Bob S. Effendi
Bob S. Effendi wiraswasta

Promotor Thorium Energy, Konsultan Nuklir dan EBT, Pengurus KADIN ETLH, Pokja ESDM KEIN

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

ThorCon akan Bangun Industri Nuklir Nasional

13 Juni 2018   11:00 Diperbarui: 4 Agustus 2018   13:19 1505 0 0
ThorCon akan Bangun Industri Nuklir Nasional
dokpri

ThorCon bukanlah nama yang asing bagi sektor nuklir Indonesia tapi banyak yang belum paham bahwa ThorCon bukan hanya sekedar akan membangun PLTN Thorium dengan investasi 100% swasta tanpa APBNyang dapat menghasilkan listrik murah dengan harga jual di bawah $7 sen/kwh tetapi akan juga membangun sebuah industri nuklir nasional dengan kapasitas 20 unit PLTN atau setara dengan kapasitas 10,000 MW per tahun serta menciptakan lapangan kerja untuk 10,000 orang serta supply chain lokal.

Itulah komitmen yang di sampaikan oleh David Devanney, CEO ThorCon International kepada Wamen ESDM, Ketua KEIN beserta anggota KEIN lainya dan Ketua DPD RI, Oesman Sapta dalam kunjungannya ke Indonesia pada akhir Mei 2018.

David memaparkan kepada ketau DPD RI, Oesman Sapta
David memaparkan kepada ketau DPD RI, Oesman Sapta
Posisi kepemimpinan ESDM yang sudah tidak mempermasalahkan lagi polemik opsi terakhir yang secara terbuka di sampaikan oleh Wamen ESDM dalam berbagai media seharusnya  menjadi angin segar bagi sektor Nuklir Indonesia tapi justru membuat pusing karena pra-syarat yang di tetapkan oleh Wamen ESDM. 

Pra-syarat pertama, PLTN di bangun dengan skema IPP tanpa APBN. Kedua,  harga jual listrik IPP harus di bawah $7 sen/ kwh. Pra-syarat ini sebenarnya sesuatu yang dapat di pahami karena harapannya PLTN dapat menekan tarif listrik Indonesia yang tergolong mahal (baca: tidak terjangkau) dengan menekan BPP Nasional yang terus naik sehingga mendongkrak inflasi dan pada akhirnya menurunkan daya beli masyarakat. 

Pra-syarat tersebut Jelas tidak mungkin di capai oleh semua PLTN konvensional yang beroperasi saat ini. Tetapi bagi ThorCon yang menggunakan reaktor jenis garam cair, Molten Salt Reactor bukanlah masalah, bahkan sudah di sampaikan secara tertulis dan lisan kepada ESDM dan KEIN.

Pra-syarat lainya yang juga akan menjadi beban bagi PLTN konvensional adalah yang di tetapkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir, BAPETEN untuk meningkatkan jaminan keselamatan, yaitu meningkatkan batas waktu reaktor harus dapat bertahan secara pasif tanpa bantuan catu daya, yang di sebut grace period,  dari awalnya 2 hari menjadi 7 hari, mengikuti jejak Jepang paska Fukushima --Bagi PLTN konvensional berpendingin air hal ini mustahil di capai tanpa mengorbankan keekonomisan, tetapi bukan masalah bagi desain ThorCon yang dapat bertahan sampai 300 hari.

Desain ThorCon telah di review oleh IAEA dan masuk dalam daftar ARIS (Advanced Reactor Information System) sejak 2016 dan juga telah di review oleh US DOE dan Argonne National Lab dan sejak April 2018 telah menerima dua kali menerima bantuan dana program GAIN (Gateway for Accelerated Innovation in Nuclear) untuk penelitian bersama dengan Argonne untuk pengembangan teknologi MSR. --hal ini menunjukan bahwa desain ThorCon adalah desain komersial yang sangat bagus dan dapat segera di bangun dalam waktu dekat.

Apakah Indonesia akan menjadi negara pengguna PLTN seperti Taiwan dan Pakistan atau negara yang memiliki industri Nuklir seperti Korea Selatan dan China sehingga dapat menjadi exportir PLTN  -- Pertanyaan mendasar ini dalam setiap pembahasan PLTN selalu luput di bahas. Padahal ketika Indonesia menyatakan untuk membangun PLTN, pertanyaan inilah yang harusnya di bahas, karena akan mempengaruhi roadmap nya . --Bila saya jelas memilih memiliki Industri bukan HANYA SEKEDAR mempunyai PLTN.

Tapi sayangnya sampai saat ini baru ThorCon yang memberikan komitmen secara tertulis dan terbuka akan membangun pabrik PLTN. Sebagian besar vendor PLTN, baik China, Russia maupun lainnya yang sering berkomunikasi dengan pihak Indonesia lebih banyak hanya menawarkan pengadaan PLTN melalui EPC atau melalui skema pinjaman lunak yang pada akhirnya menjadi beban APBN juga dan hanya menjadikan Indonesia pengguna PLTN.

Devanney menjelaskan pada tahap awal ThorCon akan melakukan investasi sebesar $935 juta atau sekitar Rp13,6 Trliliun untuk membangun prototype 500 MW PLTT di Indonesia sebagai skema Independent Power Producer (IPP) yang akan menjual listriknya dengan target di bawah US$ 7 sen/kwh setelah beberapa unit terpasang di Indonesia maka ThorCon akan membangun pabrik  di Indonesia yang di perkirakan paska 2030.

Dengan konsep IPP maka sesungguhnya tidak ada resiko bagi Pemerintah, tidak memakai APBN dan di bayar dari hasil penjualan listrik. Artinya ThorCon adalah investor berbeda dengan yang lainnya sebagai vendor, dengan kata lain ingin di bayar oleh APBN.  

Dalam audiesi dengan Wamen ESDM, CEO ThorCon di damping oleh Ketua Pokja ESDM KEIN, Zulnahar Usman dan Dr Hanxin yang, Chief Scientist Ocean Nuclear, sebuah perusaahaan pembiayaan proyek PLTN  yang dalam press releasenya menyampaikan telah menyiapkan US$5 Milyar untuk membiayai berbagai proyek PLTN di dunia.

dokpri
dokpri
Dr Hanxin yang memiliki pengalaman lebih dari 35 tahun dalam industri Nuklir  di China dan Inggris yang juga menjadi konsultan regulator Nuklir di kedua negara tersebut, mengatakan kepada Wamen ESDM bahwa desain ThorCon adalah desain reaktor terbaik yang pernah ia lihat dan sangat cocok untuk Indonesia karena biaya produksi listrik yang sangat murah , bahkan lebih murah dari batubara dengan tingkat keselamatan yang tinggi sehingga kejadian seperti Fukushima tidak mungkin terjadi pada desain ThorCon. Hal ini juga di sampaikan secara tertulis kepada Wamen ESDM yang di tembuskan ke BAPETEN, KEIN, SETKAB dan DPD RI dan surat tersebut di tutup dengan kata-kata : 

Therefore we highly recommend that Indonesia Government should consider the Thorcon proposal seriously and not let this excellent opportunity slip away and taken by other countries.

ThorCon merupakan teknologi yang dapat menjadi disruption pada sektor Nuklir, komentar yang di sampaikan oleh Dr Tanju Sofu, Direktur Program Argonne National Lab kepada Zulnahar Usman ketika delegasi KEIN berkunjung ke Laboratorium Nuklir di AS pada November 2017.

Dr Jan Bartak, direktur program Nuklir Engie, perusahaan IPP terbesar di dunia ketika bertemu dengan penulis pada awal Maret 2018, mengatakan bahwa ThorCon akan merubah peta industri Nuklir Dunia sehingga Engie menempatkan ThorCon dalam daftar 3 reaktor yang sedang di kaji secara serius dari total 30 reaktor yang telah mereka review selama satu tahun belakangan ini.  

dokpri
dokpri
Zulnahar Usman berpendapat desain ThorCon yang di bangun di atas tongkang sepanjang 170 meter dengan lebar 60 meter sangat cocok untuk Indonesia yang negara kepulauan karena dapat di tempatkan di dermaga atau di tengah laut dengan kedalaman maksimal 10 meter.

Bahkan Ketua DPD RI, Oesman Sapta setelah menyimak paparan ThorCon mengatakan proposal ini merupakan salah satu kunci untuk Indonesia menjadi bangsa besar dan berjanji akan menyampaikan kepada Presiden.

dokpri
dokpri

Proposal ThorCon ini akan menciptakan sebuah Industri Nuklir Nasional kelas dunia dengan kemampuan export, maka bukan saja seluruh kebutuhan pasokan listrik Indonesia terpenuhi dan menekan tarif listrik menjadi murah tetapi menempatkan Indonesia menjadi negara terdepan dan termaju dalam teknologi Nuklir  --Dunia akan melihat Indonesia sebagai kiblat teknologi nuklir generasi IV.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2