Mohon tunggu...
Bona Ventura Ventura
Bona Ventura Ventura Mohon Tunggu... Kontributor buku antologi: Presiden Jokowi: Harapan Baru Indonesia, Elex Media, 2014 - 3 Tahun Pencapaian Jokowi, Bening Pustaka, 2017 | Mengampu mapel Bahasa Indonesia, Menulis Kreatif, dan media digital di SMP Pahoa, Gading Serpong

#Dear TwitterBook, #LoveJourneyBook @leutikaprio

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Perempuan Perawat Keberagaman

21 November 2020   23:17 Diperbarui: 22 November 2020   00:00 288 9 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perempuan Perawat Keberagaman
Sumber Foto - Tangkapan Layar IG BatikKultur by Dea Valencia

Membicarakan keberagaman sama dengan membicarakan Indonesia. Sebagai negara kepulauan Indonesia menyajikan keberagaman suku bangsa, bahasa, sosial budaya, dan sistem kekerabatan. Keberagaman sejatinya adalah berkah untuk Indonesia. Membicarakan Indonesia tetapi menafikan keberagaman sama saja menyangkal keindonesiaan.

Perempuan identik sebagai perawat kehidupan. Perawat kehidupan sama dengan perawat keberagaman. Dalam tiap fase kehidupan manusia perempuan memiliki peran signifikan, bahkan dalam berbagai wilayah konflik peran perempuan sungguh nyata. Kemampuan perempuan berkomunikasi menggunakan bahasa hati sangat berperan sekali dalam resolusi konflik.

Kecantikan dari hati. Kecantikan yang berasal dari dalam diri perempuan. Terpancar keluar untuk memberdayakan lingkungan sekitar. Kecantikan yang tak berhenti pada diri sendiri, namun kecantikan yang disublimasikan menjadi kekuatan penggerak.

Dari banyak perempuan yang mampu menggerakkan perubahan tersembul Dea Valencia Budiarto. Sosok perempuan kelahiran 14 Februari 1994 ini merangkul keberagaman dalam usaha yang dijalankan, karena berani memberikan kesempatan kepada penyandang difabilitas untuk bekerja dan mengembangkan diri secara utuh.

Bekerja Hak Semua Orang 

"Setiap hari kita selalu diingatkan bahwa kerja, bagi semua orang, menentukan eksistensi dari manusia tersebut. Kerja adalah cara untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan dasar. Namun kerja juga merupakan kegiatan di mana individual mengakui identitas mereka, baik untuk diri mereka sendiri dan orang-orang di sekeliling mereka. Hal ini sangatlah penting bagi diri mereka, kesejahteraan keluarga, dan stabilitas masyarakat." (Juan Somavia, ILO Director General, Juni 2001).

Kerja adalah hak semua orang. Eksistensi manusia terlihat dari kerja pikir dan kerja tangan yang dilakukan. Manusia yang tak bekerja kerap tak dianggap dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Manusia yang tak bekerja identik dengan luntang-lantung dan menjadi beban untuk anggota keluarga yang lain, jika manusia yang tak memiliki kekurangan secara fisik kadang masih belum memiliki pekerjaan.

Lalu, membayangkan saudara-saudari penyandang difabilitas kerap terhambat memiliki pekerjaan. "Kekurangan" secara fisik sering dijadikan alasan untuk perekrut kerja untuk tak mempekerjakan mereka. The World Health Organization (WHO)/ Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 15% dari populasi dunia (7 miliar orang) hidup dengan beberapa bentuk keterbatasan fisik, di mana 2-4% di antaranya mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Di Indonesia pemerintah menunjukkan kepedulian terhadap penyandang difabilitas. Keberpihakan pemerintah dapat dilihat dalam upaya mereka menandatangani Konvensi PBB mengenai Hak-hak Penyandang difabilitas (UNCPRD) dan membuat Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dari penyandang difabilitas di Indonesia (2004-2013) dan meratifikasi Konvensi ILO No. 111 mengenai diskriminasi (Pekerjaan dan Jabatan).

Selain itu, langkah awal untuk meratifikasi Konvensi ILO No.159 mengenai Rehabilitasi dan pelatihan keterampilan bagi penyandang difabilitas telah juga dilakukan. Indonesia memiliki peraturan mengenai kuota (No.43/1998).

Sumber Foto - Tangkapan Layar IG BatikKultur by Dea Valencia
Sumber Foto - Tangkapan Layar IG BatikKultur by Dea Valencia
Dea dan Penyandang Difabilitas 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN