Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

ruangberbagi@yandex.com. Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial. Hak cipta dilindungi UU.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Uniknya Sejarah, Makna, dan Salah Paham Selibat Imam Katolik

19 Januari 2020   06:22 Diperbarui: 19 Januari 2020   20:02 4061 16 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Uniknya Sejarah, Makna, dan Salah Paham Selibat Imam Katolik
Paus Fransiskus dengan para calon imam - Foto: ncronline.org

Dalam tulisan terdahulu, 'Kalau Jumpa Pastor Katolik, Harus Panggil Gimana?', saya berjanji untuk mengulas selibat imam Katolik. Harapan saya, tulisan mengenai selibat ini dapat memberi wawasan baik bagi saudara seiman maupun saudara-saudari penganut agama dan kepercayaan lain.

Asal Kata dan Definisi
Selibat berasal dari bahasa Latin caelibatus. Artinya secara umum adalah "hidup tidak menikah". Dalam konteks imam Katolik, pilihan hidup tidak menikah ini dijalankan demi motivasi yang amat mulia, yakni mempersembahkan hidup seutuhnya bagi Tuhan dan Gereja-Nya.

Mulai Diundangkan secara Lokal
Menariknya, selibat tidak segera menjadi tradisi Gereja Katolik sejak abad pertama. Gereja Katolik perlu waktu yang cukup lama untuk sampai pada praktik selibat bagi para imam, yang berlaku saat ini.

Adalah Konsili Elvira sekitar tahun 305 yang pertama kali berpendapat bahwa selibat diwajibkan bagi uskup, imam, dan diakon. Konsili ini dihadiri 19 uskup dari aneka penjuru Spanyol. Jadi, bukan konsili Gereja semesta.

Skandal dan Kerinduan untuk Kesucian
Pada abad kesebelas, Gereja dihantam skandal komersialisasi pelayanan rohani dan merosotnya hidup moral sebagian uskup, imam, dan diakon, terutama dalam hidup bersama "selingkuhan". Terkadang jabatan uskup diberikan pada pribadi yang berani membayar paling tinggi, bukan pada pribadi yang bermutu.

Syukurlah, sejak 1049, beberapa Paus dengan giat mencoba membenahi kebobrokan ini dengan kembali pada kesucian yang dikehendaki Tuhan. Puncak pembaruan dicapai pada masa Paus Gregorius VII (1073-1085).

Salah satu pokok pembaruan Gregorius ialah penegasan bahwa para uskup, imam, dan diakon haruslah tidak menikah. 

Dengan berjalannya waktu, larangan mutlak untuk menikah bagi uskup, imam, dan diakon dianggap semakin berdampak baik dan lambat laun diterima oleh mayoritas tokoh awam dan pemimpin Gereja Katolik sebagai tradisi Gereja. 

Pada 1059 St Peter Damian, seorang kardinal dan salah satu juru bicara yang paling efektif untuk program Paus Gregorius, menulis bukunya On the Celibacy of Priests (De Coelibatu Sacerdotum). Buku ini amat membantu mempromosikan selibat.

Saat Konsili Lateran Kedua (1139) digelar, gagasan kelompok pembaruan Gregorian telah mendulang dukungan luas dari para pemimpin awam dan gerejawi. Dari periode ini sampai Reformasi, larangan pernikahan untuk semua uskup, imam, dan diakon menjadi aturan yang ditaati. 

Munculnya Gereja Reformasi
Abad ke 16, tampillah Luther dan para Reformator lainnya. Mereka berpendapat bahwa selibat tidak ada pendasarannya dalam Perjanjian Baru. Para reformator ini menganggap selibat sebagai sebuah pembatasan kebebasan Kristen yang dipaksakan oleh Vatikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN