Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

ruangberbagi@yandex.com. Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial. Hak cipta dilindungi UU.

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Kasus Kardinal Pell, Saat Intrik Aparat dan Media Hancurkan Reputasi Pemuka Agama Budiman

8 April 2020   07:15 Diperbarui: 8 April 2020   07:37 984 24 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kasus Kardinal Pell, Saat Intrik Aparat dan Media Hancurkan Reputasi Pemuka Agama Budiman
Kardinal Pell - William West/AFP via Getty Images

Ada satu kasus yang menjadi sorotan dunia, namun sering luput diberitakan secara tepat oleh media dunia maupun Indonesia. Kasus Kardinal Pell, orang kepercayaan Paus sejak 2014 dalam bidang keuangan, yang dituduh melakukan pelecehan terhadap dua anak di Melbourne, Australia pada 1996.

Pada 7 April 2020, 7 hakim Mahkamah Agung Australia akhirnya secara mutlak menyatakan Kardinal Pell tidak bersalah atas tuduhan itu. 

Bagaimana sejatinya intrik oknum aparat dan media Australia bermain di balik hancurnya reputasi pemuka agama tepercaya? 

Kasus ini menjadi hikmah bagi kita semua dalam menyikapi secara kritis informasi yang disajikan oleh aparat dan media. Tak semua aparat dan media mewartakan kebenaran. Tak jarang, aparat dan media korup "berhasil" menjerat orang benar dengan tuduhan palsu.

Profil Singkat Kardinal George Pell
George Pell (78) menjabat sebagai pejabat tinggi Sekretariat Ekonomi Vatikan antara 2014 dan 2019, dan merupakan anggota Dewan Penasihat Kardinal antara 2013 dan 2018. Ia ditahbiskan menjadi pastor pada 1966 dan menjadi kardinal pada 2003. 

Pell pernah menjabat sebagai Uskup Agung Sydney (2001–2014), Uskup Agung Melbourne (1996–2001) dan uskup auksilier Melbourne (1987–1996). 

Kronologi singkat tuduhan palsu dan peradilan Pell:
8 November 2018, Kardinal Pell menghadapi persidangan di Pengadilan Wilayah Victoria atas tuduhan melecehkan seorang anggota paduan suara berusia 13 tahun dan menganiaya temannya pada akhir 1996. Ini adalah sidang ulang setelah juri tidak dapat mencapai vonis mayoritas pada September 2018.

14 November 2018. Juri mengunjungi gereja katedral untuk melihat dugaan TKP.  Mantan anggota paduan suara lainnya, Carl Miller, mengatakan dia tidak bisa mengingat Pell sendirian setelah misa hari Minggu. Dengan kata lain, Pell tidak mungkin melakukan kejahatan yang dituduhkan padanya.

27 November 2018, "Tuduhan itu hanya hasil fantasi," kata Pell kepada polisi yang dikirim ke Roma untuk mewawancarainya pada 2016. Rekaman ini diputar di hadapan para juri.

28 November 2018
Juri diberitahu bahwa salah satu anggota paduan suara yang diduga dianiaya Pell meninggal pada tahun 2014. Ibnya telah bertanya pada tahun 2001 apakah si anak pernah "diganggu" ketika dia berada di paduan suara. Si anak/pemuda itu mengatakan tidak pernah.

4 Desember 2018
Tidak ada satu orang lain pun yang dapat mendukung tuduhan tersebut kecuali satu-satunya pengadu yang masih hidup. Sang "diduga korban" mengatakan, ia  dan temannya (yang sudah meninggal pada 2014) menyelinap untuk diam-diam meminum anggur yang biasa dipakai untuk ibadah (kenakalan wajar), lantas mengalami pelecehan dan penganiayaan oleh Pell. 

11 Desember 2018, Meski bukti-bukti minim, Pell dinyatakan bersalah. Ia dijatuhi hukuman enam tahun penjara.

Agustus 2019, Pell mengajukan banding ke Pengadilan Banding Victoria, yang menolak bandingnya dengan mayoritas dua suara hakim banding satu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN