Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

ruangberbagikompasiana@gmail.com. Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial. Hak cipta dilindungi UU.

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Foto Risma Dihilangkan, Foto Caleg Dipercantik, dan Etika Ubah Foto

13 Oktober 2020   17:47 Diperbarui: 13 Oktober 2020   19:31 95 19 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Foto Risma Dihilangkan, Foto Caleg Dipercantik, dan Etika Ubah Foto
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini(KOMPAS.com/GHINAN SALMAN)

Ada satu berita tren yang menarik kita ulik dari sisi etika bermedia. Kompas.com mewartakan, foto sekelompok siswa penari bersama walikota Surabaya Tri Rismaharini diedit dan digunakan ulang secara serampangan.

Yang mengejutkan lagi, foto hasil editan itu digunakan untuk kampanye salah satu kandidat Pilkada Surabaya. Berita dapat disimak di sini. Pihak tim sukses memang akhirnya meminta maaf kepada para pelajar yang telah dirugikan.

Akan tetapi, kiranya sudah telanjur peristiwa ini berdampak bagi citra politik kandidat yang bersangkutan. Hal ini tampak dari komentar warganet yang membaca berita terkait. 

Sebelumnya, pernah terjadi peristiwa yang juga terkait edit foto politikus. Adalah caleg Dewan Perwakilan Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sempat digugat caleg petahana yang gagal ke parlemen, Farouk Muhammad. 

Farouk Muhammad memprotes foto EA yang dinilai telah dipercantik sehingga berpengaruh terhadap hasil pemilu legislatif. Farouk hanya mampu meraih posisi kelima dengan 188.687 suara. Sementara EA berhasil melenggang sebagai peraih suara terbanyak.  

Etika Ubah Foto (Orang)

Dua peristiwa di atas sama-sama terkait etika mengubah foto. Kebetulan, dua-duanya dialami politikus. Sangat kebetulan juga, sama-sama perempuan.

Bedanya, satu menjadi korban dan satu lagi menjadi pihak yang diduga diuntungkan. 

Sebenarnya, adakah etika mengubah foto, baik diri maupun orang lain?

Marc Davis dalam laman digitalethics.org menulis bahwa di masa liar jurnalisme kuning, foto yang dimanipulasi adalah hal biasa. Surat kabar Hearst dan New York Evening Graphic termasuk koran yang terkenal suka memanipulasi foto pada dekade awal abad ke-20.

"Standar jurnalistik telah berubah menjadi lebih baik sejak era jurnalisme foto apa saja. Namun manipulasi foto belum punah. Faktanya, manipulasi foto sekarang jauh lebih mudah di era perangkat lunak pengedit foto, " lanjut Marc. 

Sementara itu, Olaf Moetus, mantan direktur kreatif salah satu biro iklan terbesar di AS mengatakan, ada standar industri periklanan dan peraturan pemerintah yang melarang representasi yang keliru dari produk dan layanan dalam iklan cetak dan iklan TV.

"Kenyataannya setiap foto untuk tujuan periklanan telah diedit," kata Moetus. "Yang tidak etis adalah memalsukan fitur produk. Misalnya, foto brownies yang diubah sehingga menunjukkan lebih banyak kacang pada produk daripada jumlah sebenarnya. Ini tidak dapat diterima."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x