Mohon tunggu...
Bobby MSF
Bobby MSF Mohon Tunggu... pembelajar

kontakbobby@zoho.eu. Buku Perdana= http://bit.ly/Wanitamulia Buku Kedua= http://bit.ly/SantoYusuf

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Anakku Lusia, Si Putri Kursi Roda

10 Agustus 2019   09:32 Diperbarui: 10 Agustus 2019   12:53 0 18 3 Mohon Tunggu...
Anakku Lusia, Si Putri Kursi Roda
sumber foto: media.istockphoto.com

Terik mentari menembus celah pepohonan tempatku berteduh. Kulirik jam tanganku. Sudah lewat tengah hari. Pintu gerbang sekolah anakku belum jua dibuka. Artinya aku belum boleh masuk menjemput Lusia. Padahal sebentar lagi jeda makan siang di kantorku usai. 

Ah, biarlah aku terlambat. Biarpun anakku sudah bisa pulang sendiri ke rumah kami yang tak jauh dari sekolahnya, aku tak tega membiarkannya sendirian. Aku takut kejadian beberapa hari lalu terulang lagi.

Waktu itu anak-anak nakal mengejek Lusia ketika dia pulang sekolah. "Tuh lihat si Putri Kursi Roda lewat, awas-awas..kena tabrak baru tahu rasa! Ha ha ha...!"

Lusia tak mau cerita padaku tentang kejadian itu. Namun raut wajahnya yang murung berhari-hari tak bisa membohongiku. Setelah kudesak, barulah dia  berkisah dengan berderai air mata.

"Sudahlah Lus, yang penting Mama dan Papa sayang sama kamu. Anak-anak yang mengejekmu belum tentu lebih pintar dan rajin sepertimu," hiburku sembari mengelus-elus rambutnya yang panjang. 

"Ya, Ma...Lusia janji akan jadi anak yang baik dan jadi kebanggaan Mama dan Papa," tuturnya. Aku mengangguk pelan. Anganku melayang ke peristiwa dua belas tahun lalu.

**

Aku dan suamiku duduk terpaku di depan ruang praktik dokter ahli kandungan. Kami harap-harap cemas menanti hasil cek laboratorium. Setelah dua tahun menikah, kami tak jua dikarunai buah hati. Waktu itu memang kami jarang bertemu karena suamiku tugas di luar Jawa. 

Namun lama kelamaan kami mulai menduga bahwa bukan itu yang membuatku belum juga mengandung. Benar saja. Perkataan dokter waktu itu seakan vonis hakim bagiku: aku tak akan bisa mengandung karena suatu kelainan pada rahimku.

Impianku untuk menimang jabang bayi sontak sirna. Hatiku pilu. Semangat kerjaku menurun. Lebih parah dari itu, aku berhenti berdoa. Kenapa Tuhan membiarkanku mengalami semua ini? Apa salahku? Bukankah selama ini aku sudah berusaha jadi istri yang baik bagi suamiku? 

Tiap kali aku melihat rekan kerja atau tetanggaku menimang buah hati mereka, hatiku teriris-iris. Aku merasa diriku bukan wanita sempurna seperti mereka. Kadang kuterisak sembari mengunci diri di kamar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x