Mohon tunggu...
Michael Binyo
Michael Binyo Mohon Tunggu...

Bagian kecil dari sebuah bangsa besar, yakni Bangsa Indonesia dengan kebhinnekaannya. Jurnalis junior di sebuah media online. Hobbi menulis, nonton film drama komedi situasi, membaca kisah nyata yang inspiratif, dan keliling mencari tempat-tempat menyenangkan di tengah hiruk-pikuknya ibukota. Kurang menyukai orang yang memiliki sifat 'aneh' dalam berteman. Membuka diri untuk dikritik, diberi masukan, dan diberi pengarahan positif mengenai. Mengidolakan kepribadian serta pemikiran Pak Harto, Gus Dur, John Lennon, Nelson Mandela, dan Mahmud Madaul (orang pertama yang memberi wawasan menulis). Cinta keluarga, loyal, dan tidak suka nongkrong berlebihan. Akhir perkenalan, semoga tulisan-tulisan ini berguna bagi siapapun yang membacanya. Menjadi inspirasi, membuka wawasan baru, dan yang terutama adalah membuat setiap orang Indonesia yang membacanya semakin mencintai Bangsa Indonesia serta semakin bangga terlahir sebagai Bangsa Indonesia. Regards, Binyo

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Renyah Pagi di Sudirman dengan Kue Lekker

14 April 2016   22:09 Diperbarui: 14 April 2016   22:17 400 1 1 Mohon Tunggu...

Jakarta --- Warisan budaya memang sangat unik dan menarik untuk dipelajari oleh kita semua, namun warisan kuliner sepertinya tidak kalah menarik untuk diketahui dan tentunya dinikmati.

Contohnya adalah Kue Lekker yang biasanya dapat ditemui di sudut kawasan perkantoran gedung pencakar langit jalan jenderal sudirman jakarta. Berbekal gerobak sepeda yang bersih dan mengkilat berwarna merah dan putih, Bapak Munaseh dengan sabar dan telaten membuat Kue Lekker sambil melayani pembeli.

[caption caption="Munaseh penjual kue Lekker"][/caption]Pria asal Brebes ini berbagi sedikit cerita tentang Kue Lekker. Kuliner ini berasal dari Bahasa Belanda yaitu 'lekker' yang artinya lezat/enak. Dengan bahan sederhana seperti tepung terigu, telur, gula, sagon, dan air matang, maka adonan kue lekker ini diracik menjadi sangat renyah oleh Munaseh.

"dulu di Solo, orang-orang Belanda suka sekali makan kue ini, menurut saya lebih mirip kue serabi tapi pinggiran kue dibuat renyah. Nah, di Brebes kue ini kami buat dengan konsep renyah saja tanpa harus ada bagian tengah kue yang empuk layaknya kue serabi solo," jelas Munaseh kepada cendananews.

Membuat kue lekker memerlukan sedikit keahlian dan kesabaran. Dengan bermodalkan dua buah panggangan martabak ukuran kecil, ditambah mesin pemutar gulali yang dioperasikan dengan kaki (bisa juga dengan batere accu) maka kue lekker dapat menjadi sangat renyah. Tungku api ada tepat di bawah wadah panggangan martabak, dan dengan terus memutar wadah tersebut Munaseh menaruh adonan kue perlahan-lahan.

[caption caption="Proses pembuatan kue lekker"]

[/caption]Setelah terbentuk kering dan renyah, maka tinggal ditambah topping berupa coklat meses atau keju. Namun kedua topping tersebut dapat dicampur yang otomatis berpengaruh di harga jual kue lekker. Sehingga nantinya ada tiga pilihan rasa, yaitu coklat, keju, dan coklat keju.

"lekker isi coklat atau keju hanya saya jual seharga Rp,1.500,- saja namun kalau rasa coklat-keju maka menjadi Rp.2,000,-, murah-meriah-renyah," tutur Munaseh sambil tidak pernah lupa selalu mengumbar senyuman.

Sangat luar biasa bagi Munaseh, karena lewat dagangannya ini, ia sudah dua kali dipanggil ke stasiun televisi nasional di Jakarta. Dan hal ini menurut Munaseh sangat menambah popularitas dagangannya yang otomatis menaikkan omset penjualan.

[caption caption="Gerobak kue Lekker milik Munaseh"]

[/caption]"lumayan, saya bisa memperbaharui gerobak sekaligus menambah modal usaha. Namun yang pasti usaha saya ini bukan sembarangan karena merupakan warisan leluhur bangsa kita. Orang Belanda bisa doyan dengan masakan indonesia kenapa orang indonesia harus makan makanan import?" pungkasnya.

Kue Lekker yang renyah, dan segelas kopi hitam atau teh manis kiranya semakin menambah renyah suasana pagi Jalan Jenderal Sudirman setiap harinya.

 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x