Bonifasius Bulu
Bonifasius Bulu

seorang anak manusia yang sedang belajar menulis. menulis apa saja!

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Nilai-nilai Hidup dalam “Boenga Roemah Makan”

4 Desember 2013   15:23 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:19 73 0 0
Nilai-nilai Hidup dalam “Boenga Roemah Makan”
13861450891597354404

[caption id="attachment_306373" align="alignnone" width="339" caption="Sumber: dokumentasi Carlo Homba"][/caption] Bertempat di Auditorium  Lembaga Indonesia Perancis ( LIP)  Yogayakarta selasa (3/11/13) pukul 18.00 WIB. komunitas Bengkel Sastra Prodi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bekerja sama dengan rumah budaya Babaran Segaragunung mementaskan naskah Utuy Tatang Sontani berjudul “Boenga Roemah Makan”  dan disutradarai oleh A. Untung Basuki.

“Boenga Roemah Makan”  bercerita tentang Ani (Theresia Crisantini Wungo) seorang pelayan yang menjadi bunga Rumah Makan Sambara. Kecantikannya mempesona para pelanggan rumah makan, termasuk membuatnya terlibat dalam permasalahan dengan seorang pelancongan bernama Iskandar (Desmon Wahyu Sekarbatu), Karnaen (Yohanes Robinson Tahoni) anak pemilik rumah makan Sambara, dan Kapten Suherman( Marius Peng Mitang). Ani sesungguhnya mencintai kapten Suherman yang gagah tapi saying cinta kapten Suherman tidak tulus kepadanya. Di sisi lain Karnaen sangat mengidam-idamkan Ani untuk mengurus rumah tangga. Kyai Usman (Antonius Hendrianto) menginginkan agar Ani menikah dengan Karnaen agar rumah makan menjadi suci dan jauh dari gangguan-ganguan orang yang suka terhadap Ani. Sudarma (Drajat Harjoko Puspawilaga) pemilik Rumah Makan tidak ingin Ani menikah, baginya pesona Ani merupakan keuntungan.  Akhirnya, Ani memutuskan untuk memilih Iskandar—pemuda jujur dan merdeka, yang menuduh Ani Manusia yang terbelenggu oleh kecantikannya dan terbelenggu oleh Rumah makan Sambara— sebagai pasangan hidupnya dan menjadi manusia merdeka dan jujur dengan pergi dari rumah makan Sembara. Tinggallah Karnaen menyesali kesialannya karena tidak bias mendapatkan Ani.

“Boenga Rumah Makan” mengangkat cerita sederhana yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Latar cerita di sebuah rumah makan, dengan orang-orang datang dan pergi setiap hari, pemilik rumah makan yang selalu memikirkan keuntungan, dan pelayan yang cantik mempesona adalah potret keseharian yang selalu kita jumpai. Namun, dari situlah nilai hidup dapat kita temui dan kita renungkan bersama-sama. Permasalahannya dengan Iskandar, Karnaen, dan Kapten Suherman bagi Ani adalah pergulatan hidup untuk menemukan prinsip hidup. Apakah ia akan mengikuti Karnaen yang mengidamkannya mengurus rumah tangga, yang pada akhirnya membuatnya semakin terkungkung dan terbelenggu. “ Saya selalu gementar kalau bicara masalah rumah tangga,” ujar Ani. Atau apakah Ia akan mengikuti Kapten Suherman yang tidak tulus mencintainya dan hidup dalam kepalsuan cinta? Ataukah ia tetap tinggal di rumah makan Sambara menjadi pelayan yang mempesona,  namun tidak disayang pemilik rumah makan Sudarma yang hanya memanfaatkan kecantikannya untuk menarik pelanggan? Pada akhirnya Ani lebih memilih Iskandar, pemuda jujur dan merdeka menjadi pendampingnya. Ia pergi dari rumah makan Sambara menjadi manusia yang jujur dan merdeka. “iya, memang aku yang sial,” kata Karnaen. Sial karena tidak mampu berkata jujur pada Ani.

Banyak pesan yang dapat kita ambil dari cerita ini. Pesan kesetaraan gender, Bahwa seorang perempuan tidak hanya punya tugas mengurus rumah tangga saja, mereka juga adalah manusia merdeka. Mereka bukan alat yang dimanfaatkan untuk meraup keuntungan seperti Sudarma pemilik rumah makan sebagai symbol kapitalis memanfaatkan Ani untuk mendapatkan keuntungan. Ia sama sekali tidak memperhatikan kehidupan Ani dan pergolakan hidup yang dihadapi oleh Ani. Berlaku jujur kepada diri sendiri dan kepada sesama. Tidak seperti Kapten Suherman, Karnaen atau Sudarma yang tidak bersikap jujur.  Menjadi manusia merdeka yang bebas dari belenggu kekurangan atau kelebihan kita sendiri, yang takut melangkah bebas karena segala kemungkinan-kemungkinan buruk yang kita perhitungkan dan lebih memilih berada di sona nyaman namun terbelenggu. Sudahkah kita jujur dan menjadi manusia merdeka dalam hidup yang kadang penuh kepalsuan?

Yogyakarta  4 desember 2013