Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... -samadi-

Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

10 Keping Sisi Humanis Soedirman, Sang Jenderal Budiman

24 Januari 2019   05:18 Diperbarui: 24 Januari 2019   08:03 378 15 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
10 Keping Sisi Humanis Soedirman, Sang Jenderal Budiman
www.merdeka.com

Seandainya Soedirman masih hidup, hari ini, 24 Januari 2019, beliau merayakan ulang tahun ke-103. Mari kita rayakan "ulang-tahun" ke-103 Jenderal Besar Raden Soedirman dengan mengenal sepuluh keping sisi humanis sang jenderal budiman ini. 

Keping Pertama: Anak Angkat nan Berbudi

Soedirman dilahirkan bukan sebagai anak priyayi atau bangsawan. Ia lahir dalam keluarga petani sederhana pada tanggal 24 Januari 1916 di Desa Bodaskarangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ayahnya, Karsid Kartawiradji, adalah mandor tebu di sebuah pabrik gula di Purwokerto. Ibunya bernama Siyem.  

Sejak masih kecil, Soedirman diangkat anak oleh suami bibinya. Bibi Soedirman menikah dengan R. Tjokrosunaryo, Asisten Wedana di Rembang, Purbalingga. 

Soedirman memasuki Hollandsche Inlandsche School (HIS) di Cilacap saat berumur tujuh tahun. Pamannya mendidik Soedirman untuk menjadi pribadi tepat waktu, hemat, dan mampu membagi waktu dengan baik. Tak kalah penting, Soedirman diajar mengaji. Bibinya mendidik Soedirman bersopan santun agar luwes bergaul di kalangan priyayi. Berkat pendidikan paman dan bibinya, Dirman menjadi anak angkat yang berbudi luhur.

Keping Kedua: Dirman Si "Pak Haji Kecil"

Pelajaran-pelajaran favorit Dirman saat bersekolah di  Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) dan Perguruan Parama Wiworo Tomo (1932-1935) adalah ilmu tata negara, sejarah dunia dan nasional, bahasa Inggris, dan agama Islam. Soedirman sungguh tekun mempelajari agama Islam. Teman-temannya sampai menjulukinya sebagai "kaji" (dalam bahasa Indonesia artinya "Pak Haji"). Ya, Dirman demikian rajin mengaji dan berperilaku saleh hingga ia pantas dijuluki “Pak Haji kecil”.

Keping Ketiga: Pandu Teladan

Selain aktif di sekolah, Soedirman remaja giat mengikuti kepanduan (kini disebut pramuka) Hizbul Wathon (HW). Kepanduan ini berada di bawah naungan Muhammadiyah. Keterlibatannya dalam kepanduan sungguh mengasah bakat-bakat kepemimpinan Soedirman.

Ada satu kisah menarik saat Soedirman mengikuti jambore di lereng Gunung Slamet. Udara di lereng gunung itu sangat dingin. Saat anggota pandu lain memilih bermalam di rumah penduduk dan meninggalkan tenda, Soedirman memilih untuk tidur sendiri di kemah. Ia pandu teladan yang bermental baja.

Keping Keempat: Cinta Ekonomi Kerakyatan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x