Bernard T. Wahyu Wiryanta
Bernard T. Wahyu Wiryanta profesional

Wildlife & Travel Photo Journalist www.wildlifeindonesia.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama featured

Inilah Penyebab Harga Cabai Melambung

16 Juli 2010   05:36 Diperbarui: 6 Januari 2017   16:32 1878 6 17
Inilah Penyebab Harga Cabai Melambung
Seorang petani cabai memanen cabainya di desa Panjalu, Tasikmalaya, Jawa Barat (Foto: Bernard T. W. W)

Dalam rubrik bisnis dan keuangan Kompas.com, hari Jumat 16 Juli 2010, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, Subagyo, mengakui, cabai keriting mengalami kenaikan yang paling ekstrim. Dia mengatakan, penyebabnya adalah ketidakpastian iklim. --Bernard T. Wahyu Wiryanta *

Padahal di iklim yang pasti pun, cabai merah tetap saja hoby melonjak. Terutama pada saat musim hujan. Pada kondisi iklim yang pasti, tetap saja ada musim panas dan musim hujan. Dan di sentra cabai di Pulau Jawa, seperti di pesisir pantai utara sejak dari Indramayu sampai Tegal, petani cabai setia menanam cabai merah, kapanpun, dan di musim apapun. Juga di sentra cabai di daerah dataran tinggi seperti di Tasikmalaya, Sukabumi dan di seputaran puncak, Bogor di Jawa Barat. Jadi ketidakpastian iklim yang dijadikan kambing hitam dalam kasus melambungnya harga cabai ini menurut saya sangat salah. Yang jadi penyebab sebenarnya adalah masalah teknis budidaya yang harus segera dibenahi. Solusi pemerintah kemudian menurut Subagyo adalah akan mengadakan operasi pasar untuk masyarakat ekonomi bawah.

Cabai merupakan komoditas asal Amerika. Tepatnya dari sekitar Bolivia. Selanjutnya pada kisaran tahun 1492 ketika Cristhopher Columbus mendarat di Pantai San Salvador dengan tujuan awal mencari pulau rempah-rempah (bukan mencari dunia baru), dan menemukan banyak tanaman cabai dipakai masyarakat Indian diapun membawa beberapa genggam biji cabai pulang ke Italia. Sejak saat itu cabai kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Di Indonesia cabai digunakan hampir oleh seluruh masyarakat sebagai bumbu. Terutama untuk memberi rasa pedas pada masakan. Sebelum ada cabai, masyarakat Nusantara banyak memakai rempah-rempah untuk menimbulkajn rasa pedas. Uniknya kandungan capsaicin dalam cabai bisa menimbulkan nafsu makan. Hingga sebagian masyarakat banyak yang emoh makan tanpa sambel. Sebagai tanaman sayuran yang banyak dibutuhkan masyarakat, cabai ditanam di seluruh pelosok nusantara. Sejak dari pinggir pantai sampai lereng gunung. Tanaman ini merupakan tanaman sayuran buah semusim. Biasanya pada umur 3 bulan sejak semai sudah siap dipanen.

Musuh utama tanaman cabai adalah cendawan dan bakteri serta virus. Cendawan biasanya banyak menyerang tanaman cabai di daerah dataran tinggi yang lembab, terutama pada musim hujan. Sedangkan bakteri hoby menyerang tanaman cabai di daerah dataran rendah yang panas dan lembab. Sedangkan virus, seperti TMV (tobacco mozaic virus) bisa menyerang di daerah dataran tinggi maupun daerah dataran rendah. Virus biasanya terbawa dalam benih cabai. Cendawan yang hoby menyerang cabai adalah Fusarium. Gejalanya tanaman menjadi layu kemudian mati dan buah cabai menjadi busuk berair. Serangan ini bisa mengakibatkan gagal panen dan petani bangkrut. Sedangkan bakteri yang sering menyerang adalah bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejalanya hampir mirip serangan fusarium. Juga akibatnya. Kedua serangan ini, baik fusarium maupun pseudomonas biasanya akan menghebat pada saat musim hujan. Mereka gampang sekali berkembang biak pada musim ini.

Namun sebenarnya dengan teknis budidaya yang intensif, dimulai sejak pengolahan lahan, pemilihan benih yang berkualitas, pemupukan, pemakaian mulsa plastik hitam perak, pemberian ajir, penentuan jarak tanam, perempelan tunas air, pemupukan susulan, dan sanitasi kebun yang baik, kedua serangan ini bisa diminimalisir. Hanya saja belum banyak petani yang menerapkan intesifikasi ini. Terutama petani di daerah pantai utara Pulau Jawa. Mereka masih mengandalkan pola dan cara tanam yang diwariskan secara turun temurun. Di Daerah Brebes dan Tegal, berdasarkan pengamatan saya, jarak tanam cabai relatif terlalu rapat, dan dalam satu lubang penanaman bisa diisi sampai 4 tanaman cabai. Akibatnya kelembaban mikro kebun menjadi tinggi dan mengundang cendawan dan bakteri. Di musim hujan, serangan menjadi sangat hebat dan penularannya cepat. Hingga sekali terserang akan meluas dan mengakibatkan puluhan hektar gagal panen. Hal ini diperparah lagi dengan drainase yang jelek.

Namun sebaliknya di daerah dataran tinggi pola dan cara tanamnya umumnya relatif lebih intensif, Mereka mulai menerapkan pengolahan lahan yang benar, juga pemakaian mulsa plastik serta melakukan pemupukan intensif. Namun perempelan tunas muda masih jarang dilakukan hingga kelembabannya masih belum bisa diminimalisir. Hingga cendawan masih berpotensi menyerang. Jika curah hujan tinggi, maka sistem penanaman yang belum instensif seperti ini berpotensi gagal panen karena berbagai macam penyakit.

Inilah yang sebenarnya menyebabkan gagal panen dan harga cabai melambung tiap musim hujan. Dan operasi pasar hanya akan menurunkan harga sesaat saja. Dan jika akan melakukan operasi pasar pun, darimana pasokan cabai nya jika petani mengalami gagal panen? Yang harus dilakukan sebenarnya adalah mengubah pola dan cara tanam dari cara konvensional menjadi pola dan cara tanam yang intensif. Juga pemilihan benih yang bebas penyakit.

Sebab saya dapati beberapa produsen, terutama produsen benih asal Taiwan masih saja mengirim benih cabai yang masih mengandung virus. Dengan intensifikasi pertanian-yang harus segera diterapkan dengan bantuan pemerintah-maka menanam cabai di musim hujan tidak menjadi kendala lagi. Jika harga cabai saat ini saja sudah mencapai Rp 40.000,- per kg, bagaimana harga bulan depan yang diperkirakan masih turun hujan lebat dan memasuki bulan Ramadhan? 

*Petani, Pengamat Agribisnis, Anggota Dewan Pengurus Forum Kerjasama Agribisnis

Penulis buku "Bertanam Cabai Pada Musim Hujan" AgroMedia Pustaka-Jakarta