Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Tebar kebaikan lewat tulisan.

Pastor dan biarawan. Suka berbagi ilmu dan berteman dengan siapa saja. MSF bukan gelar, itu tarekat saya: Missionariorum a Sacra Famiglia yang bergerak, antara lain, dalam pendampingan keluarga.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Cupika-Cupiki dan Salah Paham Batas Interpersonal Space

15 Januari 2019   03:59 Diperbarui: 15 Januari 2019   04:27 187 2 1
Cupika-Cupiki dan Salah Paham Batas Interpersonal Space
https://www.researchgate.net/figure/Representation-of-Edward-Halls-reaction-bubbles-28_fig6_291516650

Tiap kali saya datang ke tempat baru di Italia, saya disambut dengan rangkulan hangat saat pertama kali bertemu. Kadang-kadang bahkan mendapat cupika-cupiki dari para ibu dan pemudi. Sekadar catatan, bisa jadi kehangatan itu karena umumnya orang-orang yang saya jumpai tahu identitas saya sebagai pastor. Tapi, tak jarang saya amati, orang-orang di Italia saling memeluk hangat dan cupika-cupiki meski bukan saudara atau sahabat dekat.

Saya awalnya sering ragu-ragu menerima "sinyal" tawaran untuk berpelukan dan bercupika-cupiki. Lama-lama saya sadar, saya bukan di Indonesia lagi. Saya di Eropa Selatan, di mana masyarakat memiliki batas ruang antarpribadi (interpersonal space) yang berbeda dengan masyarakat Indonesia. Karena itu, saya kini lebih terbuka menerima pelukan dan cupika-cupiki, tentu saja dalam batas yang wajar (selalu di hadapan umum).

Asal Konsep Ruang Antarpribadi

Istilah personal space pertama kali dicetuskan antropolog Edward T. Hall pada tahun 1966. Ia menggagas konsep proxemics. Dalam buku The Hidden Dimension, ia mengulas dimensi subjektif yang mengelilingi tiap orang dan jarak fisik yang coba dijaga setiap orang dari orang lain menurut aturan-aturan kultural yang lembut (subtle). 

Ruang personal tiap orang dan ruang nyaman tiap orang sangat berlainan dan sulit diukur dengan pasti. Seorang Eropa pada umumnya memasang ruang personal sekitar 60 cm di kanan-kirinya, 70 cm di depannya, dan 40 cm di belakangnya. Ruang personal bervariasi menurut pengalaman pribadi dan budaya.

Seorang yang trauma karena pernah dikeroyok bisa jadi memasang marka ruang personal lebih jauh dari "standar umum". Seorang yang tinggal di kota besar dan harus tiap hari berdesak-desakan di bus tentu memasang ekspektasi ruang personal yang lebih sempit dibanding orang desa yang punya lebih banyak ruang bebas.

Empat Zona "Gelembung"

Edward Hall melukiskan ruang antarpribadi sebagai "gelembung-gelembung" yang diciptakan tiap pribadi saat ia berada di dekat orang lain. Ada empat zona ruang antarpribadi:

1) Jarak intim (intimate distance): persentuhan tubuh (0 cm) sampai sekitar 45 cm. Jarak intim ini hanya boleh diakses di antara/oleh seseorang dengan pasangan, anak-anak, anggota keluarga dekat, sahabat, dan hewan peliharaannya.

2) Jarak personal  (personal distance): mulai dari sekitar 45 cm (jarak satu lengan) sampai 120 cm. Ini jarak yang umumnya kita pasang saat ngobrol dengan teman, rekan kerja, dan rekan diskusi.

3) Jarak sosial (social distance): mulai dari 1,2 meter- 3,6 meter. Ini jarak yang umumnya dijaga antara seorang dengan seorang asing yang baru dijumpainya, antara anggota baru suatu kelompok, dan kenalan baru. 

4) Jarak public (public distance): mulai dari 3,6 meter - 7,4 meter. Jarak ini digunakan saat berinteraksi dengan publik, misalnya di kelas, ruang rapat, dan teater. 

 

Variasi Tergantung Negara

Para ahli berpendapat, batas jarak antarpribadi yang kita pasang sangat tergantung di mana kita dibesarkan dan hidup. Para ahli membagi dunia menjadi budaya-budaya yang berkontak (contact cultures): misalnya Amerika Selatan dan Eropa Selatan dan budaya-budaya yang tidak berkontak (non contact cultures"), misalnya Eropa Utara, Amerika Utara, dan Asia. Di budaya-budaya tak berkontak ini, orang berdiri lebih jauh dari orang lain dan jarang bersentuhan. 

Sebuah studi dalam Journal of Cross-Cultural Psychology, "Preferred Interpersonal Distances: A Global Comparison" pada tahun 2017 meneliti ideal jarak antarpribadi menurut 9.000 orang dari 42 negara.  

Peneliti meminta responden memberi tanda pada sebuah gambar di mana ada dua orang saling berhadapan. 

https://acoarecovery.wordpress.com/tag/healthy-boundaries/
https://acoarecovery.wordpress.com/tag/healthy-boundaries/
Sampai sejauh apa jarak yang mereka pasang bila berjumpa dengan orang asing, teman, dan keluarga/orang dekat. Pertanyaan yang harus dijawab responden ialah: Bayangkan Anda menjadi si A. Seberapa jauh seharusnya si B berdiri dari posisimu? Apakah jarak itu berubah bila si B adalah 1) orang asing, 2) teman, dan 3) saudara dekatmu? 

 

Menyimak Posisi Indonesia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3