Mohon tunggu...
Berbagi Ilmu
Berbagi Ilmu Mohon Tunggu... berbagi itu indah

kontakbobby@zoho.eu

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

28 Februari, 10 Langkah Praktis Rayakan Hari Gizi Nasional

28 Februari 2019   04:22 Diperbarui: 28 Februari 2019   05:19 0 7 3 Mohon Tunggu...
28 Februari, 10 Langkah Praktis Rayakan Hari Gizi Nasional
dinkes.acehprov.go.id

Tanggal 28 Februari adalah Hari Gizi Nasional (HGN). HGN  menjadi agenda penting bagi pemerintah dalam rangka sosialisasi program Perbaikan Gizi Nasional. Tujuan program ini adalah peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi.

Tulisan ini akan memaparkan 10 langkah praktis merayakan HGN: Tiga langkah praktis untuk dilakukan dalam organisasi kemasyarakatan dan keagamaan ; Tujuh langkah praktis di lingkup pribadi dan keluarga.

Kekurangan gizi di Indonesia lampaui ambang batas WHO

Doddy Izwardy, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan (8/3/2017) menyatakan, angka kekurangan gizi di Indonesia masih melampaui ambang batas WHO pada tiga kategori sekaligus:

Pertama, kategori indeks berat badan per usia.

Menurut penelitian Doddy dari tahun 2014 sampai 2016, indeks kekurangan gizi kategori berat badan per usia di Indonesia mencapai 17%. Padahal menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), ambang batas angka kekurangan gizi adalah 10%.

Kedua, indeks tinggi badan per usia

Dalam kategori indeks tinggi badan per usia, angka kekurangan gizi RI masih 27,5%. Padahal, ambang batas WHO adalah 20%.

Ketiga, indeks berdasarkan berat badan per tinggi badan. 

Angka kekurangan gizi pada kategori ini mencapai 11% sedangkan ambang batas WHO adalah 5%.

Indonesia darurat stunting

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek. Penderita stunting umumnya rentan terhadap penyakit seperti kelainan jantung dan diabetes, memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal serta produktivitas rendah. Tingginya prevalensi stunting dalam jangka panjang akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi Indonesia.

Hasil-hasil Riskesdas menunjukkan, besaran masalah stunting yang relatif stagnan sekitar 37% sejak tahun 2007 hingga 2013.

katadata.co.id
katadata.co.id
Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 menunjukkan, prevalensi stunting Indonesia mencapai 27,5 persen. Menurut standar WHO, masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stunting lebih dari 20 persen. 

Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagi di 14 provinsi yang prevalensinya melebihi angka nasional.

katadata.co.id
katadata.co.id
Penyebab dan pencegahan stunting

Stunting disebabkan oleh aneka faktor berikut:

1) rendahnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak janin hingga bayi berumur dua tahun. 

2) buruknya fasilitas sanitasi, 

3) minimnya akses air bersih, 

4) kurangnya kebersihan lingkungan hingga membuat tubuh harus secara ekstra melawan sumber penyakit sehingga menghambat penyerapan gizi.

Stunting dapat dicegah dengan cara-cara berikut:

1) pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil,

2) pemberian ASI eksklusif selama enam bulan kemudian dilanjutkan dengan MPASI. 

3) pemeriksaan kesehatan balita secara rutin di Posyandu,

4) memenuhi kebutuhan air bersih, 

5) meningkatkan fasilitas sanitasi, dan

6) menjaga kebersihan lingkungan.

Upaya pemerintah menurunkan angka stunting

Lily Arsanti Lestari, Dosen Gizi Kesehatan UGM menyatakan (25/1/2018), pada tahun 2010, tim UGM bekerja sama dengan Pemda Asmat, Papua untuk meneliti persoalan gizi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan, ada dua faktor penyebab persoalan kekurangan gizi masyarakat Asmat:

Pertama, akses transportasi yang sangat susah sehingga harga-harga bahan makanan mahal.

Kedua, faktor antropologi, yakni tiadanya budaya makan ikan. Masyarakat menjual ikan, tetapi tidak suka memakan ikan. Ikan yang tidak laku justru dibuang, tidak dikonsumsi padahal masih baik untuk dimakan.

Pada periode September 2017 hingga pertengahan Januari 2018, wilayah Asmat dilanda wabah campak dan gizi buruk hingga menyebabkan 70 anak meninggal dunia.

Pemerintah RI di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo telah berupaya menggenjot pembangunan jalan di seluruh wilayah Indonesia, tak terkecuali di Papua. Ketersediaan infrastruktur ini diperlukan untuk melancarkan akses transportasi ke daerah-daerah terpencil seperti Agats. Harapannya, transportasi mudah, harga jadi murah.

"Untuk masalah gizi anak-anak, saya berpesan kepada Pak Bupati agar hal ini betul-betul diperhatikan," kata Presiden Jokowi seusai kembali dari kunjungan kerja selama di Agats, Papua, Kamis (12/4/2018). 

Jokowi mengatakan, pemerintah telah membangun penampungan air bersih di sembilan titik, lima di antaranya di Kota Agats. Pemerintah juga sedang membangun rumah-rumah sehat untuk warga Agats dan dilengkapi dengan jembatan beton dan kayu karena pemukiman warga Agats dan Asmat umumnya dibangun di atas lahan rawa.
Di sisi lain, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga gencar mengkampanyekan kebiasaan makan ikan. "Yang tidak mau makan ikan, saya tenggelamkan", katanya.

Menanti kerjasama elemen bangsa dalam memberantas stunting

Harus diakui, menurunkan angka stunting adalah pekerjaan rumah yang sangat sulit. Pemerintah melalui aneka terobosan, termasuk Program Keluarga Harapan, berupaya meningkatkan daya beli masyarakat miskin dalam membeli makanan bergizi. Peserta PKH juga diwajibkan memeriksakan kesehatan anak secara rutin di Posyandu terdekat.

Pemerintah jangan kita biarkan sendirian memberantas gizi buruk. Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan punya kewajiban moral untuk ikut memberantas stunting

Tiga langkah praktis organisasi kemasyarakatan dan keagamaan rayakan HGN:

1. Alokasikan dana, waktu, dan tenaga untuk kegiatan positif bagi penyediaan gizi anak-anak

Mirisnya, sebagian ormas keagamaan justru menghabiskan banyak dana untuk menggelar acara-acara "keagamaan" yang justru menjurus ke dukungan politis. Mengapa tidak menggunakan dana, waktu, dan tenaga untuk mengirim makanan bergizi dan air bersih ke kantong-kantong stunting di pelosok tanah air? Manfaatkanlah jaringan yang ada di daerah untuk menyediakan relawan yang mendukung upaya pemerintah.

2. Dukung pembangunan infrastruktur

TNI AD bangun jalan di Papua -poskotanews.com
TNI AD bangun jalan di Papua -poskotanews.com
Pembangunan infrastruktur, seperti jalan, bendungan, rumah sehat, dan tempat penampungan air bersih harus didukung, bukan dicibir. Bagaimana pun, infrastruktur amat vital untuk memudahkan distribusi pangan bergizi ke pelosok negeri. Meskipun dibangun sebagian dengan utang, toh manfaatnya bagi rakyat kecil amat dirasakan. Utang infrastruktur akan dapat "dilunasi" dengan peningkatan ekonomi masyarakat dan dengan peningkatan mutu SDM. 

3. Beri edukasi pada masyarakat yang masih berpandangan keliru

Ormas dan lembaga-lembaga keagamaan perlu turut memberi pendidikan pada masyarakat untuk meluruskan pandangan keliru, misalnya tidak mau berusaha karena merasa sudah nasibnya hidup miskin, tidak mau makan ikan, tidak mau ke puskesmas tapi malah pergi ke juru sembuh tradisional yang tak jelas, dan lain-lain.

Dakwah dan khotbah menjadi kesempatan untuk memberi edukasi positif semacam ini, bukan untuk memecah belah masyarakat.

Tujuh langkah praktis pribadi dan keluarga untuk merayakan HGN

Masing-masing warga negara Indonesia juga diajak untuk berbuat sesuatu bagi anak-anak penderita gizi buruk di lingkungan masing-masing. Ingat bahwa di Pulau Jawa pun, masih banyak anak kurang gizi.

Anda dan keluarga dapat melakukan tujuh langkah praktis  ini untuk menghayati pesan inti Hari Gizi Nasional:

1. Membiasakan makan makanan bergizi untuk diri, keluarga, dan komunitas.

Hindari makanan cepat saji. Biasakan memasak makanan dengan cermat agar masakan tak hilang nilai gizinya.

2. Menanam tanaman bernilai gizi dan pengobatan.

Mari tanam tanaman buah dan sayur serta tanaman obat keluarga (TOGA) di lahan yang ada di rumah. Bisa juga secara kreatif menanam dengan sistem tabulampot, vertical garden, memanfaatkan pot dari plastik bekas botol, dan sebagainya. 

contoh vertical garden - www.123rf.com
contoh vertical garden - www.123rf.com
3. Menjadi relawan Posyandu dan penggerak PKK yang beri edukasi soal pentingnya gizi, terutama bagi ibu hamil dan balita.

4.  Menjadi donatur kegiatan pemberian makanan bergizi di tingkat akar rumput: RW, desa, kelurahan, sekolah, masjid, gereja, vihara, dan lain-lain.

tabukanews.com
tabukanews.com
5. Menulis untuk memberi informasi yang benar tentang bahaya dan pencegahan stunting. 

6. Manfaatkan obrolan di warung kopi, angkringan, arisan, obrolan saat makan di tengah keluarga dan di tempat kerja untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya gizi dan pemberantasan kekurangan gizi kronis.

7. Memanfaatkan media sosial untuk mendukung upaya pihak-pihak yang berkehendak baik untuk memberantas stunting. Jangan malah nyinyir pada upaya baik untuk menurunkan stunting

Salam Indonesia cerdas dan sehat! Tulisan saya yang lain: https://www.kompasiana.com/bobby18864

Sumber:

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170309074408-255-198873/angka-kekurangan-gizi-indonesia-diatas-ambang-batas-who

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/04/05/178-balita-indonesia-kekurangan-gizi

https://regional.kompas.com/read/2018/04/13/11400091/jokowi-saya-pesan-pak-bupati-asmat-gizi-anak-betul-betul-diperhatikan.
http://www.tribunnews.com/regional/2018/01/25/angka-gizi-buruk-di-indonesia-masih-tinggi-inilah-penyebabnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x