Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

ruangberbagikompasiana@gmail.com. Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial. Hak cipta dilindungi UU.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Merapi Siaga, Apa 10 Barang Paling Diperlukan Pengungsi?

11 November 2020   09:23 Diperbarui: 11 November 2020   14:44 828 50 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Merapi Siaga, Apa 10 Barang Paling Diperlukan Pengungsi?
Kubah lava dilihat dari Desa Kinahrejo (6/10/2020) - ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta menaikkan status Gunung Merapi dari Waspada ke Siaga (level III). Status Gunung Merapi ini dinaikkan pada Kamis (5/11/2020).  Aktivitas vulkanik Merapi akhir-akhir ini dicemaskan dapat berpotensi membahayakan warga.

Dikutip dari kompas.com, pengamatan morfologi kawah Gunung Merapi pada tanggal 3 November 2020 belum menunjukkan pembentukan kubah lava baru. Sampai sekarang, kegempaan dan deformasi masih terus meningkat. Ini menimbulkan potensi ancaman bahaya berupa guguran lava lontaran material dan awan panas sejauh maksimal 5 kilometer.

Menariknya, peningkatan aktivitas vulkanik pada Oktober-November 2020 ini terjadi tepat sepuluh tahun setelah rangkaian letusan Merapi pada 2010 lalu.

Pada 26 Oktober 2010 atau sepuluh tahun lalu, Gunung Merapi meletus tiga kali pada sekitar pukul 18.25 WIB. Rangkaian letusan diikuti hujan abu di sekitar lereng Merapi, terutama di Kabupaten Sleman, Magelang, dan Klaten.

Letusan Gunung Merapi pada 2010 menewaskan 337 orang. Letusan ini juga meluluhlantakkan puluhan desa. Ratusan ribu orang terpaksa mengungsi.

Menurut berita terkini, sudah ada ratusan warga diungsikan ke tempat-tempat pengungsian. Kompas.com mencatat, menurut data terbaru BPBD Magelang, 795 warga lereng Merapi mengungsi. Mereka kini tersebar di 9 titik pengungsian.

TEA pengungsi erupsi Gunung Merapi di Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupten Magelang disusun bilik atau sekat untuk mencegah penyebaran Covid-19, Jumat (6/22/2020).(KOMPAS.COM/IKA FITRIANA)
TEA pengungsi erupsi Gunung Merapi di Desa Banyurojo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupten Magelang disusun bilik atau sekat untuk mencegah penyebaran Covid-19, Jumat (6/22/2020).(KOMPAS.COM/IKA FITRIANA)
Berdasarkan pengalaman menjadi bagian dari tim relawan Bencana Letusan Merapi 2010, saya membuat daftar 10 barang yang paling diperlukan pengungsi letusan Gunung Merapi. Daftar ini telah memperhitungkan sifat kebencanaan letusan Merapi dan tanggapan khas warga sekitar, yang ditandai antara lain dengan potensi adanya abu vulkanik dan solidaritas unik warga Jogja.

Penting dicatat, kebutuhan barang ini mengandaikan skenario terburuk, yaitu letusan disertai hujan abu vulkanik. Tambah lagi, pandemi Covid-19 masih terjadi.

Sekadar kilas balik, pada Selasa (3/3/2020) pernah terjadi hujan abu di beberapa wilayah Boyolali akibat erupsi Gunung Merapi pada pukul 05.22 WIB dengan tinggi kolom 6.000 meter. 

Sejumlah pengendara melintas saat terjadi hujan abu di Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (3/3/2020). Hujan abu terjadi di beberapa wilayah Boyolali akibat erupsi Gunung Merapi pada pukul 05.22 WIB dengan tinggi kolom 6.000 meter. ANTARA/ALOYSIUS JAROT NUGROHO
Sejumlah pengendara melintas saat terjadi hujan abu di Mojosongo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (3/3/2020). Hujan abu terjadi di beberapa wilayah Boyolali akibat erupsi Gunung Merapi pada pukul 05.22 WIB dengan tinggi kolom 6.000 meter. ANTARA/ALOYSIUS JAROT NUGROHO
1. Masker

Salah satu sifat letusan Gunung Merapi adalah potensi adanya produksi abu vulkanik. Letusan akhir Oktober dan awal November 2010 membuktikan betapa dahsyatnya dampak abu vulkanik Gunung Merapi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN