Mohon tunggu...
Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog

Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog, Penulis, Peneliti Sejarah Kepanduan, Kolektor Prangko dan Benda Memorabilia Kepanduan, Cosplayer, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Hasil Penelitian: Tidak Ada Orang Indonesia Asli

10 Februari 2017   21:12 Diperbarui: 4 April 2017   17:40 8272
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Para pembicara dan moderator Koentjaraningrat Memorial Lectures XIII-2017. (Foto: BDHS)

Ternyata tidak ada orang Indonesia asli. Hal itu dibahas pada kuliah umum Koentjaraningrat Memorial Lectures (KML)XIII-2017 yang bertajuk “Kemajemukan dan Keadilan”. Acara itu diadakan di Museum Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, pada Kamis, 9 Februari 2017.

Kegiatan yang disebut KML itu merupakan agenda tahunan Forum Kajian Antropologi Indonesia (FKAI). Sejak awal pendiriannya pada 2004, KML diselenggarakan untuk menghormati dan memperingati jasa-jasa Prof. Dr. Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia. Dalam KML kali ini, acara dibuka dengan sekapur sirih oleh Pembina FKAI, Kartini Sjahrir, Ph.D. Ikut memberikan pidato pembuka adalah Teten Masduki, yang sehari-harinya merupakan Kepala Staf Kepresidenan RI.

Sementara pembicara kunci adalah Direktur Jenderal Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Hilmar Fari. Ada pun pemberi materi kuliah adalah Prof. Herawati Sudoyo, Ph.D dari Lembaga Biologi Molekular Eijkman, lalu Yudi Latif, Ph.D. dari Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan Geger Riyanto, MA, dari FKAI. Bertindak sebagai moderator dan sekaligus perumus adalah Iwan M Pirous, MA dari FKAI.

Ketika memberikan kuliah tentang “Asal Usul Keanekaragaman Manusia Indonesia, Prof. Herawati Sudoyo mengemukakan bukti-bukti, baik berupa bukti sejarah maupun melalui riset laboratorium. Dari penelitian DNA, diketahui tidak ada satu pun suku yang ada di Indonesia ini bisa mengklaim sebagai orang Indonesia asli.

Sejak awal manusia masuk ke kawasan yang kini dikenal dengan nama Indonesia, telah terjadi percampuran. Dikatakan oleh Herawati, “Temuan arkeologi menggambarkan bahwa Asia Tenggara mulai dihuni oleh manusia modern sekitar 50-70 ribu tahun yang lalu”. Tentu saja di dalam Asia Tenggara termasuk kawasan Nusantara yang kini kita namakan Indonesia.

Pihaknya juga telah melakukan rekonstruksi dari 50.000 tahun pergerakan populasi manusia Nusantara dalam suatu studi yang melibatkan 70 populasi etnik dari 12 pulau menggunakan penanda DNA. Hasil studi tersebut, kata Herawati, menunjukkan periode hunian awal di kepulauan Nusantara berkisar antara 70-50 ribu tahun lalu.

Setelah menjelaskan panjang lebar hasil studi lengkap dengan bukti-buktinya, Herawati mengatakan bahwa hasil penelitian itu “Juga memperlihatkan bukti-bukti adanya pembauran beberapa lelulur genetik”.

Gambaran tentang kehidupan manusia purba di Indonesia yang disajikan di Museum Nasional Indonesia. (Foto: R. Andi Widjanarko, ISJ)
Gambaran tentang kehidupan manusia purba di Indonesia yang disajikan di Museum Nasional Indonesia. (Foto: R. Andi Widjanarko, ISJ)
Seperti juga sebelumnya telah diungkapkan dalam salah satu berita di KOMPAS.com yang terkait dengan penelitian Herawati Sudoyo, bahwa, “Masyarakat Indonesia saat ini sebenarnya disatukan oleh pencampuran motif genetik Austronesia, Austroasiatik, dan Papua dengan komposisi bervariasi. Belakangan, sebagian populasi mendapat tambahan gen India, Tiongkok, Arab, dan Eropa. Inilah yang membentuk genetika manusia Indonesia” (lengkapnya)

Jadi jelas, studi genetika yang dilakukan Herawati Sudoyo membuktikan bahwa pluralisme adalah fakta tak terbantahkan. Komposisi genetik manusia Indonesia membuktikan adanya tiga fakta penting. Pertama, manusia sudah mendiami kepulauan yang sekarang adalah Indonesia, dari 70 sampai 50 ribu tahun yang lalu. Kedua, adanya gelombang-gelombang migrasi. Ketiga, adanya pembauran genetik dari wilayah Barat ke Timur. “Dalam mengartikan studi sains tersebut, kita tidak dapat lari dari kenyataan bahwa keanekaragaman sudah dimulai dari esensi yang mendasar yaitu komposisi kimia bangsa ini sendiri,” demikian rumusan kuliah yang disampaikan Iwan Pirous di akhir acara. 

Seorang peserta kuliah umum itu sempat bertanya tentang 'orang Indonesia asli' seperti pernah diributkan dan diminta dimasukkan kembali ke dalam Undang-undang Dasar (UUD). Dalam UUD 1945 sebelumnya memang ada disebutkan bahwa Presiden adalah orang Indonesia asli. Namun setelah reformasi, diubah menjadi “Calon Presiden dan calon Wakil Presiden harus seorang warga negara Indonesia sejak kelahirannya...”.

Herawati tidak bersedia menanggapi pertanyaan tersebut karena bukan bidangnya. Tetapi ahli antropologi Prof. Amri Marzali mencoba memberikan penjelasan. Menurutnya, penyebutan 'orang Indonesia asli' itu terkait dengan kedudukan atau kelas warga pada masa kolonial Hindia-Belanda. Saat itu, ada kelas satu yaitu orang Belanda, lalu orang asing, dan kaum bumiputera yang disebut dengan inlander menjadi warga kelas tiga. Kemungkinan besar, kata Amri Marzali, kata inlander itulah yang diterjemahkan menjadi orang Indonesia asli dan dimasukkan dalam UUD 1945.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun