Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Penulis dan Pewarta

Pembina Pramuka, Penulis, Pewarta, Pengumpul Prangko, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Masjid Angke Cerminan "Indonesia Mini"

13 November 2017   15:02 Diperbarui: 13 November 2017   15:24 644 0 0
Masjid Angke Cerminan "Indonesia Mini"
Masjid Angke saat menjelang peresmian pemugaran oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Djarot Saiful Hidayat. (Foto: Lingwa)


Meski pun telah dikunjungi dan diresmikan pemugaran Masjid Angke oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Djarot Saiful Hidayat, namun aktivitias pemugaran masjid yang bernama lengkap Masjid Jami' Al-Anwar Angke  terus berlangsung.  Pemugaran masjid yang dibangun pada tahun 1761 itu memang bukan yang pertama kali. Terakhir kini pemugaran masjid yang terletak di kawasan Tambora, Jakarta Barat, dilaksanakan oleh Lingkar Warisan Kotatua Jakarta (Lingwa) di bawah pimpinan Prof. Dr. Toeti Heraty N. Roosseno.

Ketika berkunjung pada 10 Oktober 2017, Djarot mengagumi keberadaan masjid yang mencerminkan "Indonesia mini" atau keberadaan beragam suku dan budaya Indonesia dalam bentuk mini. Hal itu disebabkan pekerjaan pembangunan dan arsitekturnya menggambarkan perpaduan berbagai unsur budaya dari beragam suku bangsa yang ada di Indonesia.  Dari penelitian dan catatan sejarah yang ada, arsitektur masjid itu menggambarkan gabungan perpaduan gaya bangunan Eropa, Moor , Bali, sampai Tiongkok.

Perbaikan profil tembok atas pintu masuk samping Masjid Angke. (Foto: Lingwa)
Perbaikan profil tembok atas pintu masuk samping Masjid Angke. (Foto: Lingwa)

Pekerja yang membangun masjid itu juga berasal dari beragam suku bangsa.  Konon, pendirinya adalah Tan Nio, seorang perempuan Tionghoa kaya yang menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid tersebut. Sementara arsiteknya disebut-sebut Syaikh Liong Tan, dan para pekerja yang membangun masjid itu berasal dari orang-orang asal Bali, Makassar, Banten, Madura, dan Betawi.

Itulah sebabnya Lingwa, sebagai perkumpulan non-profit dan non-politik yang merupakan wadah untuk membantu pelestarian dan pengembangan Kotatua Jakarta dan tempat bersejarah lainnya di Jakarta, menaruh perhatian pada keberadaan Masjid Angke. Pemugarannya sendiri dilakukan dengan biaya swadaya dari para anggota Lingwa, yang dibantuk donatur para sahabat Lingwa.

Perbaikan profil tiang pojok Masjid Angke. (Foto: Lingwa)
Perbaikan profil tiang pojok Masjid Angke. (Foto: Lingwa)

Saat ini, pemugaran dilanjutkan dengan perbaikan profil tembok atas pintu masuk samping serta profil tiang pojok masjid. Sebagaimana dilaporkan M Francisca Setiati, salah satu pengurus Lingwa yang langsung turun tangan membantu mengawasi pemugaran bersama tim dari arsitek pelestari, Yori Antar, yang juga salah satu pengurus Lingwa, bagian-bagian tersebut memang sangat perlu direstorasi.

Upaya lainnya yang dilakukan adalah memperbaiki bagian atas Masjid Angke. Saat ini tengah dilakukan pengerokan list plank atap, pengerokan kuda-kuda, dan sekaligus merapikan genteng masjid tersebut. Bukan hanya itu. Saat ini, pihak Lingwa tengah memperbaiki pula tempat wudhu, yang dilanjutkan dengan pemasangan keramik di tempat tersebut.

Perbaikan tempat wudhu Masjid Angke. (Foto: Lingwa)
Perbaikan tempat wudhu Masjid Angke. (Foto: Lingwa)

Diharapkan Masjid Angke yang telah dipugar bukan saja membantu merawat pelestarian masjid bersejarah tersebut, tetapi juga dapat menjadi daya tarik wisata religi. Di luar itu yang tak kalah penting, pemugaran itu dapat menjadi bukti sejarah bahwa sejak dulu Indonesia umumnya dan Jakarta khususnya telah menjadi tempat bagi berbagai suku dan bangsa, yang bersama-sama membangun kota ini menjadi seperti sekarang.