Mohon tunggu...
Bonifasius AdiSuryanto
Bonifasius AdiSuryanto Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar

Sekarang menjadi seminaris di Seminari Menengah St. Canisius Mertoyudan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

"Perdamaian Dunia" Pada Masa Kini

13 September 2022   16:00 Diperbarui: 13 September 2022   16:03 125 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Tanggal 21 Septermber, setiap tahunnya, dunia internasional memperingati hari Perdamaian Internasional. Hari Perdamaian Internasional atau Hari Perdamaian Dunia (tidak baku) diadakan pertama-tama dengan tujuan yang sesuai dengan namanya yaitu untuk mencegah peperangan dan menciptakan perdamaian internasional. Seluruh dunia kemiliteran wajib menghentikan segala peperangan dan melakukan gencatan senjata pada hari Perdamaian Internasional. Hari Perdamaian Internasional pertama kali diadakan pada tahun 1982 dan dipertahankan hingga saat ini.

Meskipun pada abad ini dunia lebih damai dari pada abad sebelumnya, tidak menutup kemungkinan masih terjadinya peperangan antar negara ataupun kelompok. Terbukti masih ada konflik antarnegara yang masih terjadi. Misalnya untuk konflik antarnegara bisa kita lihat pada hubungan Tiongkok dengan Taiwan serta pada hubungan Rusia dengan negara-negara NATO. Awal tahun ini Rusia melakukan serangan terhadap negara Ukraina karena Rusia meyakini adanya rencana pembangunan pangkalan militer AS di Ukraina.

Selain konflik antarnegara, kita harus menyadari adanya konflik antarkelompok di dalam suatu negara. Contohnya ada pada konflik di Afghanistan yaitu pemberontakan Taliban terhadap pemerintahan yang ada. Selain itu, di luar konteks politik juga masih didapati berbagai konflik seperti rasisme dan tawuran antarkelompok. Selain konflk dalam dunia nyata, konflik juga banyak terjadi di dunia maya yaitu dalam sosial media elektronik.

Sosial media (sosmed) tidak hanya mencangkup Facebook, Instagram (atau ig), Twitter, atau sosmed serupa lainya, tetapi juga mencangkup permainan video daring atau game online yang memberikan fitur berinteraksi dengan pemain lain. Dalam sosmed seperti Facebook dan sosmed serupa laiinya sering muncul ujaran-ujaran kebencian terhadap kalangan tertentu yang menyebabkan munculnya konflik dalam sosial media tersebut. Kalam konflik sosmed tersebut sering disebabkan karena kurangnya pengetahuan terhadap apa yang sedang diperdebatkan, contohnya pada perdebatan mengenai pemahaman agama tertentu. Selain konflik, sering juga terjadi perundungan online atau cyberbullying.

Kita perlu sadar ternyata konflik-konflik yang terjadi di dalam dunia maya bisa berakibat buruk dalam dunia nyata. Ada yang akhirnya membawa konflik dalam dunia maya ke dalam dunia nyata. Ada yang sebatas merusak HP pribadinya, ada yang sampai membunuh orang lain ataupun bunuh diri. Kebijaksanaan dalam penggunaan sosial media sangatlah perlu kita miliki.

Sosial media yang awalnya ditujukan agar bisa mempermudah berkomunikasi dengan orang lain yang berada di tempat yang jauh, malah sering disalah gunakan untuk hal-hal yang salah. Penyebaran ujaran kebencian, penyebaran berita palsu atau hoax. Kita harus bisa memilah mana informasi yang benar dan mana informasi yang palsu. Mungkin tanpa sadar kita sendiri yang menjadi penyebar informasi palsu tersebut. Sering didapati dalam grup orangtua ataupun guru, terkirim informasi-informasi palsu yang sering menyebabkan kepanikan.

Selain dalam sosial media seperti Facebook, kita perlu melihat juga bahwa dalam game online juga sering terjadi konflik antarpemain. Konflik di sini bukan berarti tim a melawan tim b yang merupakan inti dari gamenya, tetapi lebih kepada kebencian yang muncul di dalamnya. Sering kali saya menemukan pemain yang mengucapkan ujaran kebencian terhadap kaum tertentu, merundung seorang pemain yang tidak pandai bermain, dan mengejek satu dengan yang lainnya.

Dalam permainan Mobile Legends misalnya. Sering kali ucapan tidak pantas muncul dalam fitur obrolan. Ungkapan Ya team sering muncul ketika ada pemain yang melakukan kesalahan. Kata ya team ini jika di baca maka akan didapat kata yatim. Ungkapan itu bisa sangat melukai pemain yang memang sudah tidak memiliki ayah lagi. Ungkapan lain seperti kata goblok, tolol, dll juga sering muncul ketika ada yang melakukan kesalahan atau hanya karena timnya dikalahkan oleh tim yang lebih hebat. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini bisa tanpa disadari memberi dampak buruk terhadap kehidupan kita sehari-hari. Kita bisa saja menjadi orang yang mudah marah dan melampiaskan emosi dengan seenaknya. Terutama jika seseorang sedang mengalami yang namanya loss streak, orang tersebut akan lebih mudah emosi dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Perlu ditegaskan bahwa perdamaian internasional bukan hanya mencangkup ranah politik dan militer, melainkan juga mencangkup kehidupan sehari-hari kita. Kita perlu membiasakan untuk berelasi baik dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, yang berinteraksi dengan kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena konflik kecil yang terjadi bisa saja membesar menjadi konflik besar. Contohnya pada Perang Dunia I, kita tahu bahwa awal terjadinya PD I adalah pembunuhan seorang pangeran Austria, namun dampaknya sangat besar dan dirasakan hingga seluruh dunia.

Dalam media sosial, terutama dalam game online kita sering menemukan orang yang selalu memicu sebuah konflik. Untuk menghadapinya, cara yang paling mudah adalah dengan tidak ikut dalam obrolan mereka. Namun jika konflik ini terjadi dalam game yang sedang kalian mainkan, kita harus bisa memotivasi teman kita yang sedang bad mood karena perundungan itu dan meminta yang merundung untuk berhenti. Pernah sekali peristiwa ketika saya sedang bermain sebuah game yang berjudul Dota 2, seorang dari tim saya tanpa sengaja melakukan kesalahan. Lalu, pemain lain malah mengejek dan menyalahkan dia sehingga orang ini menjadi murung dan bermain tidak baik dengan sengaja. Saya mencoba memotivasi dia. Hal yang saya katakan atau ketik adalah “Why are you playing alone?" (saya lupa kalimat yang lebih tepatnya tetapi kurang lebih seperti itu, dan juga saya tidak memperhatikan ‘grammar’ saat itu). Dia memberitahu bahwa dia tidak ingin bermain dengan 4 orang lainnya (karena Dota merupakan permainan lima lawan lima). Lalu saya hanya membalas “Okay”. Dan saya membiarkan dia bermain sendiri dan tidak mengganggunya. Lalu ketika permainan sudah berjalan cukup lama dan posisi tim saya sedang terbelakang, tiba-tiba orang ini bermain dengan serius dan akhirnya tim saya mendapatkan kemenangan. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa untuk menjaga perdamaian, kita harus bisa mengontrol diri sendiri dan juga bisa memengaruhi orang lain dengan motivasi.

Dalam hari Perdamaian Internasional yang akan datang, tema yang dipakai adalah “End racism. Build peace.” yang artinya“Akhiri rasisme. Bangun perdamaian.” semoga dengan perayaan ini, kita bisa menjadi lebih menyadari pentingnya perdamaian dan juga semoga kita bisa terlibat dalam upaya mengurangi rasisme di dunia ini sehingga perdamaian internasional dapat benar-benar terwujud dalam kehidupan kita.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan