Mohon tunggu...
Martha Weda
Martha Weda Mohon Tunggu... Freelancer - Mamanya si Ganteng πŸ₯°

*Narasumber dalam acara KATA NETIZEN Kompas TV 12 Juni 2021. *Exclusive Writer dalam program Narativ Kompasiana bersama Bimbingan Belajar Sinotif.

Selanjutnya

Tutup

Parenting Artikel Utama

4 Cara Mengajarkan dan Membiasakan Anak Jalan Kaki

24 November 2022   11:15 Diperbarui: 24 November 2022   17:26 699 55 17
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi jalan kaki| Dok MaxPixel's contributors via bobo.grid.id

"Mama, capeeek," ini kalimat yang sering dkeluhkan anak saya, si ganteng saat TK dulu. Saat di mana saya sering mengajaknya jalan kaki sepulang dari sekolah.

Berbekal payung di tangan kanan untuk melindungi kami berdua dari sengatan panas matahari, tangan kiri saya menggandeng erat tangan kecilnya.

Jarak perjalanan yang kami tempuh cukup jauh untuk ukuran anak TK, lebih kurang 0,5 km. Dimulai dari depan kampus UPN Veteran Pondok Labu, melewati kompleks perumahan perwira TNI AL, memotong jalan lewat gang sempit, menyusuri perkampungan, sekolah, bengkel, berbagai toko kelontong, barulah tiba di rumah kami.

Namun, saya tidak kehilangan akal. Sebelum memulai jalan kaki, terkadang saya akan mengajaknya singgah di Alfamart depan kampus UPN. Menyogoknya dengan sekotak susu UHT atau sebatang cokelat kesukaannya.

Kemudian, sepanjang perjalanan saya akan mengajaknya bercerita tentang kegiatannya selama di sekolah. Dengan cara ini, si ganteng biasanya akan melupakan rasa capeknya hingga tiba di rumah.

Saya sebenarnya kasihan padanya. Ingin saya gendong, tapi si ganteng sudah terlalu gendut saat itu, tidak kuat lagi saya menggendongnya.

Rumah kami memang terletak jauh dari jalan raya. Hingga setelah turun dari kendaraan umum, mau tidak mau harus berjalan kaki menuju rumah. Ada beberapa akses jalan ke rumah kami, tetapi semuanya sama-sama jauh, tetap harus jalan kaki dari jalan raya.

Sewaktu SMA dulu, setiap pulang sekolah, saya dan sebagian besar teman-teman juga harus berjalan kaki dari gerbang sekolah menuju tempat pemberhentian angkutan umum. Kebetulan lingkungan di sekitar sekolah kami adalah kawasan bebas kendaraan umum. Jarak yang harus kami tempuh jauh juga, lebih dari 0,5 km.

Dengan kondisi perut lapar, haus, panas matahari menyengat, kami tetap harus mengayunkan langkah mengejar angkot. Penderitaan kadang bertambah lengkap ketika angkot yang ditunggu tak kunjung tiba.Β 

Begitu pula ketika saya kuliah, ke mana-mana harus berjalan kaki, terutama dari tempat kos ke kampus dan sebaliknya. Lagipula kala itu uang kiriman orangtua tidak banyak, jadi harus dihemat-hemat setiap bulannya. Bila jaraknya memungkinkan untuk jalan kaki, ya mahasiswa di kampus kami kala itu umumnya akan berjalan kaki.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan