Mohon tunggu...
bonekpalsu
bonekpalsu Mohon Tunggu...

Bonek palsu yg bejo

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ahok, Game is Over! NKRI Bisa Kuat Karena Muslim RI Bersatu

11 November 2016   02:04 Diperbarui: 28 Desember 2016   22:52 3900 9 53 Mohon Tunggu...

Di tulisan ku sebelumnya, aku mempertanyakan Damage Control dari Ahok (dan timsesnya) untuk meminimalisir kerusakan yang sudah terlanjur terjadi. Sayang polisi lambat be-reaksi (setelah demo I), ditambah dengan lambat dan tidak tulusnya Ahok yang akhirnya (terpaksa) minta maaf.  Juga tidak lepas dari aksi brutal timses Ahok dan buzzer nya yang menyerang pihak manapun yang tidak sepihak dengan Ahok. “Musuh-musuh” Ahok menjadi bertambah banyak, dan malahan ikut menyeret Jokowi masuk ke dalam kubangan yang dibuat oleh Ahok.

 Tindakan Timses Ahok untuk meng-kriminalkan Buni Yani bisa dikatakan kontra produktif, karena Polisi menyatakan potongan video yg di upload sama dengan yang ada didalam video versi asli. Nah sekarang yang dimasalahkan oleh Tim Ahok adalah kata “pakai”. Ha ha ha …. Sebuah argumen yang lemah dan tidak akan mengubah pemahaman orang (muslim) yang menonton video Ahok. Lebih runyamnya yang banyak berbicara ke pers adalah Guntur Romli, seorang tokoh yang penuh dengan kontraversi tersendiri untuk kalangan muslim.

Aku yang dari awalnya (dan masih) bukan pembenci Ahok dan tidak setuju/tidak paham dengan ada nya pasalblasphemydi UU kita, sekarang menjadi ikut jengkel dan marah dengan sikap fans Ahok di TV, media, intrenet, dan termasuk di K yang kanal politiknya sudah dikuasai buzzer Ahok. Muslim yang tersinggung koq malah di tantang, diremehkan, ditertawakan. Coba anda perhatikan tulisan-tulisan Kompasianer top pro Ahok, dan komentar-komentar nya. Sama sekali tidak ada niatan untuk tulus minta maaf, tidak ada niatan untuk merangkul muslim. Dogmanya Ahoker sangat jelas: Ahok benar dan selalu benar. Eh … koq ya ada saja Ahoker yang lancang berinisiatif membuat petisi membubarkan MUI. Orang-orang yang pada awalnya mungkin pro Ahok, cenderung ke Ahok, atau netral, berubah menjadi marah, tersinggung, terhina. Masalah ini bisa menjadi lebih besar daripada kasus Al Maidahnya Ahok.

Demo 411 membuktikan bahwa jumlah orang-orang yang marah itu bukan hanya dari kelompok kecil tertentu. Didaerah-daerah mulai ikut terpancing. Jokowi yang pada awalnya anteng diatas, menjadi kaget dan reaktif dengan mengeluarkan tuduhan aktor politik. Ini bisa dikatakan menghina dan merendahklan perasaan banyak orang. Seorang Aa Gym yang kalem dan santun sampai tersinggung berat. Orang-orang yang tukus ikhlas urunan Rp10 ribuan untuk bekal peserta demo ke Jakarta malahan dituduh ada aktor nya, ada yang mendanai …. Alamak! Syukur sekarang presiden tersadar dan terpaksa harus sibuk mondar-mandir menemui organisasi besar Muslim dan mengundang banyak orang (makan siang) ke Istana untuk berkomunikasi langsung dan meredakan kemarahan orang banyak.

Siapa sih yang salah? Ah kalau FPI kan sudah dari dulu selalu saja yang disalahkah. Dan sekarang MUI ikut-ikutan dituduh, disalahkan, dan minta dibubarkan! SBY ketiban sial, gara-gara AHY maju ke Pilkada DKI kena getah dituduh sebagai pendukung dana, punya rencana skenario konspirasi yang aneh-aneh ….  Piye to yo? Sepertinya Ahoker, Polisi, dan pemerintah kompak untuk mengalihkan issue. Jangan menambah masalah baru, jangan menambah musuh baru. Sudah sangat jelas sekali: apa dan siapa penyebab keributan ini.

Ahok terlanjur salah ngomong, dan sudah seharusnya Ahok dan timses nya (pada saat itu) buru-buru dengan tulus mendatangi banyak pihak untuk minta maaf, kalau perlu minta maafnya sambil cium tangan  …. he he he. Bukan malahan menantang dan menyerang banyak pihak.

Tidak aku pungkiri Ahok itu dari dulunya sudah tidak disukai dan diserang dengan issue SARA oleh sekelompok orang-orang tertentu. Tapi ‘musuh” asli Ahok itu cuma orang itu-itu saja. Nggak ngefek kata orang. Cuma sebagian kecil orang yang peduli dengan issue yang dimainkan oleh “musuh” alami Ahok itu.  Dilain pihak, Ahok justru diterima terbuka dan disenangi oleh banyak orang, dan punya kans paling besar di Pilkada. Tapi apa boleh buat, watak dan tabiat Ahok akhirnya membuat dia kesrimpet masuk kedalam wilayah yang seharusnya dia hindari.

Untuk yang gemar dengan argumen NKRI harga mati, Pancasila, dan lain-lain: Faktanya NKRI dg Pancasila sebagai dasar negara, bisa tetap utuh dan (insyaAllah) akan tetap kuat sampai hari ini adalah karena mayoritas muslim di Indonesia hidup tenang, hidup rukun, tidak ribut, dan puas dengan keadaan sekarang. Karena mayoritas muslim yang kompak ini lah sehingga keutuhan NKRI tetap terjaga dan kokoh dari berbagai macam serangan idelogi yang datang dari segala penjuru.

Jangan remehkan, jangan acuhkan, jangan mengolok-olok, jangan kecewakan, jangan sakiti, jangan korbankan perasaan ratusan juta muslim di Indonesia. Serangan yang brutal dan membabi buta kepihak (ulama dan muslim) yang bukan pro Ahok hanya akan membuka peluang para extremist untuk bisa meraih simpati dan punya alasan kuat untuk bergerak lebih jauh. Berkawan, rangkul, dan terus berkomuskiasi dengan mayoritas muslim di Indonesia secara bijak. Dari penjelasan Panglima TNI di ILC, sudah sangat jelas dimana posisi TNI saat ini.

Apa boleh buat, semua sudah terjadi, kemarahan sudah kadung besar dan akan terus terbakar sampai ada penyelesaian kasus Ahok. Saat ini kampanye Ahok harus dikawal oleh ratusan polisi komplit dengan kendaraan anti peluru, water cannon, dan gas airmata. Untuk kepentingan yang jauh lebih besar, aku tidak melihat adanya win-win solutionbuat Ahok. Game is over! PDIP dan partai pendukung Ahok (kalau mungkin) harus mulai mencari calon selain Ahok, seperti Puan misalnya.

Salam

Seattle 11/10/2016

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x