Mohon tunggu...
Beti.MC
Beti.MC Mohon Tunggu... Menulislah Selayaknya Bertutur, Mengalirlah Energi Kebaikan

Berbagi pengalaman, kesempatan dan cerita sehari-hari.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Merawat Kehidupan Lansia di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

14 April 2021   11:50 Diperbarui: 14 April 2021   12:07 227 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Merawat Kehidupan Lansia di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru
Dok. pribadi

"Kalau mau ketemu Uti, sebelum berangkat rapid dulu ya," pesanku di telepon saat ada saudara yang mau menginap dan berkunjung ke rumah. Kesannya seperti menghalang-halangi ya, orang mau silaturahmi saja kok diberi batasan harus tes.

Pandemi, sudah setahun lewat dunia bergelut dengan situasi ini. Jumlah kasus yang masih perlu diwaspadai membuat upaya penanganan terus dilakukan dan berbagai pencegahan terus diintensifkan, termasuk program vaksinasi yang telah dimulai. Hidup dalam keadaan pandemi ternyata perlu punya strategi untuk bisa tetap survive.

Bayangkan, adanya kebijakan tidak boleh berkumpul dalam jumlah tertentu, tidak bisa bepergian secara bebas, dan penerapan protokol yang ketat membuat pergerakan orang jadi terbatas. Kita yang biasa hidup dengan interaksi langsung dengan orang lain harus beralih menggunakan teknologi agar tetap bisa terhubung. Anak sekolah sudah tak berjumpa dengan teman sebayanya, tak ada permainan yang semarak dilakukan. Semua mendadak berdiam dalam rumah saja. Tagar #dirumah saja sempat marak di awal masa pandemi ini. Semua menyerukan tak ada yang kontak langsung atau melakukan kegiatan di luar rumah. Kami pun melakukan itu, sampai sekarang. Akan tetapi, berangsur-angsur kami melakukan adaptasi agar kehidupan ini tak menjenuhkan. Ya, "adaptasi kebiasaan baru" penting dilakukan agar kehidupan tetap berjalan, pendidikan anak-anak bisa dilanjutkan, tugas-tugas dan pekerjaan kantor bisa diselesaikan, dan yang terpenting, sendi-sendi kehidupan ini sedikit demi sedikit bisa pulih, walau perlahan.

Jika dihitung sejak Maret tahun lalu, ada banyak peristiwa penting yang dilewati tanpa perayaan apa pun. Sebut saja Lebaran, walau kami tidak merayakannya, biasanya momen Lebaran tetap meriah dan suasananya terasa di rumah. Kunjungan dari para saudara dan acara berjumpa dengan keluarga besar sangat dinantikan karena inilah saat hampir semua orang bisa berlibur sejenak dari kesibukannya. Perayaan Paskah dan Natal sudah kami lalui tanpa berjumpa dengan siapa-siapa. Perayaan hari besar telah kami lalui melalui virtual, benar-benar tanpa kunjungan dari siapapun. Ada kunjungan dengan pembatasan yang ketat, di luar pagar sementara komunikasi dengan video call. Perasaanku campur aduk, antara marah, sedih, kecewa, tetapi tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pandemi ini meluluhkan rasa bahagia dan kesenangan berjumpa orang lain. Ingin bertemu, tapi ragu apakah kita dalam keadaan sehat sehingga yakin tidak ada yang membawa virus? Apakah fisik kita cukup sehat, kalaupun ada yang sakit, kita tidak tertular? Ah, pikiran jadi ruwet karena Covid-19 ini.

Hidup bersama lansia membuatku lebih ketat dalam berinteraksi. Sudah banyak kegiatan yang harus diputus agar aku tidak berisiko karena aku tinggal dengan seseorang yang masuk kategori rentan. Pekerjaan dan keseharian harus diubah agar meminimalkan kontak dengan orang luar, termasuk beribadah. kini mengikuti misa secara daring masih jadi pilihan. Uti yang seharusnya terapi setiap minggunya, selama pandemi akhirnya dihentikan karena alasan menjaga kontak. Walhasil, selama setahun tidak ada latihan dan tidak berjumpa orang lain. Semua yang masuk rumah dipastikan bersih dan bermasker. Semua itu dilakukan bukan karena sok-sokan ketat prokes, tetapi bagian dari rasa sayang kami pada beliau supaya jangan tertular penyakit.

Secara fisik, kondisi kita mungkin tidak mengalami keluhan apa pun. Namun, dengan pembatasan interaksi langsung, lama kelamaan berdampak pada sisi psikologis seseorang. Lihat saja, anak-anak yang makin asyik dengan dunia maya karena benar-benar diputus untuk berjumpa dengan teman-temannya. Begitu juga pada lansia yang mengalami kerinduan pada mereka yang mengasihinya, anak-anak, cucu, mantu, dan keluarga lainnya. Rasa ingin berjumpa untuk sekedar menanyakan kabar dan berbagi cerita, mendadak harus cukup dengan sambungan jarak jauh, video call saja.

Beberapa waktu lalu saat aku mengunjungi kerabat yang sudah lansia, terungkap juga rasa rindu Eyang berjumpa dengan sanak saudaranya. Dengan tutur bahasanya yang halus, Eyang menyampaikan keinginan berkunjung ke rumah kami, anak-anak, melihat para cucu, dan bertatap muka. Walaupun suara dan wajah bisa disalurkan melalui teknologi, tetapi perjumpaan fisik itu tak bisa digantikan kepuasannya. Bahkan, walaupun mungkin tak berkata-kata, tersenyum dan sekedar mengelus sesekali jadi ungkapan bahagia yang ingin dirasakan.

Pandemi ini benar-benar memutar pola interaksi, komunikasi, dan kebiasaan kita. Beradaptasi menjadi kunci agar kita bisa tetap menjalin hubungan personal yang hangat. Terus mengedepankan kesehatan dan menjaga kondisi penting dilakukan agar tidak ada yang mengalami sakit karena menempelnya virus ini. Interaksi dengan lansia makin diuji, bisakah kita memberi pemahaman kepada mereka mengapa tak ada perjumpaan langung dan menjaga jarak? Mengapa saat berjumpa tak bisa bertatap wajah tanpa masker? Mereka yang kita jaga fisiknya, juga batinnya. Semoga adaptasi kebisaan baru berinteraksi dengan lansia bisa mengobati kerinduan mereka disapa, ditengok, dan tetap disayangi walau harus menerapkan prokes yang ketat.

Aku pun menerapkan prokes seperti yang dianjurkan pemerintah dan secara konsisten dilakukan.

- Jika harus bepergian untuk bertemu lansia, pastikan diri kita dalam keadaan bersih. Berangkat dari rumah dengan langsung ke lokasi tujuan, tidak mampir dulu ke tempat lain.

- Pastikan mencuci tangan atau mengusap tangan dengan cairan pembersih sebelum kontak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x