Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Keberagaman adalah anugerah terbaik bagi Indonesia

ruangberbagikompasiana@gmail.com. Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial. Hak cipta dilindungi UU.

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Saat Korban Perkosaan Ungkap Identitas Dirinya

6 Januari 2019   18:00 Diperbarui: 6 Januari 2019   18:31 514 5 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Saat Korban Perkosaan Ungkap Identitas Dirinya
www.dawn.com

Saya terkejut saat dua hari lalu membaca berita kasus dugaan perkosaan yang menimpa R.A. mantan sekretaris Anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, S.A.B.

Keterkejutan itu karena akhirnya korban mengungkap identitas dirinya. Ia meminta wartawan menampilkan nama lengkap dan fotonya secara terang-benderang. Ini fenomena baru, setahu saya, dalam upaya perlawanan terhadap kejahatan seksual di Indonesia.

Gerakan "Me Too"

Rizky Amelia, nama sang korban, berani mengungkap jati dirinya karena ia benar-benar ingin berbicara lantang melawan (para) pelaku kekerasan seksual. Ia ingin mendobrak rasa bersalah yang ironisnya kerap menghantui para korban perkosaan dan pelecehan seksual. Bukankah seharusnya yang merasa bersalah adalah pelaku, dan bukan korban?

Apa yang ia lakukan sejatinya sejalan dengan gerakan global "Me Too". Dalam bahasa Indonesia, gerakan ini dapat kita terjemahkan sebagai gerakan "Saya Juga (Korban)": saya juga korban kejahatan seksual. Gerakan ini viral pada bulan Oktober 2017 sebagai tagar (hashtag) di medsos untuk menunjukkan betapa maraknya kekerasan seksual, utamanya di dunia kerja. Gerakan ini muncul segera sesudah mencuatnya dugaan pelecehan seksual oleh Harvey Weinsten, produser film Holywood.

Tarana Burke, seorang aktivis sosial, telah mulai memakai ungkapan "me too" sejak 2006. "Me Too" makin dipopulerkan oleh aktris Alyssa Milano melalui Twitter pada tahun 2017. Gerakan "Me Too" ini didukung oleh banyak selebritas, termasuk Gwyneth Paltrow, Ashley Judd, Jennifer Lawrence, dan Uma Thurman.

Kegagalan Kita Berempati pada Korban

Coba Anda simak komentar warganet atas suatu berita perkosaan atau pelecehan seksual. Selalu saja ada warganet yang berkomentar demikian: "Salahnya sendiri, pakai pakaian tidak tertutup sehingga mengundang nafsu pelaku" atau "Diperkosa kok sampai empat kali dan tidak juga lapor? Itu suka sama suka."

Mari kita kritisi pendapat di atas:

Keberatan atas pendapat pertama

Memang benar, pakaian yang terlalu terbuka bisa mengundang kejahatan. Akan tetapi, apa kriteria "pakaian terbuka" itu? Di negara-negara yang pakaiannya serba tertutup rapat sekali pun, perkosaan tetap terjadi. Siapa bisa menjamin bahwa jika seorang wanita berpakaian tertutup rapat, ia tidak akan jadi korban pelecehan seksual?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN