Mohon tunggu...
Bobby MSF
Bobby MSF Mohon Tunggu... Pembelajar

Berbagi itu indah! Sila komentar dengan sertakan link artikel Anda untuk mudahkan kunjungan balasan. Sapa: ruangberbagi@yandex.com Artikel hanya ditulis untuk Kompasiana. Dilarang memuat ulang untuk kepentingan komersial.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Buku Bajakan Rajai Pasar, Anda Tega Membelinya?

30 Juli 2019   07:33 Diperbarui: 30 Juli 2019   07:56 299 8 3 Mohon Tunggu...

Sebagai sesama penulis, hati saya sedih saat membaca cuitan Nadirsyah Hosen, 29 Juli 2019. Ia mencuit ulang cuitan Abu Aufar Akmal yang berisi tangkapan layar marketplace yang jual buku-buku, termasuk buku bajakan.

Buku "Islam Yes Khilafah No" Jilid 1 dan 2 dijual dengan rentang harga Rp 19 - 35 ribu. Padahal, menurut situs nadirhosen.net, buku yang diterbitkan UIN Suka Press itu harga resminya Rp 65.000. Artinya buku bajakan dijual dengan harga yang jauh lebih murah demi menarik minat calon pembeli.

Komentar Warganet

Sebagian warganet mengganggap "biasa" penjiplakan atas buku seperti yang dialami buku karya Nairsyah Hosen. Ada warganet yang berkomentar, "Hitung-hitung shodaqoh, Gus. Asal isinya tidak dirubah." Warganet lain mencuit, "Khas Indonesia, Gus." 

Sementara sebagian warganet geram dengan penjiplakan yang terang-terangan terjadi di marketplace daring. "Harusnya tidak seperti itu, Pak. Itu sama saja kerjaan tidak bermoral, menjual bajakan (berarti) tidak menghargai karya penulis," gugat seorang warganet. Warganet lain berkata,"Waduh Gus, yang ditakutkan isinya diubah. Satu kata bisa mengubah makna."

Buku Bajakan Merajalela, Anda Tega Membeli Buku Bajakan?

Ternyata banyak buku laris, juga buku-buku populer tentang agama dijiplak secara massal. Buku-buku laris karya Quraish Shihab misalnya.

Mirisnya, mudah sekali menjumpai buku-buku bajakan di toko daring. Pasti juga mudah menemukan buku bajakan di penjual buku pinggir jalan. 

Sebagai penulis buku yang baru mulai memasuki dunia perbukuan, saya tahu bahwa royalti yang didapat penulis buku amat sedikit. Royati yang saya terima dari buku pertama saya hanyalah sepuluh persen dari harga jual buku. Anggap saja satu buku dijual dengan harga Rp. 50 ribu, sang penulis hanya menerima Rp. 5 ribu saja sebagai royalti. 

Padahal, menghasilkan suatu buku perlu perjuangan dan waktu yang tak singkat. Beberapa penulis bahkan menghabiskan banyak uang untuk melakukan riset lapangan ke luar daerah dan luar negeri guna menghasilkan buku yang bermutu. 

Sejumlah penulis menghidupi diri dan keluarga dengan pendapatan dari royalti. Benar bahwa buku bajakan merajalela, tapi apakah Anda tega membeli buku bajakan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN