Mohon tunggu...
Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Mohon Tunggu... pembelajar

Suka berteman dengan siapa saja. Sila hubungi kontakbobby@zoho.eu. Menulis untuk berbagi kebenaran dan kebaikan.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Agnes Monica, Jokowi, dan Suara Pemilih Muda

11 Januari 2019   22:00 Diperbarui: 12 Januari 2019   00:44 0 6 1 Mohon Tunggu...
Agnes Monica, Jokowi, dan Suara Pemilih Muda
KOMPAS.com/Ihsanuddin

Di tengah ingar-bingar berita prostitusi kelas atas, artis papan atas Agnez Mo bertemu dengan Presiden Jokowi (11/1/2019). Agnes berkata, pembicaraan tertutup dengan kepala negara tidak membahas politik, namun lebih membahas dunia musik dan peran anak muda memerangi hoaks.

Magnet AgnezMo

AgnezMo adalah artis papan atas. Agnez Mo tahun ini masuk dalam nominasi iHeart Music Awards kategori Social Star Award. Ini adalah penghargaan tahunan yang dipersembahkan untuk artis dan musik paling populer selama satu tahun terakhir di Amerika Serikat.

Pengikut setianya di Instagram @agnezmo mencapai 17 juta. Pelanggan kanal Youtubenya mencapai 525 ribu. Yang menarik, hampir tidak ada skandal besar yang melanda mantan artis cilik ini. AgnezMo adalah magnet bagi generasi milenial.

"Kemiripan" Jokowi dan AgnezMo

AgnezMo adalah artis yang bekerja keras menggapai karir internasional. Beberapa waktu lalu, banyak warganet yang masih mencibirnya karena ia tak kunjung merilis album internasional. Namun, pencapaian AgnezMo saat ini menjawab segala kritik itu. Videonya "Overdose" sudah ditonton hampir 13 juta kali dalam kurun tiga bulan saja. Video lain "Long As I Get Paid" ditonton hampir 25 juta kali. Tambah lagi, ia masuk nominasi bergengsi di Amerika sana. Ia bersaing dengan sederet nama-nama terkenal seperti Cardi B, Drake, Ariana Grande, Shawn Mendes, Post Malone, Maroon 5, dan Imagine Dragon.

AgnezMo seperti "kembaran" Jokowi dalam hal merangkak dari bawah untuk mencapai kesuksesan. Jokowi menjadi pengusaha sukses dengan penuh perjuangan selama bertahun-tahun. AgnezMo dan Jokowi dapat menjadi contoh bagi generasi muda milenial dalam menggapai prestasi dengan kerja keras. Saya pikir, kesamaan kisah hidup inilah yang akhirnya mendorong keduanya untuk bertemu dan bertukar gagasan.

Magnet Pemilih Muda

KPU memerkirakan jumlah pemilih muda saat ini mencapai 70-80 juta orang. Sementara jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) tercatat 185 juta jiwa. Dan dari 185 juta itu, lebih dari lima juta adalah pemilih pertama, yang baru pertama kali ikut pemilu.  Tak heran, para kandidat bersaing memperebutkan suara pemilih muda usia itu. Aneka cara dilakukan para kandidat untuk menarik simpati anak muda, mulai dari mendekati partai yang mayoritas digawangi anak-anak muda, ngevlog, sampai memakai pakaian yang "milenial".

Apakah pertemuan dengan sang diva memengaruhi secara signifikan dukungan pemilih milenial ke kubu Jokowi? Saya tidak bisa menilai. Akan tetapi, satu hal yang saya tahu: mustahil untuk mengatakan pertemuan dengan AgnezMo tidak berpengaruh apa-apa terhadap perolehan suara Jokowi.

Seperti kita tahu, logika pemilih muda beda dengan pemilih "tua". Pemilih muda kiranya cenderung silap dengan pilihan idolanya, tanpa banyak berpikir soal visi dan misi kandidat yang "didukungnya". Bisa jadi, di antara jutaan pengikut AgnezMo, ada yang lantas mengikuti "preferensi politik" sang bintang idolanya.

Tak Cukup Kebintangan

Hemat saya, kandidat yang bijak tak cukup "hanya" memanfaatkan kegemerlapan selebritas yang "mendukung"nya. Kandidat tetap perlu memberikan penjelasan visi dan program yang berbobot. Selebritas bisa diajak bekerja sama untuk memviralkan misi dan program itu agar sampai ke hati para pemilih muda. Semoga!

Kota Abadi, 11 Januari 2019

referensi: www.tribunnews.com

Tulisan lainnya: 1, 2