Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Tebar kebaikan lewat tulisan.

Pastor dan biarawan. Suka berbagi ilmu dan berteman dengan siapa saja. MSF bukan gelar, itu tarekat saya: Missionariorum a Sacra Famiglia yang bergerak, antara lain, dalam pendampingan keluarga.

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

Baca Ini Sebelum Serbu Medsos Artis Terjerat Prostitusi

11 Januari 2019   23:25 Diperbarui: 11 Januari 2019   23:50 359 6 3
Baca Ini Sebelum Serbu Medsos Artis Terjerat Prostitusi
https://pixabay.com

Polda Jatim membeberkan enam nama artis yang diduga kuat terlibat jaringan prostitusi online yang diduga melibatkan 45 artis dan 100 model cantik (11/1/2019). Di antara enam, dua artis adalah mantan finalis Puteri Indonesia. Saya bisa pastikan, berita ini akan menjadi magnet luar biasa bagi nyamuk-nyamuk pers dan warganet. Serbuan warganet ke akun medsos para artis terkait pasti tak terhindarkan. Kebanyakan segera memberi komentar yang menyalahkan, merendahkan, bahkan bernuansa cabul.

Melawan Arus "Penghukuman Sosial"

Parahnya, kita sering lupa, para artis itu juga manusia yang perlu empati. Siapa di antara kita yang pernah berandai-andai, "Seandainya artis itu adik perempuan saya, apa komentar yang akan saya tinggalkan di medsosnya? Tegakah saya memberi komentar tak pantas, yang merendahkan martabatnya? Sampai hatikah saya menjadikannya sebagai bahan lelucon dan bahan untuk menarik traffic SEO di dunia maya?"

Jangankan nama, inisial para artis pun tidak pernah saya sebut dalam artikel saya. Kenapa? Saya tidak ingin ikut-ikut arus utama "penghukuman (di media) sosial". Belum lagi, para artis tersebut saat ini masih sebagai saksi !  Saya cenderung mengikuti rambu-rambu Komisioner Komisi Perempuan berikut ini:

1. Agar penegak hukum berhenti mengekspos secara publik penyelidikan prostitusi online yang dilakukan;
2. Agar pihak media tidak mengeksploitasi perempuan yang dilacurkan, termasuk dalam hal ini artis yang diduga terlibat dalam prostitusi online;
3. Agar media menghentikan pemberitaan yang bernuansa misoginis dan cenderung menyalahkan perempuan;
4. Agar masyarakat tidak menghakimi secara membabi buta kepada perempuan korban eksploitasi industri hiburan.

Pikir Dulu Sebelum Tinggalkan Jejak Digital

Saya sebenarnya menyayangkan pihak kepolisian, media, dan sebagian dari kita, yang -kesan saya- menganggap anjuran Komisi Perempuan ini sebagai angin lalu.  Hari-demi hari, eksploitasi dan pemberitaan serta framing timpang terus dialamatkan pada para artis wanita, bukan pada muncikari dan para konsumen/klien prostitusi (pihak laki-laki).

Mari kita hormati proses penyelidikan yang masih berlangsung. Meskipun mungkin para artis itu nantinya dinyatakan bersalah dan dinaikkan statusnya sebagai tersangka, toh mereka tetap manusia yang punya hati dan perasaan. Suatu kesalahan dalam hidup memang perlu dijadikan bahan pelajaran.

Akan tetapi, komentar, meme, foto, video tak pantas kiranya tidak perlu kita sematkan di akun medsos mereka dan kita sebarkan di dunia maya. Ingat bahwa jejak digital sulit dihapus dan bisa dilihat oleh anak-cucu para artis bertahun-tahun kemudian. Tentang hal ini, telah saya ulas dalam dua artikel, yang jadi artikel utama dan pilihan Kompasiana.

Referensi:
tribunnews.com