Mohon tunggu...
Bobby MSF
Bobby MSF Mohon Tunggu... pembelajar

kontakbobby@zoho.eu. Buku Perdana= http://bit.ly/Wanitamulia Buku Kedua= http://bit.ly/SantoYusuf

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Kiprah Gibran Putra Jokowi dan Kontroversi Politik Dinasti

10 Oktober 2019   10:11 Diperbarui: 10 Oktober 2019   10:16 0 10 4 Mohon Tunggu...
Kiprah Gibran Putra Jokowi dan Kontroversi Politik Dinasti
tribunnews.com

Setelah namanya disebut dalam survei Pilkada Solo 2020 yang diadakan Laboratorium Kebijakan Publik Universitas Slamet Riyadi, Gibran Rakabuming membuat keputusan yang menarik perhatian. 

Sang pemilik usaha restoran dan makanan ini sebenarnya pernah menyatakan keenganannya untuk terjun ke dunia politik. "Enggak, enggak tertarik [menjadi politikus]. Ayah saya juga dulu bisnis, jadi mengikuti ayah saya," kata Gibran, 11 Agustus 2018. 

Tampak pendiam, Gibran rupanya peka akan pemberitaan media mengenai hasil survei Pilkada Solo 2020 yang menempatkan namanya sebagai calon terpopuler dengan 90 persen tingkat kepopuleran. Angka yang sama diraih Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo.

Baru-baru ini, 23 September 2019, Gibran bersua dengan Wali Kota Solo yang juga Ketua DPC PDIP Solo F.X. Hadi Rudyatmo, yang pernah menjadi wakil walikota di masa Joko Widodo. Gibran mendaftarkan diri sebagai kader PDIP sebagai syarat awal jika ingin maju menjadi calon wali kota lewat partai berlambang banteng yang juga membesarkan nama ayahnya, Presiden Joko Widodo.

Strategi "Memulai dari Bawah"
Dalam sebuah wawancara pada akhir 2018, wartawan menanyakan kemungkinan Gibran menjadi politikus seperti Jokowi. Waktu itu Gibran menjawab, "Dari bawah dulu, bupati, wali kota, gubernur, baru ada jenjang kariernya. Namanya transisi dari pengusaha ke politikus ada masa transisinya. Makanya harus mulai dari yang paling bawah dulu".

Menariknya, jawaban Gibran ini didukung Jokowi yang kala itu mengatakan, "Lebih baik kalau dari bupati, wali kota, naik ke gubernur. Memiliki sebuah jenjang. Menguasai yang kecil, sedang, dan besar." Menurut Jokowi, piawai mengelola bisnis bukan jaminan kesuksesan sebagai politisi.

Yang patut digarisbawahi, Jokowi sendiri memilih strategi "memulai dari bawah" dalam karier politiknya. Apakah strategi ini yang sejatinya ditiru oleh Gibran? Suatu pertanyaan yang mudah dijawab, bukan?

Gibran, Jokowi, dan Kontroversi Politik Dinasti
Gejala terjunnya Gibran sang putra Jokowi ke dunia politik mendapat beragam reaksi dari pengamat politik dan warga. Sebagian menyayangkan kiprah politik Gibran karena beberapa alasan.

Pertama, terjunnya Gibran ke politik dikhawatirkan  turut menyemarakkan praktik politik dinasti. Ari Dwipayana pernah menyatakan bahwa tren politik kekerabatan atau politik dinasti itu sebagai gejala neopatrimonialistik. 

Dosen ilmu politik Fisipol UGM itu mengatakan, benih politik dinasti telah lama berakar dalam tradisi sistem patrimonial. Sistem ini mengutamakan regenerasi politik berdasarkan ikatan hubungan darah ketimbang sistem kepantasan berdasarkan kemampuan dan rekam jejak.

Dwipayana menguraikan, dalam politik dinasti di Indonesia, terdapat unsur patrimonial lama, tapi dengan strategi baru. Dahulu pewarisan ditunjuk langsung, sekarang melalui  jalur politik prosedural. Lazimnya anak atau keluarga para elite masuk partai politik. Oleh karena itu, politik patrimonialistik ini terselubung oleh jalur prosedural.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x