Media

Geliat UMKM Binaan Semen Rembang dan Laju Revolusi Kesejahteraan

18 April 2018   16:27 Diperbarui: 18 April 2018   16:45 603 0 0
Geliat UMKM Binaan Semen Rembang dan Laju Revolusi Kesejahteraan
dokumentasi pribadi

Wangi kopi menjalar dari sebuah rumah di RT 03 RW 07 desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Rembang, Jawa Tengah, pada siang yang terik di bulan April 2018. Aromanya akan membius para pecinta dan penikmat kopi Nusantara. Kopi khas olahan industri rumahan. Pemiliknya: pak Gito.

Pak Gito dan industri kopi olahan rumahan adalah identitas yang bisa dibanggakan dari desanya. Pak Gito menamakan usahanya: kopi lelet. Sebuah realitas kerja keras yang dibangun dengan keuletan dan kerja bareng PT Semen Indonesia di Rembang (Semen Rembang).

Sambangilah ke rumah pak Gito. Lelaki yang telah bekerja sama dengan Semen Rembang selama 1,5 tahun. Maka akan terperangah; ada kesibukan di situ. Beberapa tenaga kerja secara giat mengolah biji kopi menjadi serbuk siap jual.

"Sejak saya dibina Semen Rembang, usaha saya jadi ada kemajuan dari pemasaran dan produksinya. Terima kasih untuk kemitraan dari Semen Rembang. Sekarang satu hari bisa habis untuk pemasaran," kata pak Gito.

Masa lalunya, kopi lelet nan halus olahan pak Gito hanya menembus pasar di Pati dan Blora, daerah tetangga Rembang. Kini: kopi lelet produksi pak Gito mulai menjalar pasar Semarang, Kendal dan Surabaya. Menjalar seharum aroma kopi olahannya. Bahkan sejak bermitra dengan Semen Rembang, kata pak Gito, "Jadi sering ikut pameran usaha."

Pak Gito. Dulu hanya seorang buruh kayu dengan penghasilan ekonomi tak tentu dan bekerja serabutan. Sejak dibina Semen Rembang, kini: pengusaha kopi lelet yang memproduksi dan memasarkan dagangannya 9 kuintal selama sebulan.

Jika usai menyambangi rumah pak Gito, cobalah berkunjung ke sebuah kediaman lain yang tak jauh dari situ. Rumah milik pak Ragil Bambang Sumantri. Seorang pengusaha ternak kambing yang dibina Semen Rembang. Hasil ternaknya didaur menjadi beberapa produk olahan berkualitas.

"Sejak tahun 2015 bermitra dgn PT Semen Indonsia dengan bantuan permodalan yg ringan. PT Semen Indonesia membantu adanya brand untuk menemukan usaha saya. Bahkan mendukung memasarkan usaha sampai di tingkat nasional, seperti ke Blora, Cepu, Semarang, Kepulauan Riau, Palembang," kata pak Ragil.

Pak Ragil merasakan bila keberadaan industri Semen Rembang membangkitkan cita yang tertimbun di pikiran warga selama ini. Memiliki keahlian adalah bentuk kepedulian yang didorong Semen Rembang. Pak Ragil kerap mengikuti pelatihan usaha bentukan Semen Rembang guna menumbuhkan usahanya. Pak Ragil selalu berharap bersama Semen Rembang: produksi usahanya semakin meluas.

Pak Ragil. Yang sekitar tahun 1979 hanya memiliki 8 ekor ternak kambing. Sejak dibina Semen Rembang, kini: mempunyai 200 ekor kambing, 26 tenaga kerja dan mengolah hasil ternaknya jadi susu, sabun maupun produk kecantikan.

Lalu bagaimana dengan desa yang berdekatan dengan pabrik Semen Rembang berada? Datanglah ke desa Tegaldowo. Maka di sana bisa menyeruput hidangan minuman dan makanan khas tradisional, seperti lontong tuyuhan, jagung, kopi dan tiwul, dengan suasana kafe.

Dikelola 3 pemuda: Solikhin, Anto dan Joko. Joglo Cafe nama usahanya. Diresmikan 7 April lalu. Usahan yang dibina dan didukung Semen Rembang. Bentuk usaha semua ini kata Solikhin, "karena ingin mengangkat kearifan lokal. Inspirasinya dari pelatihan BUMDesa yg dilaksanakan Semen Rembang."

Bukan mendiamkan warga lainnya dengan keberadaan usaha kafetaria itu. Justru warga sekitar jadi bergeliat agar ikut sejahtera. Menu yang tersaji di Joglo Cafe adalah racikan warga desa Tegaldowo yang menitipkannya untuk dijual. Menurut Solikhin, menu dari warga merupakan bukti sasaran pemberdayaan yang selalu didorong Semen Rembang.

Maka: dimulailah revolusi kesejahteraan. Mencerabut akan kesulitan dari warga kemudian mengubahnya menjadi tatanan sosial yang lebih baik. Maka: melajulah revolusi kesejahteraan. Sejak Semen Rembang berada.