Mohon tunggu...
Bill Wong
Bill Wong Mohon Tunggu...

Penulis amatir yang ingin menulis sebanyak-banyaknya tentang Taneh Karo di Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Petisi Online: Mejuah-juah sebagai Salam Khas Medan

8 Mei 2014   09:00 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:44 0 2 2 Mohon Tunggu...
Petisi Online: Mejuah-juah sebagai Salam Khas Medan
13994890082074769533

[caption id="attachment_306426" align="aligncenter" width="576" caption="Pakaian Adat Suku Karo (Sorasirulo.com)"][/caption] Suku Karo adalah salah satu Suku Bangsa di Indonesia yang mendiami beberapa daerah di Provinsi Sumatera Utara.

Selama ini Karo kerap diidentikkan sebagai bagian dari suku Batak (Batak Karo), sehingga keberadaannya telah terisolasi dari pengetahuan umum masyarakat Indonesia. Ketika Suku Karo dibilang sebagai Batak Karo, sehingga yang terkenal dan dikenal adalah Bataknya, sementara Karonya tak pernah ada yang mengenal. Bahkan ada juga rumor atau pendapat umum bahwa orang Karo adalah Batak yang baik. Artinya, Bataknya yang baik tapi Karonya tetap saja tak ada yang tahu.

Seiring dengan pembatakan Suku Karo yang telah berlangsung sejak lama, banyak kalangan di Indonesia di luar Sumatera Utara salah kaprah ketika membicarakan daerah ini, khususnya Kota Medan. Banyak orang Indonesia di luar Sumut menganggap bila setiap orang yang mengaku berasal dari Medan adalah pasti Suku Batak. Dengan demikian ikon kota Medan juga terkenal dengan salam Horas, yaitu sapaan khas orang Batak.

Selain perbedaan dalam adat istiadat, Suku Karo dan Suku Batak memiliki perbedaan dari segi bahasa. Begitupula dari segi salam khasnya, bila orang Batak memiliki salam Horas, maka orang Karo memiliki salam khas, yaitu Mejuah-juah.

Kota Medan adalah kota terbesar di Indonesia diluar Pulau Jawa. Menurut hasil penelitian dan perhitungan yang dilakukan para Peneliti Hari Jadi Kota Medan (Panitia Penyusun Sejarah Kota Medan yang terbentuk berdasarkan SK Walikota Medan 28 Oktober 1971), seperti yang diuraikan oleh Dada Meuraxa dalam bukunya “Sejarah Hari Jadinya Kota Medan 1 Juli 1590", pendiri Kota Medan adalah seorang Putra Karo bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

Sebelum mendirikan sebuah kampung bernama Madan yang kemudian berubah bunyi menjadi Medan, Guru Patimpus hidup dan lahir di Aji Jahe; sebuah kampung Karo yang di Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung). Untuk menghormati jasa Guru Patimpus Sembiring Pelawi yang diakui secara resmi sebagai pendiri Kota Medan, beberapa tahun lalu telah didirikan sebuah monumen megah di tengah-tengah Kota Medan dan dinamakan dengan monumen Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Monumen tersebut dapat ditemukan tepat di Jalan S. Parman Ujung, Medan.

Mengingat Medan adalah kota yang didirikan oleh Suku Karo, sangatlah janggal bila salam khas yang dikenal di kota ini adalah salam khas Batak, yaitu Horas, sementara Suku Karo sendiri memiliki salam khas tersendiri, yaitu Mejuah-juah.

Perlu diketahui, wilayah Tanah Batak yang secara umum berada di tepian Danau Toba hingga ke Sibolga sangatlah jauh dari Kota Medan. Jarak tempuh antara daerah-daerah yang mencakup Tanah Batak ke Kota Medan minimal membutuhkan 6 jam perjalanan darat.

Dalam rangka mengembalikan jati diri Medan sebagai kota yang didirikan oleh Suku Karo, yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi, maka terkait dengan itu, beberapa warga Karo di media sosial telah menggalang petisi online kepada drs. H. T. Dzulmi Eldin S, MSi selaku pelaksana tugas Wali Kota Medan. Adapun isi dari petisi tersebut adalah mendesak Pemerintah Kota Medan agar menulis sapaan salam khas Suku Karo, yaitu Mejuah-Juah di berbagai tempat strategis, serta sekaligus menjadikan kata Mejuah-juah menjadi sapaan resmi kota ini.

Bagi para pembaca yang juga turut setuju dengan petisi yang digagas oleh warga Karo melalui media sosial tersebut, maka secara lengkap dapat juga mengikuti petisi melalui lamaan berikut https://www.change.org/id/petisi/drs-h-t-dzulmi-eldin-s-m-si-plt-wali-kota-medan-pengusulan-mejuah-juah-sebagai-sapaan-khas-kota-medan

Salam Mejuah-Juah

VIDEO PILIHAN