Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... -samadi-

Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial.

Selanjutnya

Tutup

Hukum Artikel Utama

Dugaan Pelecehan Seksual oleh Dosen USU dan Krisis Etika Dosen-Mahasiswa

23 Juni 2019   15:25 Diperbarui: 25 Juni 2019   11:45 4817 12 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dugaan Pelecehan Seksual oleh Dosen USU dan Krisis Etika Dosen-Mahasiswa
Universitas Sumatera Utara (Foto: Situs Resmi USU)

VOA Indonesia mengabarkan, seorang mahasiswi di Universitas Sumatera Utara (USU) diduga dilecehkan secara seksual oleh salah satu oknum dosen jurusan sosiologi. 

Setahun berlalu. Namun keadilan tidak berpihak kepada sang korban. Sang dosen hanya mendapatkan surat peringatan dari jurusan. Korban tak puas dengan hal itu, terlebih hingga saat ini si pelaku masih menyandang status dosen di FISIP USU.

Kronologi

Awal 2018, Melati (nama samaran), sang mahasiswi memohon perbaikan nilai mata kuliah yang diampu HS (inisial oknum dosen). HS setuju dengan syarat Melati mau meninjau lokasi penelitian. 

Melati sempat curiga. Ia mencoba menggali informasi apakah dosen yang bersangkutan pernah mengajak mahasiswa ke lokasi penelitian. Ternyata kakak-kakak angkatan mengatakan, memang si dosen beberapa kali mengajak mahasiswa ke lokasi penelitian.

Tanggal 3 Februari 2018, dalam perjalanan menuju lokasi penelitian, saat tiada pengendara lain melintas, HS meraba tubuh Melati.

Karena takut disakiti bila melawan secara frontal, Melati mencoba berlindung dengan menutupi badannya dengan jaket dan tas. Dalam keadaan terdesak, Melati meminta pertolongan pada temannya melalui aplikasi perpesanan. Saking terdesaknya, Melati hanya bisa menuliskan kalimat "Tolong aku".

Ketika temannya melakukan panggilan video, Melati tak berani mengangkat. Tindakan tak senonoh oknum dosen terus dilakukannya pada Melati dalam perjalanan menuju lokasi penelitian.

Upaya Melati Melaporkan

Melati melaporkan tindakan HS ke Jurusan. Namun, tanggapan kampus tak memadai. Pihak Jurusan hanya memberi bukti foto surat skorsing terhadap HS, tanpa kop surat dan stempel resmi universitas. Itulah sebabnya kini Melati menuntut keadilan.

Krisis Etika Dosen-Mahasiswa

Hemat saya, kasus dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen USU ini adalah fenomena gunung es dari krisis etika dosen-mahasiswa.

Kita tahu, institusi pendidikan (tinggi) seharusnya memiliki pedoman etika hubungan dosen-mahasiswa yang mampu melindungi dosen dan mahasiswa dari hal-hal buruk.

Salah satu pokok dalam etika dosen-mahasiswa ialah cara mencegah terjadinya pelecehan seksual dalam lingkup relasi dosen dan mahasiswa. 

Salah satu wujud praktis dari etika dosen dan mahasiswa ialah bahwa pertemuan pribadi antara dosen dan mahasiswa harus dilakukan di ruang publik yang aman dan atau ruang yang berkaca transparan.

Harus ada standar jarak antarpribadi yang memisahkan antara dosen dan mahasiswa. Misalnya, dosen dan mahasiswa (berlainan jenis kelamin) tidak diperkenankan dalam situasi normal (kecuali dalam kondisi darurat) berboncengan dengan sepeda motor, berduaan di mobil yang sama, dan berduaan di ruangan tertutup atau ruang publik yang tidak aman.

Pedoman praktis etika dosen dan mahasiswa ini perlu dibuat dan disosialisasikan pada seluruh dosen dan mahasiswa demi kebaikan mereka sendiri.

Kita tahu, saat dua insan (berlainan jenis kelamin) berduaan saja dalam situasi-situasi tertentu (jauh dari publik, ruangan tertutup, kendaraan yang sama), potensi pelecehan seksual meningkat tajam. Orang-orang yang taat beragama tetap saja rentan godaan bila berada berduaan saja dalam situasi-situasi "romantis" tersebut.

Cara lain yang dapat diterapkan ialah bahwa komunikasi antara dosen dan mahasiswa, dalam situasi normal (kecuali keadaan darurat) hanya boleh dilakukan melalui sistem komunikasi internal universitas yang dapat diakses oleh tim peninjau, bukan telepon atau email pribadi.

Sudah banyak kampus di luar negeri mengadopsi sistem komunikasi dosen-mahasiswa yang transparan. Contoh paling mudah, dosen dan mahasiswa hanya diizinkan menggunakan jaringan email universitas dalam berkomunikasi. 

