Mohon tunggu...
Agustinus Purwanto (Mas Pung)
Agustinus Purwanto (Mas Pung) Mohon Tunggu... Penyuluh Agama Katolik, Pengajar K3S KAJ, Kepala Sekolah

pemberi rekoleksi, retret, katekis, email: bimabela@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

SMA Cinta Kasih Tzu Chi: Budayakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang Humanis

23 Juli 2019   15:18 Diperbarui: 23 Juli 2019   15:36 0 0 0 Mohon Tunggu...
SMA Cinta Kasih Tzu Chi: Budayakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah yang Humanis
Peserta MPLS rapi dan indah | dokpri

Miris dan sedih rasanya ketika mendengar ada siswa meninggal dunia diduga akibat kekerasan yang dialami di sekolah pada saat mengikuti MPLS atau MOS. Sebagai orang tua saya bisa merasakan betapa pedih, sakit hati, marah dan "gak bisa menerima" kehilangan anak terlebih lagi akibat dari proses yang disebut "proses pendidikan" di lembaga yang berlabel "sekolah". 

Sebagai seorang guru, saya pun tidak habis pikir mengapa hal seperti ini masih saja terjadi. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau Masa Orientansi Sekolah yang sesungguhnya "hanya" sebagai tahap pengenalan yang seharusnya mambangun kesan "membanggakan" justru sering menjadi masa yang menakutkan bagi anak-anak baru. 

Apapun karakteristik sekolah, entah itu semi militer ataupun umum. Praktek MPLS seharusnya taat berpedoman pada ketentuan yang ada. Pedoman MPLS adalah Permendikbud Tahun 2016 Nomor 18 yang kemudian diturunkan kedalam Juknis/Pedoman MPLS/MOS tahun 2019/2020. Salah satu tujuan MPLS adalah menumbuhkan perilaku positif, untuk mewujudkan siswa yang memiliki nilai integritas, etos kerja, dan semangat gotong royong

Peristiwa kekerasan yang terjadi dilingkungan sekolah pada saat MPLS jelas bertolak belakang dengan tujuan MPLS itu sendiri. Terjadi kontradiksi secara inheren. Kontrakdiksi seperti ini akan terus hidup dalam proses selanjutnya. Sesungguhnya apa yang terjadi dan dilakukan selama MPLS menjadi cerminan proses pendidikan yang akan berlangsung di sekolah tersebut.

Mengenal Sejarah Masyarakat Kali Angke, Awal Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi | dokpri
Mengenal Sejarah Masyarakat Kali Angke, Awal Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi | dokpri
Menyadari betapa pentinnya MPLS sebagai tahap sosialisasi dan inisiasi siswa baru, SMA Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng mendisain kegiatan itu sebagai pengenalan budaya humanis sekolah. Sejak hari pertama sampai hari terakhir kegiatan yang dilaksanakan berbasis pada budaya humanis. 

Para siswa tidak lagi mengenakan atribut yang bertentangan dengan budaya humanis. Sebaliknya, para siswa diarahkan, dituntun dan dibimbing cara berpakaian yang mencerminkan budaya humanis. Tidak hanya cara berpakaian, cara berjalan, cara berdiri dan cara duduk pun dilatih agar mencerminkan budaya humanis. Berjalan seperti angin, berdiri seperti cemara dan duduk seperti lonceng.

Agar budaya humanis menjadi perhatian pokok bagi para sisswa dan terus dihidupi dalam hidup keseharian, mereka kami ajak melihat, dan merasakan sejarah Cinta Kasih Tzu Chi yang dibawa oleh Master Cheng Yen ke bumi nusantara. Tujuannya agar para siswa terinspirasi dan terpesona dengan apa yang dilakukan Master Cheng Yen, yang membaktikan hidupnya untuk membantu orang-orang yang menderita. Man/Woman for others dipelajari dan direfleksikan dalam bentuk kegiatan menapaki jalan welas asih yang dilakukan Master.

Napak Tilas Perjalanan Cinta Kasih Shih Cheng Yen | dokpri
Napak Tilas Perjalanan Cinta Kasih Shih Cheng Yen | dokpri
Kami menyadari setiap siswa adalah insan yang mulia. Mereka harus diarahkan berjalan dijalan yang benar. Tentu arahan ini dilaksanakan dengan cara yang benar, penuh kelembutan dan kesabaran. Mengingat nasihat Master Cheng Yen, "Berilah anak-anak sebuah lingkungan yang baik dan berilah mereka arahan agar berjalan di jalan kehidupan yang tepat", kami melaksanakan MPLS dengan penuh kehormatan kepada para siswa baru. 

Segala bentuk kekerasan baik itu fisik maupun verbal, baik itu asksesoris maupun retoris yang bertentangan dengan budaya humanis jelas kami tolak. Kami mencintai kehidupan dan pendidikan, pengembangan dan kehormatan setiap insan.  

Karena itu kami melaksanakan MPLS berbasis pada budaya humanis. Semoga melalui pendidikan yang humanis di sekolah, para siswa bisa menjadi agent of change dalam masyarakat sehingga keharmonisan makin kuat menjadi cita-cita dan gerakan bersama. Semua itu dimulai dari sekolah. (Purwanto-kepsek SMA Cinta Kasih Tzu Chi)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x