Mohon tunggu...
Berry Salam
Berry Salam Mohon Tunggu... penulis

meluruskan dan mencerahkan

Selanjutnya

Tutup

Politik

Apa-apa Salah SBY, tapi Rakyat Tahu Mana yang Benar

10 Februari 2019   18:00 Diperbarui: 10 Februari 2019   18:38 0 1 1 Mohon Tunggu...
Apa-apa Salah SBY, tapi Rakyat Tahu Mana yang Benar
www.goriau.com

Ada-ada aja ulah pemerintah ataupun 'tim suporter' pemerintah. Jika ada sesuatu yang baik yang diwariskan pemerintah sebelumnya, buru-buru diklaim seakan kebaikan itu baru terjadi saat pemerintahan hari ini. Namun, jika ada yang salah dilakukan pemerintah hari ini, secepat kilat juga mereka cuci tangan dan mengatakan kesalahan ini tidak akan terjadi jika pemerintah sebelumnya lebih hati-hati.

Apakah politik cuci tangan ataukah tukang sulap, tidak tahu pula apa kata yang paling pas untuk dikatakan.

Contohnya sejumlah infrastruktur yang dicanangkan dan telah dijalankan sebelum pemerintahan hari ini. Ketika infrastruktur itu selesai, berbondonglah para 'suporter' tadi mengatakan ini adalah keberhasilan pemerintah hari ini. Bodohnya lagi, ada kepala daerah dengan 'sengak' mengatakan, jika tidak mendukung pemerintah hari ini, jangan gunakan fasilitas yang telah dibangun tersebut.

Meminjam istilah Rocky Gerung, ini adalah 'kedunguan' yang absolute. Sejatinya, pembangunan infrastruktur dilaksanakan dengan menggunakan uang rakyat, bukan uang pribadi pemerintah hari ini. Jadi, jika rakyat dilarang menikmati fasilitas yang dibangun dari uangnya, maka dengan terang-terang pemerintah telah mengambil sikap berlawanan dengan rakyat.

Ada lagi contoh pembangunan infrastruktur pemerintah yang dinilai kurang terlalu berdampak positif. Misalkan kereta LRT Palembang yang konon katanya lebih besar pasak dari pada tiang. Biaya operasionalnya tiga kali lipat dari pendapatan yang diterima.

Dengan sigap pula para 'suporter'pemerintah menyalahkan pemerintah sebelumnya. Berbagai tudingan pun dilayangkan. Ada yang bilang pembangunan yang hanya 'dilanjutkan' pemerintah hari ini tidak dipikirkan dengan matang oleh pemerintah sebelumnya. Lagi-lagi, seolah-olah pemerintah hari seakan seperti 'manusia dewa' kalau meminjam istilah Iwan Fals.

Tapi bagaimana pun kilah, manuver, dan cuci tangan 'suporter' pemerintah hari ini, rakyat sudah cukup cerdas menilai. Buktinya sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI keenam masih tetap dicintai rakyat Indonesia. Dari beberapa lembaga survei mengatakan, tingkat kesukaan masyarakat kepada SBY lebih tinggi daripada tokoh nasional lainnya.

Kedatangan SBY ke daerah-daerah, yang telah dilakoninya sebelum ia menjadi Presiden tetap disambut antusias masyarakat. Sosoknya yang beribawa, hangat, dan penuh kasih selalu ditunggu-tunggu oleh rakyat. Belum lagi sentuhan 'magis' SBY selama sepuluh tahun menjabat dianggap mampu mengangkat harkat dan martabat rakyat Indonesia.

Sepuluh tahun SBY menjabat, ekonomi stabil, keamanan terjaga, politik kondusif, dan kondisi sosial pun jauh dari kata gaduh. Ada letupan demonstrasi disana-sini tapi tidak membuat perpecahan antar anak bangsa. Semua berjalan sesuai kehendak reformasi.

Sepuluh tahun kepemimpinan SBY, masyarakat telah dididik oleh pemahaman demokrasi yang benar. Katakan yang benar itu benar, katakan yang salah itu salah. Tidak menjadi koalisi yang kalap mata, dan tidak pula menjadi oposisi yang membabi buta. Itu lah jalan demokrat.

Meskipun kini SBY tidak lagi menjadi calon presiden, tapi ia selalu memikirkan nasib bangsa ini kedepan. Melalui Partai Demokrat atau caleg-caleg Partai Demokrat, SBY menitipkan 14 Prioritas yang nantinya akan diperjuangkan melalui legislatif. 14 Prioritas Partai Demokrat bukan untuk kepentingan partai, jauh lebih besar, untuk kepentingan rakyat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.