Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

ruangberbagikompasiana@gmail.com. Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial. Hak cipta dilindungi UU.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tom Liwafa dan Pesan "Kalau Tak Bisa Beri, Jangan Sakiti"

9 Mei 2020   05:32 Diperbarui: 9 Mei 2020   05:28 117 27 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tom Liwafa dan Pesan "Kalau Tak Bisa Beri, Jangan Sakiti"
(repro bidik layar instagram @tomliwafa) via Kompas.com

Seorang YouTuber berinisial FP membuat kegaduhan setelah ia membagikan bantuan palsu kepada para transpuan. Alih-alih memberi sembako, FP yang rupanya mengejar klik dan pelanggan baru justru memberikan sampah. 

Syukurlah, pihak kepolisian telah berhasil menangkap FP dalam pelariannya. Kini ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Tambah lagi, FP telah mendapat sanksi sosial berupa kecaman dari berbagai kalangan. 

Profil Tom Liwafa, Pengusaha Sukses Surabaya

Menanggapi aksi tak terpuji YouTuber pembagi donasi palsu, Tom Liwafa seorang pengusaha sukses dari Surabaya melakukan aksi super simpatik. Dengan mobil mewahnya, ia membagikan bantuan berupa sembako dan uang jutaan rupiah bagi warga miskin.

Tom Liwafa merintis usaha pada tahun 2008 dengan berjualan stiker dan kaus band metal. Ia tak malu berkeliling dengan sepeda motor guna memasarkan dagangannya. Hasil penjualannya ia gunakan untuk mencukupi keperluan harian dan meluniasi uang kuliah.

Perlahan Tom Liwata belajar bagaimana berdagang dengan baik. Berkat ketekunannya, ia sukses mengembangkan bisnisnya.

Sepuluh tahun kemudian, Tom menjelma menjadi pengusaha muda dengan jaringan usaha yang luas. Bersama sang istri, sekarang Tom Liwafa mengelola aneka jenis usaha dengan dukungan 1.500 pegawai.

Tom Liwafa dan Prinsip Moral Universal

Tom Liwafa, salah satu "anggota" Crazy Rich Surabayan itu menyampaikan pesan yang sederhana, namun sering dilupakan banyak orang. Pesan itu adalah "Kalau tak bisa memberi, setidaknya janganlah menyakiti". Di balik pesan ini, ada satu prinsip moral universal yang juga seharusnya kita lakukan, namun sering kita abaikan. Apa itu?

Prinsip moral universal itu adalah Aturan Emas atau the Golden Rule. Aturan Emas berbunyi "perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan." Aturan Emas ini tersua dalam banyak agama dan budaya. 

Gagasan Aturan Emas ini kemungkinan besar sudah muncul pada masa-masa awal Konfusianisme (551–479 SM). Rushworth Kidder dalam How Good People Make Tough Choices (2003) berpendapat, Aturan Emas ini umum dijumpai dalam ajaran agama-agama dunia. Sementara Simon Blackburn dalam Ethics: A Very Short Introduction (2001) menyimpulkan, Aturan Emas ditemukan dalam aneka kebudayaan suku-suku di dunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN