Mohon tunggu...
Bergman Siahaan
Bergman Siahaan Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Penyuka seni dan olah raga tetapi belajar kebijakan publik di Victoria University of Wellington, Selandia Baru.

Penikmat tulisan, foto, dan video

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Situs Film Ilegal dalam Perspektif Penonton Budiman

23 Desember 2019   10:36 Diperbarui: 26 Desember 2019   07:27 1844
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Streaming tidak membunuh sinema. CEO Motion Picture Association of America (MPAA), Charles Rivkin, mengumpamakannya seperti semua orang punya dapur tetapi tetap saja pergi makan di luar.

Sensasinya beda, kualitasnya beda dan perbedaan waktunya signifikan. Sesungguhnya streaming seperti Netflix maupun Youtube hanya mengambil alih konsumen televisi konvensional alias terestrial.

Fakta yang lebih menarik lagi adalah bahwa di tengah-tengah praktik online streaming ilegal yang kerap diburu pemerintah itu, Indonesia merupakan pengakses Netflix terbanyak di dunia. Jumlah penonton Netflix via ponsel Indonesia dua kali lipat lebih banyak dari negara lain (Media Indonesia, 24 Agustus 2019).

Seperti air yang mengalir
Kebutuhan dan keleluasaan memperoleh informasi di era digital sekarang semakin tidak terbendung lagi. Seperti air yang mengalir, ia akan terus mencari celah-celah yang bisa dilalui demi tersalurnya tekanan yang ada. 

Kadangkala tidak selalu ada saluran yang terbangun "resmi" seperti selokan dan gorong-gorong. Maka air pun meluber membentuk tali-tali air, bahkan menggenangi jalanan. Air yang dibendung maka tekanannya semakin besar.

Kekayaan intelektual produsen harusnya dipandang seimbang dengan kekayaan informasi konsumen. Apakah orang harus membeli DVD (jika pun ada) dengan harga mahal untuk ditonton sekali?

Di luar negeri memang tidak ada pasar DVD bajakan tetapi DVD original bekas banyak diperjual-belikan dengan harga sangat murah. Di Australia dan New Zealand misalnya, hanya berkisar 2-3 dollar. 

DVD-DVD ini berputar terus karena dihibahkan dan dijual kembali di tengah-tengah masyarakat, toh pajak pembelian dan royaltinya juga hanya dibayar sekali saat pertama kali dijual dulu.

Sisi ekonomi kreatif juga perlu dipertimbangkan. Berapa banyak creator yang inspirasinya semakin kaya dengan segala informasi yang diperoleh dengan murah dari internet?

Argumen ini bukanlah ramuan mujarab atau mantera sihir. Perlu kajian lebih lanjut untuk membuatnya valid dan implikatif. 

Artikel ini hanya suara berisik dari penonton budiman yang mendukung hadirnya layanan film lengkap dengan harga wajar dan distempel "legal".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun