Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

ruangberbagikompasiana@gmail.com. Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial. Hak cipta dilindungi UU.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Ramai Diklaim Politikus RI, Tuhan Allah Sebenarnya Memihak Siapa?

20 September 2020   11:48 Diperbarui: 22 September 2020   23:29 329 24 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ramai Diklaim Politikus RI, Tuhan Allah Sebenarnya Memihak Siapa?
Doa bersama dalam pembukaan perayaan Cap Go Meh Bogor Street Festival, Selasa (19/2/2019).(KOMPAS.com / Ramdhan Triyadi Bempah)

Baru-baru ini, seorang mantan petinggi TNI mengklaim bahwa apa pun yang menentang "gerakan moral" yang ia dukung akan mendapat peringatan dari Allah. Pernyataan ini ia sampaikan di Magelang pada Jumat (19/9/2020). 

Ada catatan menarik terkait "gerakan moral" tersebut. Meskipun didaku sebagai gerakan moral, tampaknya gerakan ini lebih condong ke politik.

Ini tampak dari diksi yang dipopulerkan dalam acara-acara kelompok ini, antara lain: "rezim zalim" dan "people power".  Sebagai warga biasa yang sok jadi pengamat politik, saya kebingungan juga menilai arah "gerakan moral ini". 

Bukankah jika murni gerakan moral, diksi yang wajar digunakan adalah "membela kemanusiaan" dan "menolong kaum tertindas"? Alih-alih diksi tersebut, mengapa digunakan pilihan kata yang sangat bertendensi politis?

Gejala Politisasi Agama

Klaim sang mantan petinggi TNI terkait keberpihakan Tuhan Allah pada kubu mereka adalah contoh nyata gejala politisasi agama di Indonesia.

Gejala politisasi agama ini disinyalir justru makin gencar dilancarkan sejumlah oknum politikus tanah air kita setelah kejatuhan rezim Orde Baru. Stabilitas semu berdasarkan pendekatan militeristik ala Orba akhirnya ambyar. Angin segar demokrasi sejati bertiup. Partai-partai baru bermunculan. Seringkali berlebihan dalam kuantitas dan minim kualitas.

Geliat kebebasan berdemokrasi ini akhir-akhir ini disinyalir tercemar oleh kepentingan politik-ekonomi sejumlah pihak asing dan dalam negeri. Sejumlah politikus seolah-olah membela agama-agama dan Tuhan, padahal intinya membela kepentingan kubunya sendiri. 

Menjadi gamblang apa yang telah dikatakan Profesor Susanne Schroter, Direktur Pusat Penelitian Islam Global di Frankfurt, yang mengatakan bahwa peran agama (dalam politik) di Indonesia amat kuat. Agama sekarang jadi alat utama berpolitik. Agama diinstrumentalisasi oleh semua pihak.

Semua pihak yang dimaksud sang ketua Yayasan Orientalis Jerman Deutsche Orient Stiftung (DOS) itu adalah kubu Jokowi dan Prabowo dalam gelaran kampanye pilpres lalu.

Tanpa tedeng aling-aling, sang pengamat politik dari Jerman menilai bahwa kampanye di Indonesia adalah perebutan wacana Islam. Tiap kubu mencoba mencari kelemahan lawan dengan mengangkat isu kadar keislaman.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x