Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Mantan Caleg Dapil Papua Hina Tokoh Papua, Potret Politik Tunaetika

25 Januari 2021   05:52 Diperbarui: 25 Januari 2021   05:56 200 39 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mantan Caleg Dapil Papua Hina Tokoh Papua, Potret Politik Tunaetika
Photo by Ehimetalor Akhere Unuabona on Unsplash

Sebuah berita mengejutkan kembali datang dari jagad politik tanah air. Seorang politikus berinsial AN dalam unggahan medsosnya menyamakan seorang tokoh Papua, Natalius Pigai dengan hewan tertentu.

Unggahan medsos tersebut ironinya juga memuat foto AN bersama politikus ternama lain yang dia dukung. Secara tidak langsung, apa yang dilakukan AN berdampak buruk pada citra para politikus yang muncul dalam unggahan rasis itu, meskipun sejatinya para politikus lain tak terlibat dalam unggahan kontroversial itu.

AN, politikus Partai Hanura sejatinya bukan anak baru dalam dunia politik. Dia telah menjabat sebagai Koordinator Daerah Sumatera Utara untuk partainya pada 2009 lalu. Pada tahun yang sama ia mencalonkan diri sebagai caleg di Sumut.

Mantan caleg dapil Papua

Jejak digital seseorang sangat mudah ditelusuri dan bisa sangat memalukan. Ini terjadi dalam kontroversi unggahan AN yang menyinggung perasaan orang Papua. Ternyata AN yang menghina tokoh asal Papua juga pernah mencalonkan diri sebagai caleg daerah pemilihan Papua pada 2018 lalu.

Bagaimana mungkin seorang yang pernah ingin memperjuangkan aspirasi rakyat Indonesia di Papua tetiba berubah menjadi sosok penghina tokoh Papua? Kiranya hal ini menjadi potret politik tunaetika yang dipraktikkan sejumlah politikus kita.

Politik tunaetika

Setiap politikus seharusnya memahami apa tujuan politik. Politik pada hakikatnya bukan sesuatu yang jahat. Dalam Nicomachean Ethics I,2, Aristoteles berpendapat bahwa tujuan politik adalah eudaimonia atau hidup sejahtera bagi seluruh warga.

Aristoteles berpendapat, tujuan dari politik adalh kebaikan publik. Oleh karena itu, setiap warga negara  diharapkan selalu berkata, "Saya bertindak selalu untuk kebaikan negara saya." Demikian pula, para politikus seharusnya selalu memegang prinsip yang sama.

Menyinggung perasaan sesama warga negara, apalagi dengan tindakan rasis adalah pelanggaran serius terhadap etika politik. Melukai perasaan sesama politikus dengan pernyataan berbau SARA adalah praktik politik tunaetika.

Perbedaan pandangan sebagai wahana diskusi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN