Mohon tunggu...
Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Mohon Tunggu... pembelajar

Suka berteman dengan siapa saja. Sila hubungi kontakbobby@zoho.eu. Menulis untuk berbagi kebenaran dan kebaikan.

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Seberapa Baik Kita Perlakukan Karyawan dan Karyawati?

1 Mei 2019   06:16 Diperbarui: 1 Mei 2019   13:31 0 11 2 Mohon Tunggu...
Seberapa Baik Kita Perlakukan Karyawan dan Karyawati?
Ilustrasi buruh dan karyawan di pabrik pembuatan ponsel| Sumber: Techasia

Hari Buruh jadi momen yang tepat untuk bercermin diri sebagai majikan: seberapa baik kita memperlakukan karyawan dan karyawati kita?

Beberapa tahun lalu, saya bertugas di sebuah Gereja di suatu kabupaten. Suatu ketika, seorang karyawati muda -yang adalah umat Gereja tempat tugas saya- mengeluh pada saya.

"Saya sering tidak bisa ikut ibadah misa hari Minggu," keluhnya pada saya.

"Lho, kenapa tidak bisa. Minggu kan libur, Mbak?" tanya saya.

"Iya. Tapi hari Minggu saya kadang harus masuk kerja. Bos saya tidak mau tahu. Kalau jatah shift ya harus saya taati," tuturnya.

Mendengar penuturan sang karyawati toko itu, saya menghela nafas panjang.

Saya tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang majikan (yang ternyata juga Katolik) tidak memberi kelonggaran bagi karyawatinya yang Katolik untuk beribadah.

Duh, berarti si Bos tadi gagal total menjadi majikan yang baik.

tempo.com
tempo.com
Pegawai Jadi Seperti Saudara Sendiri
Kebetulan keluarga kami memiliki usaha kecil-kecilan di rumah. Orang tua saya mempekerjakan sejumlah karyawan dan karyawati. Sebagian besar tak seiman dengan kami.

Sebagaimana seharusnya, dengan segala keterbatasan kami, kami berusaha menjadi keluarga majikan yang baik.

Pernah memang telat menggaji. Pernah pula menyakiti hati karyawan dan karyawati dengan perilaku atau perkataan yang kurang pas.

Namun, soal mengasihi karyawan dan karyawati, orang tua saya berusaha memperlakukan mereka sebagai saudara dan saudari sendiri.

Ibu saya yang justru mengingatkan karyawan dan karyawati beragama Islam untuk menunaikan ibadah salat.

Adik saya yang waktu itu masih kecil kadang ikut si Mbak salat di musala belakang rumah. 

Karena terbiasa melihat si Mbak salat, adik saya -begitu melihat tikar- tetiba menirukan gerakan salat. Kami tertawa melihat tingkah polosnya.

Jelang libur Lebaran, orang tua saya berusaha memberi sedikit THR. Kadang memang tak berupa uang, tapi sembako sekadarnya.

Jujur, tak semua karyawan dan karyawati bertahan lama. Akan tetapi, ada juga karyawan dan karyawati yang cukup lama bekerja pada kami.

Salah satunya, sebut saja Mbak Asih.

Ia yang mengasuh saya waktu saya balita. Mbak Asih memang akhirnya memilih bekerja di kota, tapi tiap kali pulang kampung dan lewat depan rumah kami, ia selalu mampir. Yang ia tanyakan adalah kabar saya, yang ia asuh dengan penuh kasih-sayang seperti mengasuh anak sendiri.

Terakhir berkontak dengannya, ia terharu melihat saya yang telah tumbuh dewasa. Saya pun dibuatnya terharu karena ia ternyata terus mendoakan kami sekeluarga, termasuk saya, agar selalu dalam lindungan Tuhan Yang Esa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2