Fiksiana

Indo Ne Siana

13 September 2017   20:42 Diperbarui: 13 September 2017   20:54 377 3 0
Indo Ne Siana
www.pestuk.com

Indo Ne Siana

Siana meninggalkan dapur restoran makanan cepat saji Italia itu sambil menyumpah-nyumpah sejadi-jadinya. Hampir saja ia celaka. Untungnya lemparan pisau si Marjinal meleset. Pisau itu menancap di kitchen set, hanya sejengkal di atas kepalanya.

Dengan cepat Siana menerobos keluar dapur, menyelinap di sela-sela kursi restoran, lalu menerobos pintu rahasia yang hanya ia yang tahu cara masuk dan keluarnya. Sampai di luar restoran ia disambut kelengangan jalan raya ketika pukul 01.00 wib tiba. Ia lari terbirit-birit sambil menyusuri trotoar yang sudah sepi dari para pejalan kaki itu. Beberapa kali ia hampir menabrak gerobak-gerobak pedagang yang diparkir sembarangan di badan trotoar. Ia sempat terpeleset ketika melewati genangan air bekas cucian mangkok bakso yang berceceran di lantai trotoar yang berupa keramik. Ketika akhirnya ia sampai di sebuah gang, ia segera memasukinya dan sampailah ia di tempat kami tinggal.

"Bagaimana?" tanyaku.

"Hampir saja aku mati," jawab Siana dengan napas terengah-engah.

"Memangnya kenapa?"

"Aku kepergok dan tanpa aba-aba koki yang satu itu langsung melemparkan pisaunya."

"Koki yang mana?"

"Koki yang biasa, si Marjinal."

"Jam segini ia masih sibuk di dapur?"

"Entahlah. Mungkin sedang diusir istrinya."

Tampaknya kali ini si Marjinal  sedang marah benar. Tak biasanya ia seekstrem itu kepada para pengganggu isi dapurnya. Memang, pencurian itu bukan yang pertama kalinya dilakukan oleh Siana. Bahkan, kalau mau dihitung jumlahnya sudah tak terhitung. Belum lagi pencurian-pencurian yang dilakukan oleh berandal-berandal lain di gang sebelah. Biasanya si Marjinal hanya sebatas menakut-nakuti dengan cara mengacung-acungkan benda yang saat itu sedang dipegangnya.   

Dari melihat potongan wajahnya yang berbentuk segi empat itu, Marjinal mirip  orang Batak. Jika mendengar logatnya yang lucu itu, ia lebih mirip orang Bali daripada orang Jawa. Kalau membaca nama yang terpampang di baju seragamnya, ia bisa berasal dari mana saja. Namun, jika melihat caranya melampiaskan kemarahannya, aku dapat memastikan Si Marjinal berasal dari  rumah sakit jiwa.

Dulu aku juga hampir menjadi korban keganasan si Marjinal. Waktu itu aku sedang kebingungan karena sejak Isya Siana belum kembali ke kios. Aku mencarinya ke restoran cepat saji itu karena tempat itu merupakan salah satu restoran favoritnya. Selain makanannya enak, restoran itu juga dekat dengan tempat kami tinggal. Celakanya aku kepergok dia di pintu masuk restoran. Marjinal sempat mengejarku, tapi aku lebih cepat menyelamatkan diri dengan cara lari dan bersembunyi di balik drum-drum bekas minyak goreng.

Aku dan Siana bertemu secara tidak sengaja. Ketika sedang enak-enak melamun, tiba-tiba aku mendengar sesuatu sedang berusaha memasuki kios ini secara paksa. Aku sedang bersiap-siap untuk sembunyi ketika tiba-tiba Siana berhasil menerobos kios. Ia masuk melalui salah satu bagian rolling door berbahan aluminium yang agak longgar. Mata kami bersirobok. Dan sejak itu kami bersahabat.

Aku dan Siana bukan saudara kandung apalagi saudara kembar. Walaupun begitu, kami sepakat untuk menamai diri kami sendiri dengan nama yang mirip. Aku memilih nama Indo Ne Siani. Aku biasa dipanggil Siani. Sedang sobatku itu memilih nama Indo Ne Siana dan biasa kupanggil Siana. Pemilihan nama-nama tersebut terkesan tidak kreatif karena pastinya masih ada jutaan nama lain yang lebih indah dan lebih berwibawa. Namun, apakah artinya sebuah nama jika kami sama-sama cinta Indonesia.

Aku dan Siana banyak memiliki perbedaan. Tubuh Siana lebih besar daripada aku. Kulitku lebih coklat daripada kulit Siana. Siana lebih berani daripada aku. Larinya juga lebih cepat. Selain itu ia juga lebih pandai memanjat. Siane normal, sedangkan kaki kananku buntung di bagian telapak kaki akibat digilas pengendara motor yang mabuk.

Walaupun memiliki lebih banyak kelebihan daripada aku, ia tak pernah menganggapku lebih rendah. Siana memperlakukan aku sebagaimana seharusnya teman memperlakukan teman lainnya. Satu-satunya persamaan yang kami miliki adalah Siana tidak tahu siapa ayah ibunya, begitu juga aku. Hanya satu yang sama, tetapi sudah lebih dari cukup untuk meniadakan semua perbedaan. Akhirnya kami memutuskan untuk berkawan dan tinggal bersama di kios kosong ini. Kami pun berbagi apa yang bisa kami bagi. Kami berbagi makanan. Siana yang tubuhnya lebih besar tentu saja porsi makannya lebih banyak daripada aku. Aku dan Siana juga berbagi tempat tidur. Ketika kami mulai menempati kios di pasar ini, lembaran kardus sudah tergelar di lantainya. Untuk seterusnya, di atas gelaran kardus itulah kami tidur.

Aku dan Siana juga sering saling berbagi mimpi. Mimpi kaum papa semacam kami memang kadang lucu, aneh, dan tak terduga. Siana pernah punya impian pergi ke ruang angkasa.

"Mau ngapain kamu ke sana?"

"Mau ketemu Tuhan."

"Repot amat sampai harus naik pesawat antariksa segala. Kuberitahu, ada cara yang lebih murah dan mudah jika kamu ingin ketemu Tuhan?"

"Bagaimana caranya?"

"Mencurilah di dapur restoran cepat saji masakan Itali itu di siang hari, dan usahakan bertemu dengan si Marjinal. Jangan lupa usahakan dengan sungguh-sungguh agar kamu bertemu dengannya ketika dia sedang mencincang sayuran dengan pisau besarnya itu."

"Kalau begitu, aku batalkan niatku saja. Ketemu Tuhan mestinya yang rapi dan tidak dengan tubuh yang berantakan."

Aku sendiri tidak punya impian yang muluk-muluk. Aku hanya pengen ketemu ibuku. Aku tak akan mempersoalkan apakah dulunya aku dibuang, tertukar, ataukah sengaja dijual oleh ibu yang telah mengandungku itu. Aku hanya ingin sungkem kepadanya.

Kami merasa nyaman karena kios itu cukup hangat pada malam hari. Seluruh bagiannya tertutup rapat sehingga tidak ada angin yang masuk dan mengganggu kenyamanan tidur malam kami. Kalaupun ada lubang di kios itu, ukurannya tidak lebih besar daripada ukuran seekor tikus. Lubang itu terletak di pojokan bagian bawah rolling door. Mungkin sedikit rusak ketika pemasangan.

Aku dan Siana merasa aman tinggal di kios ini karena lokasinya berada di ujung lorong pasar. Tidak ada para preman yang mengusik kami. Apalagi sampai memeras kami. Bodoh banget mereka jika sampai tega melakukannya. Apa yang akan mereka dapat dari kaum papa seperti kami ini? Selain itu, kios ukuran empat meter persegi itu dalam keadaan terkunci. Soal bagaimana cara kami masuk dan keluar kios yang terkunci, bukan perkara susah bagi kami.

Selama menjalani hidup bersamaku, Siana lebih suka menempatkan diri sebagai pelindungku. Barangkali karena badannya lebih besar dan aku invalid. Namun, bisa jadi sudah ada watak itu di dalam dirinya sejak lahir. Siana juga yang lebih banyak mencari makanan buat kami berdua. Kamu di sini saja! Jaga kios! Begitu kata Siana setiap kali aku merengek ingin ikut ia beroperasi. Siana tergolong nekat dalam mencari makanan. Cara yang ditempuhnya bisa apa saja. Kadang nemudi tempat sampah, kadang mencuri. Ia pernah mencuri roti di piring yang sedang ditinggal menoleh oleh pemiliknya.

Kota besar ini tidak bersahabat terhadap aku dan Siana. Di dunia ini, juga di kota ini, makan siang tidak ada yang gratis. Begitu juga sarapan. Apalagi makan malam. Siapa juga yang akan memberi pekerjaan kepada yang tidak punya keterampilan macam aku dan Siana. Kami juga sepakat untuk tidak jadi pengemis. Tidak keren. Agar kami tetap hidup, jadilah Siana mengembangkan bakat terpendam yang dimilikinya, yaitu mencuri. Sedangkan aku cukup menjadi komplotannya saja.

Kalau ada seseorang yang hanya dipandang dengan sebelah mata, aku dan Siana lebih memalukan daripada penggambaran itu. Kami sama sekali tidak dipandang alias tidak pernah dianggap ada. Kalaupun ada yang menganggap kami ada, hanyalah untuk memberi label kepada kami sebagai perusak pemandangan dan pengganggu ketertiban umum. Barangkali aku, Siana, dan orang-orang yang mirip dengan kami lebih rendah dari kasta sudra atau lebih rendah lagi jika masih ada kasta lain di bawahnya. Seakan-akan kami ini adalah kaum yang tercipta hanya untuk mati di bawah telapak kaki orang-orang yang sedang berkuasa atau orang-orang tidak suka kepada kami atau orang-orang yang lagi iseng. Ngenes memang jika merasakan kenyataan, kami tetap hidup hanya karena belas kasihan pihak lain.

Hidup memang tidak adil, terutama bagi kaum tertindas dan tersisihkan semacam aku dan Siana. Jika tertangkap ketika sedang mencuri, Siana pasti akan dipukuli sampai setengah mati atau bahkan sampai mati. Kalau perlu ia dibakar hidup-hidup. Namun, tidak seperti itu yang terjadi kepada para pencuri uang negara. Tentu akan sangat menyenangkan jika suatu ketika televisi menayangkan gambar seorang koruptor yang diarak dalam keadaan bugil sambil diludahi wajahnya beramai-ramai.

Malam itu Siana pulang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya tampak lelah. Ia kelihatan lebih tua dari umur yang sebenarnya. Sepertinya telah ditemukan satu lagi bukti bahwa penderitaan adalah obat cepat tua yang paling mujarab

"Aku harus pergi," kata Siana tanpa preambule apa pun juga.

"Kemana?" tanyaku seperti orang tolol.

"Aku tak tahu pasti. Barangkali ke kota selanjutnya. Bisa juga ke pulau berikutnya. Bahkan, mungkin ke negara-negara yang semula aku hanya mendengar namanya."

"Mau naik apa? Kamu punya ongkos?"

"Aku tak butuh ongkos jika mau naik truk, kereta api barang, atau kapal-kapal kargo. Tempat-tempat itu akan selalu menyediakan ruang buat aku."

"Kapan kamu akan pergi?" tanyaku sedih.

"Besok pagi-pagi sekali. Jangan sedih! Sebentar nanti kamu pasti akan bertemu dengan teman lain."

"Mengapa kamu memutuskan untuk pergi?"

"Mengapa aku harus tetap bertahan di sini?"

"Setidaknya karena ada aku."

"Kamu bisa aku jadikan salah satu alasan untuk tetap tinggal di kota ini, tapi tidak terlalu kuat.

"Masih ingin ketemu Tuhan?"

"Tidak..., tidak lagi. Aku sudah menemukan Tuhan."

"Di mana?"

"Di restoran cepat saji masakan Italia."

"Ngawur kamu! Lalu karena apa?"

"Aku tak bisa menjelaskan alasannya tanpa memberi kesan aku sok berfilsafat."

"Berfilsafat juga nggak apa-apa walau kamu bukan filsuf seperti Sacrotes, Plato, atau Aristotoles."

"Benar, kamu ingin tahu alasan yang sebenarnya?"

"Benar."

"Aku ingin masakan Amerika karena di kota ini tidak ada."

"Edan kamu! Benar? Karena alasan itu?"

"Kenapa kamu tampak heran justru ketika aku sedang mengatakan yang sebenarnya?"

"Itu bukan filsafat."

"Menurutmu filsafat itu apa? Tahi kucing pun akan jadi sebuah filsafat jika Plato yang mengatakannya."

"Jadi?"

"Maaf, aku tetap akan pergi dan meninggalkanmu. Please, kamu jangan merasa aku tidak sayang kepada kamu dan kamu juga jangan merasa aku pergi karena kamu! Satu-satunya alasan yang benar kenapa aku harus pergi adalah karena aku memang harus pergi."

"Yah, selamat tinggal."

"Sampaikan ucapan itu besok saja! Sekarang bersiaplah! Kita akan merayakan pesta perpisahan ini secara meriah. Kita akan mengerjai si Marjinal untuk yang terakhir kalinya."

"Kita?"

"Benar, kita. Siana dan Siani. Sejak lama kamu ingin ikut bukan? Kali ini aku akan memberimu kesempatan untuk melihat saat aku beraksi. Namun, ingat! Ini yang pertama, sekaligus yang terakhir."

Menjelang tengah malam, ketika toko-toko dan restoran-restoran mulai tutup, Siana membangunkan aku.  Dengan mata masih setengah mengantuk, aku membuntuti Siana sambil menyeret kaki kananku. Setelah keluar dari lorong pasar, kami berbelok ke arah kanan. Kami sampai di jalan raya yang mulai lengang. Kami belok kanan lagi. Setelah melewati toko obat China, toko kelontong, lalu dua toko yang sudah cukup lama tidak buka, barulah kami sampai di restoran cepat saji itu.

"Kamu tunggu di sini saja!"

"Katanya aku boleh ikut?"

"Kamu memang boleh ikut, tapi hanya sampai di sini."

"Tidak, aku ingin ikut masuk juga."

"Kamu tunggu di sini!"

"Tidak! Kalau aku tak boleh masuk, kita pulang saja!"

"Heeemm. Baik tapi aku yang masuk dulu, kamu tunggu aba-aba dari aku!"

Aku sepakat dengan syarat itu. Siana memasuki restoran itu melalui pintu rahasia. Tampaknya ia sudah sangat hafal. Aku mengikuti di belakangnya tanpa banyak bicara. Ketika mulai melewati ruang lobi, Siana memberiku isyarat agar aku bersembunyi di balik pot bunga krisan yang terdapat di dekat ruang kasir. Ia tampak mengamat-amati keadaan. Ia berjingkat-jingkat untuk memastikan semuanya aman. Tak lama kemudian ia memberi tanda agar aku mengikutinya. Tanpa menunggu aku, Siana langsung menuju dapur.

Ketika aku sampai di depan dapur, Siana sudah menghilang di balik tembok setinggi setengah meter yang memisahkan dapur itu dengan ruang lobi. Aku baru hendak melangkahkan kaki untuk menyusulnya ketika tiba-tiba lampu dapur menyala. Aku kaget dan mengurungkan niatku. Aku mendengar suara gaduh dari barang-barang yang berjatuhan. Aku hendak lari keluar, tapi aku ingat Siana. Suara-suara itu semakin gaduh. Semula aku ragu dan takut, tapi aku mendengar Siane mengaduh. Akhirnya kuberanikan diri untuk memasuki ruang dapur. Aku lari lalu bersembunyi di samping oven. Aku melayangkan pandangku untuk menemukan di mana posisi Siane.

Aku terkesima dengan pemandangan yang mengerikan itu. Aku tak tahu mau berbuat apa selain hanya mendekap mulutku. Aku melihat si Marjinal menendang Siana hingga tubuhnya terpental membentur dinding. Siana tampak sempoyongan, tapi berusaha bangun. Belum puas dengan apa yang dilakukannya, si Marjinal mengambil sapu dan menyodok-nyodokan perut Siana dengan gagangnya. Tubuh Siana tampak melintir dengan posisi meringkuk seolah sedang mendekap perutnya yang sakit luar biasa. Mataku terus merekam detik-detik penyiksaan itu. Rupanya si binatang itu belum puas juga melampiaskan napsu binatangnya. Dengan gagang sapu itu juga si Marjinal memukuli kepala dan muka Siana. Aku melihat darah mengucur dari mulut dan hidung Siana.

Aku menyaksikan kebengisan Marjinal dan sekaligus ketidakberdayaan Siana dalam waktu yang sama.  Dan itu membuat tubuhku merasa lumpuh. Aku merasa tak berdaya. Aku hendak berlari menuju ke luar restoran, tapi kubatalkan. Aku ingin menolong Siana dan menghentikan penyiksaan yang keji itu, tapi aku terlalu pengecut untuk melakukannya. Aku kasihan menyaksikan penderitaan Siana, tapi aku juga takut mengalami hal yang sama dengannya. Tubuh Marjinal tinggi besar, tak mungkin aku mampu melawannya.     

Dalam situasi kalut itu, aku merasa si Marjinal menoleh kepadaku. Seolah tersadar akan bahaya yang bakal menimpa, naluriku menyuruhku untuk segera berlari. Hampir saja terlambat. Sapu itu meluncur ke arahku, tapi hanya mengenai pinggiran oven. Aku berlari terpincang-cincang sambil sesekali melompat. Aku keluar dari restoran itu melalui pintu saat kami masuk secepat aku bisa. Naluriku menyuruhku untuk sembunyi. Namun, ada juga pemikiran yang menyuruhku untuk kembali ke kios saja.  Aku memang lebih pengecut dari yang aku kira, tapi aku belum sampai pada tahapan sangat pengecut sekali. Akhirnya aku sembunyi di balik bak sampah yang terletak tak jauh dari restoran itu.

Aku memenuhi otakku dengan berbagai kemungkinan tentang Siana. Sayangnya, tak satu pun yang membuatku lega. Aku mulai menangis ketika menyadari hal itu. Apa lagi ketika aku mengingat kembali darah yang mengucur itu.

Tiba-tiba si Marjinal keluar restoran sambil menjinjing keranjang sampah dari plastik. Aku menutup mulutku, menahan tangisku. Si Marjinal menuju ke arah bak sampah di mana aku sedang sembunyi. Aku merapatkan tubuhku ke dinding bak sampah yang berdempetan dengan tiang listrik agar tidak dilihatnya. Aku coba menahan tangisku, tapi tak bisa. Akibatnya, tubuhku justru tergoncang-goncang dan napasku tersengal-sengal. Tak lama kemudian aku mendengar si Marjinal menuangkan isi keranjang sampah itu sambil menggerutu.  Tak lama kemudian aku mendengar suara langkah-langkah kaki menjauhi bak sampah.

Setelah memastikan Si Marjinal pergi, aku segera memanjat bak sampah itu. Aku melihat Siana terbujur di atas tumpukan kaleng minuman bersoda dengan kondisi wajah dan tubuh babak belur. Darah masih mengucur dari hidung dan mulutnya.  Sesaat aku masih melihat ekornya bergerak-gerak. Setelah itu Indo Ne Siana terdiam untuk selama-lamanya.  Sempurna sudah penderitaannya.

Kajen, 11 September 2017