Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial.

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Diam-diam Kita "Dipaksa" Punya Ponsel sebagai New Normal, Tak Punya Ponsel Berarti Abnormal?

15 Juni 2020   08:10 Diperbarui: 16 Juni 2020   10:02 1103 31 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Diam-diam Kita "Dipaksa" Punya Ponsel sebagai New Normal, Tak Punya Ponsel Berarti Abnormal?
Ilustrasi tidak punya ponsel - Pexels.com

Zaman kiwari, telepon seluler bagi orang modern sudah jadi bagian hidup. Generasi baby boomer pun kalah jauh dari kids zaman now yang sejak kecil sudah dicekoki gawai oleh orang tuanya. 

Meski begitu, toh ada juga orang-orang yang tidak (ingin) menggunakan ponsel meski mampu membelinya. Mereka ini sebagian besar memang generasi zaman old yang merasa tidak perlu memiliki ponsel. Apalagi bila hidup di desa, dekat dengan anak dan cucu. Tak perlu ponsel.

Akan tetapi, rupanya ada juga orang-orang istimewa yang menolak menggunakan ponsel, antara lain:

Pertama, orang yang ingin hidup sederhana. Kalangan ini ingin hidup ugahari, cukup dengan apa yang esensial dalam hidup. Termasuk dalam kelompok ini kaum biarawan-biarawati sejumlah agama yang memang berkaul hidup sederhana. 

Kedua, orang yang ingin hidup lebih tenang. Banyak pula orang yang merasa bahwa ponsel dan aneka gawai justru membuat cemas dan depresi. Betapa tidak, WA grup lebih banyak diisi berita hoaks dan unggahan sampah. SMS bertubi-tubi isinya iklan pinjol. Bukannya damai, justru galau yang didapat. 

Ketiga, orang-orang yang pernah memiliki ponsel, namun akhirnya berhenti karena alasan pribadi. Misalnya, takut dihubungi penagih utang, takut ditangkap aparat, trauma dikejar-kejar tagihan ibu kos, atau cemas dikejar-kejar pengagum rahasia (cie..cie..).

Nasib Orang yang Tidak (Ingin) Punya Ponsel  
Saya punya teman, seorang bule. Ia sudah berusia lebih dari 50 tahun. Ia sebenarnya tidak gaptek. Buktinya, dia mahir menggunakan komputer dan tablet. 

Akan tetapi, ia sudah sejak puluhan tahun tidak pernah punya ponsel. Mengapa? Ia sudah punya telepon rumah dan merasa cukup dengan itu.

Baru-baru ini, ia mengeluh pada saya. "Sial...aku dipaksa beli ponsel." Saya agak heran mendengar keluhan itu. "Kenapa bisa begitu, bro. Siapa yang memaksamu?" tanya saya. 

"Sekarang pesan apa-apa harus pakai nomor ponsel. Bank di negeri asalku juga tidak lagi menerima hanya nomor telepon rumah. Aku protes. Ini diskriminasi terhadapku dan orang lain yang memang tidak punya ponsel," katanya. 

Saya sejenak berpikir. Benar juga, ya. Sekarang semua bank sepertinya mewajibkan klien punya nomor ponsel untuk protokol keamanan transaksi. Lalu, bagaimana nasib teman saya yang cuma punya telepon rumah? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN