Mohon tunggu...
Berbagi Ilmu
Berbagi Ilmu Mohon Tunggu... berbagi itu indah

kontakbobby@zoho.eu

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Kado Terindah] Kado Istimewa

5 Oktober 2019   09:16 Diperbarui: 5 Oktober 2019   17:24 0 10 5 Mohon Tunggu...
[Kado Terindah] Kado Istimewa
sumber: pinterest/didona balazs

Hujan deras mengiringi perjalanan mobil travel yang mengantarku hingga ke ujung jalan beraspal. Kususuri gang sempit yang menggiringku ke depan pintu rumah cokelat tua itu. Kupencet bel. Tak berselang lama, dari balik pintu, terdengar suara sandal  teklek yang amat kukenal. Sesosok wanita renta muncul.

"Ealah...cah bagus, Ibu kira kamu ndak jadi datang," sambut wanita renta itu. "Rapat kantor diundur sampai bulan depan, Bu. Makanya Nanang bisa ambil cuti seminggu. 

Nanang juga mau ketemu sama Bulik Ning dan saudara-saudara di Jogja. Kata Bulik, ada acara spesial Januari nanti di rumah ini," jawabku sembari merebahkan diri di sofa yang tak lagi nyaman diduduki.

Ibu menghela nafas panjang. "Acara spesial apa to, Nang? Biasanya pas tahun baru kamu dan adikmu Siska ndak bisa mudik. Lagipula Bapakmu masih opname. Bulikmu yang menungguinya. Cuma Ibu yang di rumah ini. Mbok yo uwis, ra sah aneh-aneh." Aku tersenyum. "Apakah Ibu lupa... 15 Januari 1969."

Ibu terdiam sejenak. "Itu tanggal pernikahan Bapak-Ibumu, Nang!" Wajahnya yang semula mrengut mendadak sumringah. "Nah, makanya Ibu jangan terus-terusan sedih mikir Bapak. Kita beri semangat pada Bapak biar tetap tabah." Ibuku mengangguk. Seulas senyum menghiasi wajahnya.

**

Malamnya, kami berdua besuk Bapak di rumah sakit. Gagal ginjal yang diderita Bapak setahun terakhir benar-benar membuat kami kembang-kempis. Sekali seminggu, Bapak harus cuci darah. Ongkosnya bikin leher tercekik.

Demi kesembuhan Bapak, aku dan adikku yang sama-sama mengais rejeki di Jakarta secara patungan memberikan gaji kami yang tak seberapa. Untunglah Mira, istriku, rela memangkas uang belanjanya dan uang saku dua anak kami untuk menopang ongkos perawatan Bapak. Hanya aku, Mira, dan adikku yang tahu keadaan keuangan kami yang sebenarnya.

Sudah kami rancang agar Ibu dan Bapak tidak tahu-menahu. Semua tagihan kami bayar lewat transfer bank. Kami tidak ingin mereka terbebani. Yang kami inginkan, mereka bangga memiliki anak-anak yang bisa membalas budi. Bukankah tugas kami sebagai anak adalah membahagiakan Bapak dan Ibu yang telah banyak berkorban bagi kami?

Bulik Ning memelukku erat begitu aku masuk ruangan di mana Bapak dirawat. Kulihat, Bapak masih tertidur. Kecapekan setelah tadi siang cuci darah. Kudekati Bapak. Kuelus-elus rambutnya yang telah memutih semua. Kukecup dahinya.

 "Nang...," Suara Bapak yang tiba-tiba bangun membuatku terkejut. Tak tertahan lagi kuungkapkan isi hatiku. "Pak, tiap hari aku berdoa agar Bapak dan Ibu bisa rayakan pesta emas Januari nanti," kataku penuh harap. "Iya, Nang. Bapak juga berdoa sepertimu," jawabnya sambil menepuk-nepuk punggungku dengan sisa tenaganya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x