Mohon tunggu...
Bobby MSF
Bobby MSF Mohon Tunggu... pembelajar

kontakbobby@zoho.eu. Buku Perdana= http://bit.ly/Wanitamulia Buku Kedua= http://bit.ly/SantoYusuf

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Madu Pak Frans dan Hidupnya yang Pahit

17 Februari 2019   05:30 Diperbarui: 17 Februari 2019   05:57 0 8 3 Mohon Tunggu...
Madu Pak Frans dan Hidupnya yang Pahit
https://www.brilio.net

Mentari Jogja siang itu begitu terik. Ria yang baru saja pulang dari kampusnya terjebak macet di perempatan Monumen Jogja Kembali. Mobilnya tak berkutik dikepung motor di segala sisi. Sudah begitu, AC mobilnya tak lagi dingin. "Dasar mobil butut," keluhnya.

Ia lalu membuka layar ponsel. "Ria, Mama tidak bisa belikan kamu mobil baru. Sabarlah. Mungkin bulan depan. Bulan ini, mama masih harus bayar tunggakan gaji karyawan."

Membaca pesan itu, Ria tambah cemberut. Ia tak bisa mengerti mengapa mamanya tidak segera menuruti permintaannya. Biasanya mama memanjakannya. Maklumlah, Ria anak tunggal. Papanya meninggal ketika ia masih kelas satu SD. Sejak saat itu, praktis mamanya hanya punya satu-satunya yang jadi pusat perhatian: Ria.

Pelan-pelan kendaraan di depan mobilnya bergerak. Ria mulai memacu mobilnya. Setengah jam berikutnya, ia tiba di jalan kampung yang mengarah ke rumah indekosnya. Ponselnya berdering kencang. Stella segera meraih ponsel yang ditaruhnya di jok samping. Sial, ponsel itu lepas dari genggamannya dan jatuh. Ria melongok ke bawah jok, mencari-cari ponselnya.

"Braak!!!" Ria spontan mengerem mobilnya. "Aduh, aduh!" rintih lelaki yang baru saja ditabraknya. Sang lelaki itu terkapar di tepi jalan setelah diserempet mobil Ria. Ria bergegas keluar dari mobilnya. "Maaf Pak...Saya yang salah." Ria tambah merasa bersalah setelah menyadari bahwa Sang bapak itu seorang difabel. Kaki kirinya tak sempurna. Itulah mengapa si Bapak membawa sebuah kruk.

"Saya yang salah, Mbak. Saya tadi nyebrang terlalu pelan. Maklumlah karena keadaan kaki saya," tutur lelaki paruh baya itu.

"Bapak saya bawa ke rumah sakit, ya?" kata Ria gugup. Sambil menahan sakit, si Bapak mengiyakan. Dibantu beberapa orang kampung, Ria memapah si Bapak ke dalam mobilnya.

***

Tak lama, sampailah mereka berdua di rumah sakit. Untunglah, dokter memastikan bahwa si Bapak hanya lecet-lecet saja dan boleh rawat jalan. Ria menghela nafas lega. "Nama Bapak siapa dan tinggal di mana? Nanti saya antar ke rumah. Semua biaya pengobatan saya tanggung."

"Makasih, Mbak. Saya Frans Sutrisno. Biasa dipanggil Pak Frans. Rumah saya tidak jauh dari tempat kecelakaan tadi. Nama Mbak siapa?

"Saya Rosaria. Panggil saja Ria. Asli saya Surabaya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3