Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Tebar kebaikan lewat tulisan.

Pastor-biarawan. Suka berteman dengan siapa saja. MSF bukan gelar, itu tarekat saya: Missionariorum a Sacra Famiglia yang bergerak, antara lain, dalam pendampingan keluarga. Sila hubungi kontakbobby@zoho.eu. Penghargaan materi akan dipakai untuk menolong, termasuk hadiah Juara III BlogCom Kemensos (2019).

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

5 Fakta Unik Rini Sugianto, Animator Film-film Hollywood

21 Maret 2019   07:06 Diperbarui: 24 Maret 2019   20:23 1321 17 6
5 Fakta Unik Rini Sugianto, Animator Film-film Hollywood
cloudfront.net

Penggemar film-film Hollywood tentu pernah menonton film-film sukses (box office) seperti The Hobbit, Teenage Mutant Ninja Turtles, Avengers, Hunger Games, dan Ready Player One. Film Ready Player One masuk nominasi Oscar tahun ini.

Kalau cermat, di akhir film-film tersebut, muncul nama-nama animator, salah satunya Rini Sugianto. Ia adalah seorang wanita animator asal negara "berflower"(berkembang) Indonesia yang telah dipercaya menggarap animasi aneka film sukses Hollywood.

Lihat karya Rini di laman ini.

Ted 2 karya Rini-dokpri
Ted 2 karya Rini-dokpri
Mari kita simak 5 fakta Rini Sugianto

Pertama: Tak Suka Menggambar

Lho bukankah animator itu tugas utamanya menggambar? Memang benar. Tapi uniknya, sejak kecil Rini tak suka menggambar dengan tangan. Walau tak suka menggambar, Rini kecil sangat suka membaca komik. Komik kesukaannya adalah serial komik Petualangan Tintin, karya kartunis tenar Belgia, Herge. 

Sejak kecil, Rini sudah mengidolai tokoh Tintin, si wartawan berambut jambul yang berpetualang keliling dunia bersama anjingnya, Snowy.  Yang menarik, Rini dewasa akan menjadi salah satu animator komik favoritnya di masa kecil.

Tintin karya Rini-dokpri
Tintin karya Rini-dokpri
Kedua: Arsitek yang Jadi Animator

Rini yang lahir di Lampung pada 3 Januari 1980 tak bercita-cita jadi pekerja seni. Setelah lulus SMA pada tahun 1997,  ia memilih berkuliah di jurusan arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. 

Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja sebagai arsitek, barulah Rini mengenal dunia animasi. Saat itu, ia "terpaksa" membuat suatu animasi tiga dimensi untuk kepentingan pekerjaannya.

Uniknya, berawal dari "keterpaksaan" itu, Rini justru mulai menyukai dunia animasi. 

"(Saya) memulai belajar animasi dari belajar 3D dulu untuk arsitektur. Setelah itu baru menjalar ke animasi dan mulai merasa kalau animasi itu lebih tepat untuk saya," tuturnya.

Keputusan Rini sudah bulat. Ia akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai arsitek untuk menekuni profesi baru sebagai animator.

Ketiga: Awalnya Ditentang Keluarga

Ternyata keputusan Rini berpindah profesi itu awalnya ditentang oleh orang tuanya. Kita bisa menduga, apa saja alasan orang tua Rini keberatan dengan rencana alih profesi ini. Mungkin saja, sudah banyak uang diinvestasikan oleh orang tuanya untuk kuliah arsitektur Rini.

Hal lain, profesi animator bukanlah profesi yang populer. Apakah bisa hidup mandiri dan sejahtera dengan menjadi seorang animator? Mungkin ini pertanyaan yang muncul dalam benak orang tua Rini waktu itu.

Syukurlah, perlahan orang tuanya mau memahami kebulatan hati Rini menekuni dunia animasi.

Setelah setahun jadi arsitek, Rini terbang ke Amerika Serikat untuk mendalami teknik animasi. 

Pada tahun 2002, Rini mulai berkuliah sebagai mahasiswi program master dalam bidang animasi di Academy of Arts, San Francisco. 

Kampus ini dikenal sebagai kampus papan atas bagi para calon animator. Lulusan kampus ini umumnya bergabung dengan studio-studio animasi ternama seperti Dreamworks, Pixar, dan Walt Disney.

Keempat: Sempat Sulit Dapat Pekerjaan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2