Mohon tunggu...
Bobby MSF
Bobby MSF Mohon Tunggu... pembelajar

Mau Ikut? http://bit.ly/BelajarNulisFeatureGratis

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Gubernur Kaltim: Memindah Banjir Perlu Pawang Aja

15 Juni 2019   09:01 Diperbarui: 15 Juni 2019   12:03 0 11 5 Mohon Tunggu...
Gubernur Kaltim: Memindah Banjir Perlu Pawang Aja
korankaltim.com

Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor kembali menjadi sorotan. Ia sempat "tak kelihatan" saat banjir bandang melanda Samarinda, Minggu (9/6/2019).

Ditemui wartawan di kantor gubernur di Samarinda, Senin (10/6) lalu, Isran sempat melucu. Ia mengatakan "Untuk memindahkan banjir butuh pawang aja." Wartawan yang mewawancarainya pun tertawa.

Isran menjelaskan, infrastruktur kota Samarinda memang tidak siap mencegah banjir bila curah hujan tinggi. Ia sepertinya pasrah saja ketika tahu bahwa curah hujan tinggi sempat menenggelamkan kota Samarinda. 

"Kondisi infrastruktur kita ini (Samarinda) tidak siap menghadapi banjir, jadi kalau musibah banjir seperti ini tidak bisa diapa-apain," jelasnya.

Dampak Luas Banjir Samarinda
Mengutip tulisan Kompasianer dengan nama akun Kesah Jalanan, korban terdampak banjir Samarinda mencapai lebih dari 20 ribu jiwa. Ratusan posko dan ribuan relawan telah turun tangan mengevakuasi korban dan mendistribusikan logistik dan obat-obatan. Beberapa tempat juga disiapkan sebagai posko inap sementara. Semua bergandengan tangan menunjukkan kepedulian pada sesama. 

Walikota Samarinda dikabarkan berada di Jerman saat Samarinda banjir berhari-hari. Hari ketiga pasca banjir bandang, gubernur dan wakil gubernur Kaltim juga baru terlihat meninjau lokasi. Pantas saja warga mengeluh kurangnya empati pemimpin daerah pada para korban. 

Potret Birokrasi Lamban Tanggapi Potensi Bencana
Apa yang terjadi di Samarinda sejatinya adalah potret birokrasi kita yang sering lamban tanggapi potensi bencana. Mengutip keterangan Kompasianer Kesah Jalanan, sebenarnya Samarinda memang dikenal sebagai kota yang rawan banjir jika turun hujan. 

Tahun ini banjir yang melanda kota tepian ini merupakan banjir yang boleh dikata belum pernah terjadi sebelumnya. Jika puluhan tahun lalu pernah terjadi banjir besar, mungkin kali ini adalah yang terbesar.

Artinya, potensi banjir sudah nyata diketahui pemerintah daerah. Intensitas curah hujan tinggi -seperti yang dikemukakan Gubernur- memang "bersalah" sebagai penyebab banjir bandang kali ini. Akan tetapi, bukankah saat ini kita hidup di era modern dengan alat prediksi curah hujan yang mumpuni?

Tidak berlebihan jika kita menilai, pemerintah daerah kurang sigap menanggapi potensi bencana banjir di daerahnya. Tak seperti gempa bumi yang masih belum dapat diprediksi secara rinci kapan akan terjadi, banjir bandang sejatinya dapat relafit lebih mudah diprediksi. Nah, pertanyaannya, bagaimana selama ini pemerintah kota Samarinda dan pemerintah provinsi Kaltim menanggulangi bencana-bencana alam di daerah mereka? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3