Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Relawan

Suka berteman dengan siapa saja. Sila hubungi kontakbobby@zoho.eu. Menulis untuk berbagi kebenaran dan kebaikan.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Dua Kelucuan "Bukti Kecurangan" Menurut BPN Prabowo-Sandi

15 Mei 2019   13:20 Diperbarui: 15 Mei 2019   15:21 2691 26 17
Dua Kelucuan "Bukti Kecurangan" Menurut BPN Prabowo-Sandi
kompas.com

Sebagai pembaca kritis, saya menemukan sejumlah kelucuan dari bukti-bukti kecurangan yang diklaim Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga.

1. Di TPS "Siluman" Justru Suara Prabowo-Sandi Lebih Banyak

Dikutip dari berita Tempo.co yang dilansir pada Selasa (14/5), tim IT BPN Agus Maksum menuding ada keanehan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 13 di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

Di TPS 13 tersebut, menurut pria yang juga alumni ITS Surabaya, seluruh pemilih memiliki tanggal lahir yang sama, yakni pada 1 Januari 1946.

"Ini yang disebut TPS siluman," kata Agus saat memaparkan berbagai kecurangan yang ditemukan tim BPN pada acara simposium tentang kecurangan Pemilu 2019, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (14/5).

Akan tetapi, penelusuran menunjukkan bahwa di TPS tersebut, dari input data Situng terlihat Prabowo-Sandiaga memperoleh dukungan sebanyak 130 suara, sementara Jokowi-KH Ma'ruf hanya memperoleh 47 suara. Artinya Prabowo-Sandiaga menang telak 73,45 persen di TPS tersebut, dibanding Jokowi-KH Ma'ruf yang hanya memperoleh 26,55 persen.

Scan C1 TPS 13 di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat yang diunduh dari Situng KPU:

Situng KPU
Situng KPU
Jadi, di TPS yang diklaim siluman, justru Prabowo-Sandi yang menang. Bukan petahana. Tambah lagi, yang dipermasalahkan adalah bahwa seluruh pemilih memiliki tanggal lahir yang sama, yakni pada 1 Januari 1946.

Menjawab hal ini, Kemendagri sudah menjelaskan dalam berita CNN Indonesia bertanggal 11/03/2019 bahwa Permendagri 19 Tahun 2010 memuat peraturan tentang pencatatan tanggal lahir bagi warga yang lupa tanggal lahirnya. Jika seseorang lupa tanggal, tetapi ingat bulan lahir, maka akan ditulis lahir di tanggal 15 bulan tersebut.

Jika warga yang bersangkutan tidak ingat bulan dan tanggal, maka akan ditulis 31 Desember, 1 Januari, ataupun 1 Juli. Hal itu bergantung penduduk tersebut mengingat dirinya lahir di awal, pertengahan, atau akhir tahun.

"Itu sudah berlangsung sejak awal tahun 2000-an. Dan sudah diatur Permendagri 19 Tahun 2010," kata Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh saat dihubungi, Senin (11/3). Hal ini menjelaskan mengapa ada pemilih yang tanggal lahirnya sama.

2. Selisih Keunggulan Suara 02 Tetiba Berubah

Dalam pemberitaan sebelumnya, kubu Prabowo-Sandi mengklaim kemenangan sebesar 62 persen berdasarkan real count yang mereka adakan dari hasil penghitungan suara di 320.000 TPS. Saat ini angka itu berubah menjadi 54,24 persen, dengan kemenangan tetap ada di kubu 02. Sementara pasangan Jokowi-Ma'ruf hanya mengumpulkan suara sebanyak 44,14 persen.

Bagaimana menjelaskan perbedaan antara 62 persen dengan 54,24 persen? Data mana yang dirujuk oleh kedua klaim yang berbeda itu? Apakah datanya sama atau berbeda? Seharusnya jika data konsisten, selisih keunggulan tidak berbeda jauh.  Dalam persentase, tampak kecil. Akan tetapi, jika dikonversi menjadi jumlah pemilih, akan tampak bahwa ada jutaan suara yang sedang kita perbincangkan di sini.

Ke mana hilangnya jutaan suara itu? 

Wasana Kata

Kecurangan sistematis dan massal harusnya dibuktikan dengan bukti yang nyata dan bisa diverifikasi pihak luar. Jika klaim hanya bersumber data internal, warga yang kritis berpikir akan mempertanyakan secara serius kesahihan bukti itu. 

Jika BPN Prabowo-Sandi merasa keberatan, sila adu data dengan KPU. Oh ya, bukti yang membuktikan kecurangan yang menguntungkan petahana lho ya, bukan yang justru memenangkan paslon 02....

Sumber: seruji.co.id | cnnindonesia.com | kompas.com