Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Penulis dan Pewarta

Pewarta, Pelatih Pembina Pramuka, Arkeolog, Penulis, Peneliti Sejarah Kepanduan, Kolektor Prangko dan Benda Memorabilia Kepanduan, Cosplayer, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Sejarah Artikel Utama

Di Azerbaijan ada Stasiun "28 May", Indonesia Punya Halte "12 Mei"

19 Mei 2018   12:16 Diperbarui: 19 Mei 2018   20:30 2227 2 2
Di Azerbaijan ada Stasiun "28 May", Indonesia Punya Halte "12 Mei"
Halte Transjakarta 12 Mei Reformasi. (Foto: BDHS)

Apakah persamaan kota Baku di Azerbaijan dan Jakarta di Indonesia? Meski berjarak 7777 kilometer, kedua kota itu sama-sama merupakan ibu kota negara. Namun ada persamaan lainnya yang cukup unik, keduanya mempunyai tempat pemberhentian angkutan umum dengan nama suatu tanggal tertentu.

Di Baku ada stasiun metro (kereta) yang diberi nama 28 May, sedangkan di Jakarta ada halte bus TransJakarta yang diberi nama 12 Mei. Dua-duanya dinamakan berdasarkan tanggal bersejarah di negara masing-masing.

Ketika menjadi relawan dalam Konferensi Kepramukaan Sedunia ke-41 di Baku, pada Juli sampai Agustus 2017, saya juga menyempatkan diri beberapa kali menggunakan metro di Stasiun 28 May itu. Di sekitar stasiun itu banyak pertokoan dan pusat perbelanjaan besar. Tetapi yang membuat saya dan teman-teman relawan cukup sering ke sana, karena ada sejumlah restoran yang menunya bervariasi, nikmat rasanya, dan terjangkau harganya.

Para relawan internasional Konferensi Kepramukaan Sedunia ke-41 berfoto bersama di Baku, Azerbaijan. (Foto: WSC2017)
Para relawan internasional Konferensi Kepramukaan Sedunia ke-41 berfoto bersama di Baku, Azerbaijan. (Foto: WSC2017)
Stasiun metro 28 May itu dinamakan sesuai nama jalan besar yang ada di sana. Jalan tersebut dimulai di Bulbul Avenue dan berakhir di Jalan Richard Sorge, sepanjang kurang lebih satu kilometer.

Nama jalan itu sendiri sudah berubah beberapa kali. Awalnya disebut Jalan Telepon pada masa Rusia berbentuk kerajaan (sampai 1917). Pernah pula dinamakan sebagai Romanov Avenue, yang diambil dari nama seorang pengusaha yang "menyulap" kawasan itu menjadi daerah permukiman yang lebih baik. Bahkan pernah pula dinamakan Jalan Lindley, nama seorang berkebangsaan Inggris yang membantu pembangunan infrastruktur di sana.

Selanjutnya, ketika Azerbaijan diinvasi oleh Republik Sosialis Sovyet, jalan itu diubah menjadi Jalan 28 April. Tanggal itu dipilih untuk menandai berdirinya negara Azerbaijan Republik Sosialis Sovyet pada 28 April 1920. Barulah pada 1992, tepatnya nama jalan itu diubah menjadi Jalan 28 May. Tanggal itu dipilih untuk menandai peristiwa penting pada 28 Mei 1918. 

Setelah Kerajaan Rusia jatuh di tahun 1917, sempat tercetus Republik Demokratik Azerbaijan yang didirikan oleh Dewan Nasional Azerbaijan di Tifilis pada 28 Mei 1918. Namun penamaan Jalan 28 May baru dilakukan pada 1992, setelah Republik Sosialis Sovyet bubar dan Azerbaijan memproklamirkan kemerdekaannya pada 1991 serta menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1992.

Peta perjalanan kereta metro di Baku. Salah satu berhenti dan transit di Stasiun Metro 28 May. (Foto: Baku Metro Map)
Peta perjalanan kereta metro di Baku. Salah satu berhenti dan transit di Stasiun Metro 28 May. (Foto: Baku Metro Map)
Begitulah penamaan Stasiun Metro 28 May di Azerbaijan. Lalu, bagaimana dengan nama tempat pemberhentian angkutan umum di Jakarta yang diberi nama 12 Mei? Ini adalah salah satu halte busway atau TransJakarta yang antara lain bisa dikunjungi bila kita menaiki TransJakarta koridor 9A, jurusan Pluit-PGC atau Grogol-PGC. Ada dua halte TransJakarta yang diberi nama ini. Awalnya kedua halte itu bernama Halte Grogol 1 dan Grogol 2, namun sejak 10 November 2013 kedua halte itu diberi nama Halte 12 Mei atau lengkapnya Halte 12 Mei Reformasi.

Peresmian penggunaan nama baru halte TransJakarta itu dilakukan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama. Menurut Ahok, sapaan akrabnya, penggantian nama itu dilakukan tepat pada Hari Pahlawan 10 November untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan Reformasi 1998.

Menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, terjadi demonstrasi besar-besaran seluruh lapisan masyarakat yang menuntut reformasi. Namun demonstrasi itu berubah menjadi malapetaka ketika pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti gugur tekena tembakan aparat keamanan.

Pin peringatan 20 Tahun Tragedi 12 Mei 1998 bergambar wajah keempat mahasiswa Universitas Trisakti yang gugur. (Foto: koleksi pribadi)
Pin peringatan 20 Tahun Tragedi 12 Mei 1998 bergambar wajah keempat mahasiswa Universitas Trisakti yang gugur. (Foto: koleksi pribadi)
Gugurnya empat mahasiswa itu, Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Herry Hartanto, dan Hendrawan Sie, menimbulkan gelombang protes di mana-mana. Mereka ditembaki ketika mereka di dalam kampusnya sendiri. Akhirnya, Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

Untung mengenang keempat mahasiswa itu dan para korban tragedi Mei 1998 lainnya, selain penamaan Halte TransJakarta 12 Mei Reformasi, juga dibangun dua monumen. Satu monumen di tepi Jalan Kyai Tapa yang terletak di luar kampus dan satu lagi di dalam kampus Universitas Trisakti.

Sejumlah peserta pertemuan museum-galeri-monumen se-Jakarta yang diselenggarakan oleh Asosiasi Museum Indonesia "Paramita Jaya" DKI Jakarta, sempat mengunjungi monumen itu. Kebetulan pula, acaranya diadakan di kampus Universitas Trisakti, dan panitia pelaksananya adalah dari Museum Tragedi 12 Mei Trisakti.

Empat anggota Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI) berfoto di monumen tragedi 12 Mei yang terletak di dalam kampus Universitas Trisakti. (Foto: koleksi pribadi)
Empat anggota Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI) berfoto di monumen tragedi 12 Mei yang terletak di dalam kampus Universitas Trisakti. (Foto: koleksi pribadi)
Saat berkunjung ke museum itu, kami melihat lagi foto-foto tragedi mengerikan pada Mei 1998. Setelah 20 tahun berlalu, masihkah gaung Reformasi terdengar saat ini?

Yang pasti soal nama Halte TransJakarta 12 Mei Reformasi itu, tahun lalu sempat terjadi "keramaian" kecil. Ada yang mengungkapkan bahwa nama halte itu dikembalikan lagi menjadi Halte Grogol 1 dan Grogol 2. Ini jelas memicu kegundahan. Namun ternyata hal itu tak benar, sampai 18 Mei 2018 ketika berkunjung ke sana, nama halte itu masih tertulis jelas "Halte 12 Mei Reformasi".