batasan dalam penggunaan TikTok, Andreas justru lebih menekankan tentang harus adanya batasan umur dalam mengoperasikan perangkat elektronik, "Sebenarnya yang salah bukan developer-nya, namun user-nya. Menurut saya, TikTok lebih cocok untuk orang de     wasa, bukan anak-anak. Tapi kadang, ketidakdewasaan orang dewasa inilah yang membuat mereka tidak mampu mengarahkan anak atau orang di bawah usia mereka saat menggunakan TikTok."

"Jadi, mungkin sebaiknya yang lebih pantas untuk menggunakan TikTok adalah mereka yang sudah berusia minimal 17 tahun, karena dianggap sudah bisa bertanggungjawab dengan aksinya."

Meski dinilai tidak sepenuhnya efektif, namun diharap diblokirnya aplikasi TikTok ini akan berdampak pada meningkatnya tingkat kesadaran orang tua terhadap anak-anaknya dalam menggunakan handphone. "Memblokir TikTok bukanlah solusi terbaik, tapi semoga itu bisa membuat mental orang dewasa lebih baik lagi dalam mengasuh anaknya" tutup Andreas saat ditemui di sela kesibukan organisasinya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Dela, salah seorang mantan pengguna TikTok. Dela cenderung bersikap santai dengan diblokirnya aplikasi yang pernah ia pakai tersebut. Tidak berbeda dari Andreas, Dela juga menyatakan bahwa semua kontroversi yang terjadi bukan karena salah aplikasinya, melainkan penggunanya.

"Sebenarnya sih yang salah bukan aplikasinya, tapi penggunanya yang seenaknya sendiri dalam menggunakan aplikasi ini. Sebagai contoh beberapa waktu lalu, kakeknya meninggal malah direkam pakai TikTok. Kan itu akhirnya membuat seolah aplikasi TikTok itu nggak benar."

Namun di satu sisi, Dela juga menyayangkan jika aplikasi TikTok benar diblokir. Karena memang cukup banyak juga aplikasi serupa di luar sana yang baik-baik saja. Hanya saja, kebetulan TikTok lah yang justru terkena getahnya. "Kalau saya sih enjoy aja pakai aplikasi TikTok, toh saya nganggapnya hanya untuk hiburan, tidak lebih. Kalau memang TikTok diblokir, kenapa aplikasi lain seperti Musically, dan Like tidak diblokir juga? Keduanya kan juga memiliki fungsi yang sama," ucap mantan pengguna TikTok tersebut.

Dari kedua narasumber tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa kesalahan tidak terletak pada aplikasinya, namun penggunanya. Sebagai orang yang hidup di era modern, jangan biarkan teknologi berkembang cerdas, sementara manusianya berangsur bodoh. Jangan mudah diperbodoh oleh teknologi. Tapi, bagaimana kamu memanfaatkan teknologi untuk sebuah hal yang bermanfaat, itulah cerdas.

Berita tentang diblokirnya TikTok menjadi satu dari sekian banyak contoh kasus yang sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan manusia agar berbenah diri. Kadang apa yang kita tampilkan di media sosial memang tidak seperti apa yang kita tampilkan di kehidupan nyata. Namun kita perlu tahu, baik kehidupan nyata atau kehidupan medsos sama-sama memiliki jangkauan yang luas. 

Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berhati-hati. Mata, mulut, dan telinga orang lain adalah hal pertama yang harus kita ingat sebelum bertindak. Ingat, hidup memang milik kita, tapi orang lain lah yang menilai.

Terkait benar atau tidaknya pemblokiran aplikasi TikTok ini patut dijadikan pelajaran penting. Meski Kominfo masih mempertimbangkan keputusan ini dengan memperhatikan batasan umur, tapi kita sebagai masyarakat juga harus selalu siaga dengan lengkah-langkah preventif lainnya agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2