Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... -samadi-

Yuk ikuti LOMBA MINI menulis Sejuta Kebaikan. Baca artikelnya di akun ini. Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Jutaan Kebaikan Pasutri Tjiptadinata yang Belum Kita Ketahui

11 Januari 2021   15:56 Diperbarui: 11 Januari 2021   16:05 269 49 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jutaan Kebaikan Pasutri Tjiptadinata yang Belum Kita Ketahui
Bersama rekan-rekan di Bandung - dok Tjiptadinata Effendi

Siapa belum kenal pasutri paling hits di Kompasiana? Cukup menjadi penulis yang kurang-lebih rajin muncul di Kompasiana, siapa pun kiranya disapa oleh Pak Tjiptadinata dan Ibu Roselina Effendi.

Pak Tjip dan Ibu Lina bukan hanya memberi "vote" menarik, aktual, dan sebagainya. Beliau berdua rajin memberi komentar penyemangat. Semua dilakukan dengan tulus. Tanpa mengharapkan apa-apa.

Pak Tjip pernah menulis bahwa kegiatan ber-kompasiana sebenarnya tidak menguntungkan beliau dan istri beliau secara ekonomi. Jumlah tagihan biaya paket internet yang harus mereka bayar tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatkan, misalnya melalui K-Rewards.

Pak Tjip dan Ibu Lina juga gemar membuat jamuan makan dan mengirim kue pada staf dan penulis Kompasiana. Entah sudah berapa banyak uang telah mereka berdua relakan demi membahagiakan orang lain, yang sebagian besar bukan kerabat sendiri.

Bayangkan, zaman susah seperti ini, masih ada orang seperti Pak Tjip dan Ibu Lina yang mau berbagi pada sahabat-sahabat virtual yang sebagian belum pernah mereka temui langsung.

Saat orang-orang menipu dan memanfaatkan orang lain, Pak Tjip dan Ibu Lina melakukan persis yang sebaliknya. Mereka terus berbagi secara tulus. Berkorban waktu, tenaga, dan harta bagi siapa saja. Tanpa pandang bulu.

Kebaikan pada seorang anak difabel

Ada satu kebaikan Pak Tjip dan Ibu Lina yang masih saya simpan sebagai rahasia hingga saat ini. Saya baru akan mengisahkannya dalam tulisan ini sebagai hadiah bagi mereka berdua.

Pada bulan Agustus 2019 lalu, saya sedang kebingungan. Kala itu saya dan sejumlah insan ingin membantu pengobatan seorang anak difabel dari Kalimantan Utara.

Anak itu memiliki kaki yang tidak sempurna karena waktu bayi tersiram air panas. Ia kesulitan berjalan secara normal.

Sebenarnya ia bisa sembuh jika ditangani secara tepat. Sayangnya, beberapa kali upaya medis di Surabaya belum membuahkan hasil yang diharapkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x