Mohon tunggu...
Nani Kusmiyati
Nani Kusmiyati Mohon Tunggu... Guru - English teacher, Trainer, Writer and Woman Navy

I love teaching, writing and reading

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Mencintai Diri Sendiri

1 Oktober 2022   12:51 Diperbarui: 1 Oktober 2022   12:54 159 14 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
pexels-karolina-grabowska-6632940

MENCINTAI DIRI SENDIRI 

Mencintai diri sendiri bukan berarti egois ya namun lebih kepada perduli kepada diri sendiri. Kadang tanpa sadar, kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME  lupa dengan raga dan jiwa sebagai pemberianNya untuk senantiasa dirawat dan dijaga. Ketika kita merasa sehat kita selalu bekerja dan bekerja dengan sedikit istirahat. Lupa bahwa tubuh kita bukanlah mesin yang jika rusak cukup dibelikan onderdil baru kemudian diperbaiki. Dan jika tidak dapat diperbaiki lanjut dibuang atau dijual murah bak rongsokan.  

Tubuh kita memang buatan Tuhan yang tentunya harus di rawat dan dijaga. Jika salah satu alarm dalam tubuh kita memberikan sinyal berarti ada sesuatu yang harus diperhatikan. Sinyal itu dapat berarti bagus atau buruk. Jika sinyal bagus seperti rasa segar ditubuh sehingga kita bisa bergiat dengan aktif dan semangat tidaklah menjadi masalah. Namun jika sinyal itu seperti rasa kesemutan, tubuh meriyang, kepala pening maka sinyal-sinyal itu perlu diperhatikan. Pasti sesuatu tidak beres dengan tubuh kita. Adakalanya sinyal itu mereda tatkala cukup dengan istirahat dan makan makananan yang bergizi. Adakalanya mesti diperiksakan ke dokter agar mendapatkan obat yang tepat.    

Sebenarnya setiap orang sadar tentang hal itu, demikian juga dengan saya. Namun kadang kita tidak memperdulikan sinyal-sinyal itu karena kita merasa hal itu sudah sering terjadi dan cukup diobati sendiri. Ternyata dalam kasus tertentu yang tampaknya biasa dapat menjadi luar biasa. Hal ini pernah saya alami ketika saya merasakan kembung seperti banyak gas di perut. Saya pikir hanya sakit magh biasa dan cukup mengunyah obat magh dan langsung sembuh. Namun ternyata gejala itu sering berulang datangnya hingga saya tidak tahan lagi dan dibawa ke rumah sakit. 

Setelah melalui beberapa tahapan pemeriksaan dan USG ternyata di perut saya terdapat batu empedu yang sudah cukup besar dan harus di operasi. Langsung saja saya merasa shock. Karena selama hidup saya, namanya operasi tidak pernah terpikirkan sama sekali. Dan saya harus menjalani operasi dan tidak masuk kerja selama satu bulan. Hingga sudah hampir delapan bulan ini rasa tidak nyaman akibat operasi terkadang muncul. Alhamdulillah Tuhan masih memberikan kehidupan lebih panjang untuk saya.  

Lagi-lagi saya lupa ketika kerjaan mulai antri di depan mata. Rasanya ingin segera diselesaikan semua. Makan mulai tidak pilih-pilih, demikian juga mulai minum kopi sehari dua gelas bahkan tiga gelas. Yang terpenting otak ini bisa fokus untuk diajak bekerja. Hingga akhirnya mengikuti berbagai kegiatan di kantor juga lembur menyambut kedatangan siswa manca negara. Kemudian harus menghadiri jamuan makan malam dalam rangka perayaan Angkatan Bersenjata negara sahabat dan sampai di rumah tengah malam. Keesokan harinya kembali ke kantor, demikian seterusnya hingga suatu saat badan mulai mengeluarkan sinyal kelelahan. Mata dan kaki terasa panas, namun telapak tangan dingin. Akhirnya tubuh saya benar-benar ambruk dan tidak ada napsu makan dari sore hingga pagi hari namun hanya bisa minum madu dan air mineral saja.  

Pagi hari itu saya langsung diinfus untuk mendapatkan tambahan cairan dan mineral. Tubuh sedikit ada energi dan saya mulai mengevaluasi bahwa saya tidak mengindahkan sinyal di tubuh saya ketika sudah mulai berteriak untuk istirahat. Hal ini bukan karena saya tidak mau berhenti bekerja namun lebih kepada rasa tanggungjawab terhadap pekerjaan.  

Ketika sakit, saya merasa sungguh teramat berharganya kesehatan bagi saya. Dan sehat itu mahal karena sekali infus dengan cairan neurobion serta obat lambung harus mengeluarkan dana empat ratus ribu rupiah. Karena anak saya juga sakit yang sama maka saya sudah mengeluarkan biaya dalam satu hari sebesar satu juta rupiah. Bagi saya, biaya pengobatan itu sangat mahal namun karena saya ingin sehat maka saya harus rela mengeluarkan dana dari tabungan saya.  

Saya merasa bersyukur kepada Allah SWT karena telah mengingatkan saya agar mencintai tubuh saya dan saya harus menjaganya. Sekali-kali melepaskan pikiran tentang pekerjaan dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Lebih banyak berdoa dan mengevaluasi diri serta banyak isirahat. 

Nah, semoga para pembaca juga dapat mengambil hikmah dari pengalaman saya. Maka cintailah dirimu jika ingin mendampingi keluargamu lebih lama.

 

Jonggol, 1 Oktober 2022

 NANI KUSMIYATI

 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan