Mohon tunggu...
Berman Sitompul
Berman Sitompul Mohon Tunggu... Wiraswasta - ParBalata

Que serà serà

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Penantian Panjang

27 November 2021   00:17 Diperbarui: 27 November 2021   00:20 115 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Rasa lelah telah menghentikan langkahku menelusuri kota ini, karenanya aku memilih duduk sendirian menikmati kilauan percikan air yang memantulkan cahaya jingga senja di sepanjang sungai Seine sambil mendengar alunan musik seniman jalanan negeri romantisme ini.

Pont des Arts, jembatan yang tidak seberapa jauh dari tempatku duduk, dihiasi ribuan gembok cinta, mengingatkan aku tentang dirimu, seakan disinilah aku berhenti dalam penantian panjangku untuk melihatmu kembali.

"C'est votre commande", demikian waiter cafe ini menyuguhkan bagiku anggur pesananku dalam kalimat yang aku hanya menebak-nebak artinya, ... "D'accord ... merci ..!", sambil tersenyum aku menjawab dalam bahasa Prancis yang hanya sepatah dua kata saja aku tau. Anggur ini sengaja aku pesan untuk mengingatkanku akan anggur kesukaanmu dicafe persimpangan jalan kota dinegeri kecil yang dulu sering kita kunjungi. Ach .... andai saja kau ada disini duduk denganku, mungkin itu akan membuat hati ini bahagia.

Tiba-tiba bayang masa lalu kita datang dibenakku yang kemudian membawaku pada sadar bahwa aku masih saja mengunjungi hatiku yang ribuan hari menantikan datangmu kembali.

Meski hujan siang tadi telah usai, aku tetap saja tak mampu mengalihkan cerita tentangnya, padahal senja telah tiba untuk menjemput malam. Terus terang sampai saat ini aku belum dapat menjawab untuk apa dan mengapa aku masih saja menunggumu ? Namun pertanyaan itu telah menuntunku untuk lebih memaknai arti rasa didalamnya meski tidak pernah tersampaikan untuk menemukanmu seperti dulu pertama kali kita bertemu, tetapi setidaknya aku telah belajar dari setiap perbedaan untuk memahamimu. Aku belajar dari hujan yang turun siang tadi dan belajar untuk memahami hanya pada dirimu saja, dan tidak akan kubagi pada siapapun sampai kelak aku kembali pada-Nya.

Meski hati berkeping membayangkannya, tetapi tidak menyulutkan rindu padamu, tidak pula aku membencimu karena aku tak ingin luka ini semakin membuat jarak diantara kita. Aku tidak ingin melakukan petualangan untuk mencari penggantimu, itulah sebabnya aku tak pernah menganggapmu pergi, bagiku kau hanya singgah sejenak ditempat lain untuk melepaskan jenuhmu terhadap segala kekurangan dan ketidak sempurnaanku, yang mungkin tidak seperti yang kau harapkan.

Mungkin kau tidak pernah tau, bahwa hingga saat ini aku telah mempertaruhkan ribuan hari dalam hidupku untuk menantikanmu kembali, padahal bisa saja aku menemukan jiwa lain yang dapat membahagiakanku selainmu. Aku berani mengambil risiko ini meskipun harus disebut bodoh, bukan karena aku takut membayangkan bagaimana aku hidup tanpamu, tetapi entah mengapa sampai saat ini aku masih saja bertaruh pada takdirku tentangmu.

"Kembalilah pada dirimu sendiri, dia tak akan datang menemuimu lagi. Jangan sia-siakan waktu mu untuk menunggunya ....
Apa yang kau harapkan dari seorang yang hanya datang berkunjung tanpa berkeinginan untuk tetap setia tinggal disampingmu ? bukankah genangan air diujung matamu telah tumpah melihatnya pergi berlalu ..??" tiba-tiba seakan ada bisikan terdengar samar ditelingaku.

"Aku hanya merindukannya ...!!" Demikian hatiku berbisik, sambil kuhela nafas lirihku menahan air mata yang terasa hampir menggenangi mataku.

"Untuk apa kau mempertaruhkan takdirmu untuknya dan tidakkah kau letih harus menempuh perjalananmu sejauh ini ..? Padahal kau sudah dapati dia berlalu jauh ..? Apapun yang kau rasakan tentangnya, simpan saja dihatimu sebagai kenangan yang sudah berlalu, tutup pintu hatimu untuknya dan lupakan, tidak perlulah kau memberi nama dalam memori hatimu hanya untuk mengharapkannya kembali.. !!" bisikan itu kembali datang berucap ditelingaku

"Apakah aku salah bila menantikannya kembali ..?" Begitu hatiku kembali bertanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan