Bob S. Effendi
Bob S. Effendi wiraswasta

Konsultan Energi, Pengurus KADIN dan Pokja ESDM KEIN

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Thorium : Sebuah Revolusi Energi

10 Juli 2015   22:20 Diperbarui: 7 November 2016   00:30 86778 19 14

Bayangkan bola dalam genggaman tangan seperti gambar di atas dapat memberikan listrik untuk rumah anda selama 100 tahun lebih atau sebesar bola basket dapat mengaliri Listrik sebuah Kota selama setahun  --  Ini semua bukanlah bagian dari fantasi sebuah film Hollywood tetapi akan menjadi kenyataan dalam 10 - 15 tahun lagi. 

Bahan bakar yang kami maksud adalah Thorium yang memilki densitas energi terpadat sehingga 1 ton Thorium yang hanya sebesar bola basket dapat menjadi bahan bakar pembangkit listrik berdaya 1000 MW selama 1 tahun. Bandingkan dengan uranium yang membutuhkan 200 ton atau batubara yang membutuhkan 3,5 juta ton. - dan yang lebih menggembirakan bahwa indonesia memilki Cadangan Thorium untuk 1000 tahun. --  Bahan bakar dalam reaksi fisi sesungguhnya adalah Elemen Bahan Nuklir (Nuclear Fuel) karena tidak ada yang di bakar dalam reaksi nuklir.

Revolusi energi berikutnya adalah Thorium Energy, sebuah sumber energi yang bersih, menghasilkan limbah nuklir yang sangat kecil, tidak dapat di persenjatai, tidak mengeluarkan emisi apapun dan karena densitas energi yang sangat tinggi maka energi yang dihasilkan sangat murah.

Thorium akan mengakhiri pengunaan bahan bakar berbasis fosil seperti minyak dan batubara selamanya karena di masa depan kendaraan, kapal laut bahkan pesawat terbang dapat memakai Thorium sebagai bahan bakar.

DR. Carla Rubbia, pemenang hadiah Nobel Fisika dan Direktur CERN,lembaga Riset Nuklir Eropa mengatakan dalam Konprensi Thorium Internasional 2013 :

"there is more than 4500 times more energy available to us in Thorium than there is in all the fossil resources combined, that ought to make Thorium Energy sustainable.." (Carla Rubbia).

"Ada lebih dari 4500 kali lebih banyak energi yang terkandung dalam Thorium daripada seluruh sumberdaya energi fossil di gabungkan, yang membuat Energi Thorium berkelanjutan.. "(Carla Rubbia)

Menurut Rubbia cadangan Thorium di Bumi cukup untuk memberikan kebutuhan energi dunia selama 20.000 tahun kedepan...bukan main-main ini adalah pernyataan seorang peraih hadiah Nobel.

Berakhir sudah tarif listrik PLN yang setiap tahun naik terus, karena tarif listrik dapat turun lebih dari 30% dan tidak akan naik selama anda hidup.

Ini semua bukan fantasi tapi akan menjadi kenyataan dalam waktu kurang dari 10 tahun dari sekarang.

Apakah Thorium ?

Thorium adalah sebuah unsur dengan no atom 90 yang mempunyai sifat radioaktif yang dapat dipakai sebagai bahan bakar reaktor nuklir. Karena Thorium bukan bahan  fisile maka untuk menggunakan Thorium harus memakai Uranium tetapi ini hanya untuk awal memicu reaksi karena setelah itu Thorium yang disebut bahan fertile (subur) dapat membelah dan menghasilkan Uranium 233 atau dapat dilakukan penembakan dengan Neutron sehingga Thorium membelah. --  untuk yang ingin lebih detail membaca tentang siklus Thorium sebagai bahan bakar Nuklir silahkan membaca dokumen IAEA (Thorium Fuel Cycle - Potential annd Chalengges)

Tidak seperti Uranium yang terbilang langka, Thorium terdapat dalam jumlah cukup banyak di dalam bumi di banding emas, perak, dan timah hampir di setiap negara di dunia terdapat Thorium. Di Indonesia, Thorium dapat di temukan di Bangka Belitung sebagai ikutan timah dan menurut Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) ada sekitar 121.500 ton cadangan Thorium di Babel (hanya Babel belum seluruh Indonesia) yang dapat memberikan daya 121 Gigawatt selama 1000 tahun (saat ini total produksi listrik Indonesia masih di bawah 40 Gigawatt). – Bicara tentang kemandirian energi dan ketahanan energi inilah jawabannya bukan batubara yang akan habis dalam 20 tahun atau gas yang akan habis dalam 38 tahun.

Sejarah Thorium dan Molten Salt Reactor

Hampir semua bahan bakar PLTN di dunia adalah Uranium dalam bentuk padat dengan pendingin air atau yang disebut Light Water Reactor (LWR) yang memiliki 3 variant yang disebut : Pressurised Water Reactor (PWR), Boiling Water Reactor (BWR) dan Super Critical Water Reactor (SCWR) – PWR dan BWR adalah yang terbanyak di pakai di dunia.

Sejak awal penelitian Nuklir selalu di danai oleh militer, sejak Manhattan Project yang menciptakan bom atom Hiroshima-Nagasaki, karenakan kebutuhan untuk menciptakan bom nuklir yang lebih dahsyat dan unsur terpenting adalah Plutonium yang tidak di dapat di alam hanya didapat melalui proses fisi nuklir -- Banyak yang menduga bahwa sesungguhnya reaktor LWR hanyalah sebuah pabrik plutonium terselubung. Sebagai contoh 1000 MW reaktor PWR menghasilkan sekitar 230 kg/tahun Plutonium yang cukup untuk membuat 30 bom atom skala Hiroshima -- Sementara dengan Thorium masalah ini sama sekali tidak ada, artinya Thorium sangat sulit di jadikan senjata atom atau yang disebut anti proliferasi.

 

Adalah Dr Alvin Weinberg, salah satu anggota Manhattan Project yang mengusulkan mempergunakan Thorium sebagai bahan bakar reaktor daya sipil (PLTN) yang memiliki efisiensi lebih dari 90% dibanding uranium yang hanya dibawah 3% ditambah reaksi fisi thorium tidak menghasilkan Plutonium sehingga lebih aman tetapi ternyata hal ini justru yang tidak membuat Thorium menarik bagi pihak militer yang masih membiayai riset nuklir saat itu sehingga penelitian Thorium di hentikan pada tahun 1969.

Pada saat itu, Weinberger telah menciptakan sebuah reaktor khusus sipil dengan tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi yang sangat berbeda dengan LWR yang sesungguhnya di ciptakan oleh Weinberg juga tetapi di desain untuk kepentingan Militer khususnya Kapal Selam (USS Nautilius). Reaktor baru ini disebut Molten Salt Reactor(MSR) karena mempergunakan pendingin garam cair dan bahan bakar cair yang sangat cocok untuk thorium dan sebelum akhirnya di tutup telah beroperasi di Oak Ridge National Laboratory selama 20,000 jam tanpa masalah. 

 

Sejak itu berkakhirlah pamor Thorium/MSR sampai tidak pernah lagi ada pembahasan MSR dalam dunia fisika nuklir, bahkan sampai sekarang MSR tidak pernah di ajarkan di Fakultas Tehnik Nuklir di Dunia. sampai kejadian setelah Fukushima pada tahun 2011 para ahli nuklir mulai mengkaji ulang desain reaktor pendingin air dan berbahan bakar padat. Pemikiran untuk memakai bahan bakar cair mulai muncul kembali dan tentunya salah satu yang sudah terbukti adalah MSR.

Jadi yang harus di pertegas adalah Revolusi Energi yang di maksud adalah ketika Thorium dipakai sebagai bahan bakar cair untuk Molten Salt Reaktor -- bukan reaktor jenis lainnya. Secara implisit pengertian Thorium Energy adalah dengan pemanfaatan Reaktr jenis Molten Salt dan selanjutkan akan kami tulis TMSR -- Variant MSR yang dikembangkan saat ini di sebut juga LFTR(Liquid Flouride Thorium Reactor).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5