Semua surat-menyurat di jaringan email universitas itu sewaktu-waktu dapat ditinjau oleh tim peninjau demi menghindari adanya praktik pelecehan seksual dan pelanggaran etika dan hukum.

Sistem ini diyakini dapat mencegah terjadinya kasus semacam dugaan pelecehan seksual yang terjadi di USU. Sistem yang sama dapat mencegah niat jahat oknum dosen yang mensyaratkan mahasiswa atau mahasiswinya melakukan "layanan seksual" demi mendapat nilai baik atau demi lulus ujian.

Kunci dari sistem komunikasi ini adalah transparansi dan akuntabilitas. Saat komunikasi dosen dan mahasiswa hanya dilakukan melalui sistem yang transparan dan akuntabel, pelecehan dan kekerasan seksual dapat ditekan secara drastis.

Sebaliknya, saat komunikasi dosen dan mahasiswa dilakukan melalui sistem umum (nomor telepon pribadi, email pribadi), amat sulit menjamin bahwa risiko pelecehan dan kekerasan seksual dapat dikurangi.

Jikapun ada kendala mewujudkan sistem komunikasi yang ideal ini karena minimnya dana, universitas-universitas di Indonesia dapat menyusun pedoman berbahasa antara dosen dan mahasiswa dan juga pedoman pencegahan kekerasan seksual.

Pedoman-pedoman tersebut dapat saja berwujud demikian:

1. Komunikasi dosen-mahasiswa hanya dilakukan melalui sistem komunikasi internal kampus yang transparan (misalnya jaringan email kampus). 

Bahasa yang digunakan dalam komunikasi dosen dan mahasiswa harus santun, dengan menghindari sapaan dan materi percakapan yang bersifat seksual.

Solusi lain, bila kampus belum mampu menyediakan sistem email "keroyokan" internal, komunikasi harus dilakukan di grup aplikasi perpesanan, di mana ada kontrol sosial dari sesama anggota grup.

2. Dosen dan mahasiswa (berlainan jenis kelamin) hanya diperkenankan bertemu di ruangan semi terbuka (misalnya, yang berkaca transparan) atau di ruang publik yang aman di dalam lingkup kampus. Pertemuan di luar kampus demi tujuan studi dimungkinkan hanya jika dilakukan di ruang publik yang aman dan ada kontrol sosial. 

3. Dosen dan mahasiswa diwajibkan melaporkan ke "kantor pengaduan" bila mendapati komunikasi bernada seksual dalam relasi dosen-mahasiswa dalam lingkup pendidikan.

4. Pelanggaran terhadap pedoman di atas berujung pada sanksi tegas dan terukur dari pihak kampus dan pelaporan pada aparat kepolisian, sesuai kadar beratnya pelanggaran.

Tentu saja dosen dan mahasiswa yang adalah kerabat dekat dan atau yang memang sedang berpacaran tidak harus terikat dengan aturan etika dosen-mahasiswa di atas, misalnya dalam hal larangan berboncengan motor berdua, semobil berdua, dan lain-lain.

Wasana Kata

Terus terang, saya sendiri masih ragu, apakah semua universitas dan perguruan tinggi di Indonesia memiliki pedoman etika dosen dan mahasiswa yang praktis semacam ini.

Bahwa ada aturan "dosen wajib menaati hukum" atau "dosen harus menjunjung tinggi visi-misi universitas" adalah baik. Namun, aturan itu terlalu umum dan mengawang-awang. Harusnya kampus-kampus kita mengadopsi sistem dan pedoman etika dosen-mahasiswa yang lebih rinci dan praktis, seperti yang telah saya sebutkan contoh-contohnya dalam artikel ini.

Fakta di lapangan membuktikan, begitu mudahnya di Indonesia ini:

  1. dosen dan mahasiswa berkomunikasi melalui telepon dan email pribadi yang sejatinya rentan pelanggaran etika.
  2. dosen dan mahasiswa (berlainan jenis kelamin) bertemu dan berada amat berdekatan (berboncengan, semobil berdua, bertemu berduaan di luar lingkup kampus) tanpa adanya larangan resmi dari pihak kampus.
  3. dosen dan mahasiswa (berlainan jenis kelamin) bertemu di ruangan tertutup (tanpa kaca transparan yang memungkinkan adanya kontrol sosial). Hal ini terkait masih minimnya kesadaran kampus-kampus akan desain ruangan yang dapat mencegah pelecehan seksual.
  4. dosen dan mahasiswa berkomunikasi dengan bahasa "gaul", "informal", dan menyerempet tema seksual (utamanya karena komunikasi dilakukan dengan nomor telepon privat!). Seandainya komunikasi itu dilakukan dalam sistem komunikasi internal kampus dan atau grup di mana ada kontrol sosial, niscaya percakapan "ngawur dan tak senonoh" dapat dihindarkan.

Sila menanggapi di kolom komentar atau dengan menulis artikel tanggapan. Salam Indonesia cerdas dan beretika.

Sumber

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN